................. "Saya tahu kamu belum tidur Ana, bangun!" Ana membuka mata mencoba mendudukan diri. Mengambil jarak sejauh-jauhnya dari pria itu. Nafas berat pria itu semakin terasa dekat. Mata sayu pria itu, suara seraknya, meski tak bisa melihat wajah karena gelap, masih bisa Ana rasakan. Sudah cukup untuk membuat Ana paham apa yang mungkin akan terjadi malam ini. Ana ingin beringsut menjauh, tapi tubuhnya kaku—tertahan di antara rasa takut dan pasrah. Dalam diam, hanya degup jantungnya sendiri yang terdengar paling keras, seolah memohon agar malam ini tidak kembali berubah menjadi mimpi buruk yang sama. Suara gesper yang dibuka dengan kasar membawa pupus harapan Ana, seluruh tubuh Ana semakin bergetar hebat. Tangannya spontan memeluk tubuhnya sendiri erat-erat, berusaha melindungi diri semampunya. “S-saya nggak mau...” suara Ana pecah, serak, penuh tangis yang sejak tadi tertahan. Tubuhnya mundur, punggungnya menempel ke kepala ranjang, napasnya memburu cepat.
Last Updated : 2025-12-09 Read more