Selamat membaca!“Kamu banyak diam akhir-akhir ini, kenapa?”Suara Opa Malik terdengar serak, menembus hening ruang keluarga.Oma Ratih menggeleng pelan. Jemarinya meremas ujung selendang yang menutupi bahunya. Di usia setua ini, keinginannya tak muluk—hanya ingin menimang cicit dari satu-satunya cucu kesayangan, Adrian. Tapi harapan itu rasanya makin jauh.“Kenapa diam, Atih? Apa yang kamu pikirkan? ” ulang Opa, memanggil istrinya dengan panggilan sayang yang sudah puluhan tahun melekat. Suaranya pelan, tapi tegas.Ratih menoleh, napasnya berat. “Aku cuma kepikiran Adrian, Mas… Kasihan anak itu. Dari kecil dididik keras… harus jadi pemimpin yang teguh, harus jaga nama baik keluarga di atas segalanya, nggak boleh gagal. Ian kecil itu sudah kesulitan karena tekanan kita, Mas.”Ia jeda. Menahan air mata yang menggenang. “Padahal gagal itu manusiawi, Mas. Tapi kita justru anggap itu dosa. Kalau saja Putra kita nggak meninggal… mungkin Adrian nggak akan sesulit ini. Mungkin ada yang bantu
Last Updated : 2025-11-30 Read more