LOGINKarena kalah dalam permainan iseng bersama sahabatnya, Jeffreyan Wicaksana — pewaris sekaligus CEO muda Wicaksana Group — terpaksa menerima "hadiah kekalahan" yang tak biasa: satu malam bersama Raisa Andrianna, karyawannya sendiri yang dikenal cupu, pendiam, dan tak punya teman. Awalnya Ana hanya datang ke pesta untuk merayakan kenaikan jabatan sang atasan. Tapi nasib membawanya ke malam penuh luka yang tak pernah ia bayangkan. Malam itu mengubah segalanya. Menghancurkan masa depan dan kesucian yang selama ini dia jaga. Yang lebih mengejutkan, malam kelam itu bukan akhir dari segalanya. Setelahnya, hidup Ana berubah jadi neraka. Jeffreyan, si CEO kejam, mulai menekan, menyiksa, dan mempermainkan emosinya — membuat Ana trauma dan kehilangan arah. Tapi anehnya, pria itu juga tak membiarkan Ana lepas dari genggamannya. Apa yang sebenarnya Jeffreyan inginkan dari Ann? Mampukah Ana bertahan menghadapi kegilaan sang CEO? Atau... justru jebakan ini akan mengikat mereka dalam takdir yang tak terduga? Temukan jawabannya dalam HASRAT DAN GAIRAH MEMBARA CEO KEJAM — kisah cinta yang gelap, penuh tekanan, tapi sulit dilepaskan.
View MoreRok pensil yang ia kenakan membuat garis pinggulnya terlihat tegas, sementara blazer hitam dan kemeja putih yang terkancing rapi tersebut justru menonjolkan lekuk halus tubuh Raisa Andriana yang tengah berdiri di dekat pintu masuk.
Mungkin hanya dirinya yang datang ke kelab dengan menggunakan pakaian kerjanya yang membosankan seperti ini. Alih-alih pengunjung, dirinya lebih cocok menjadi pelayan yang berdiri di tiap sudut ruangan.
Suasana club dengan suara musik yang memekakkan telinga serta bau asap rokok yang pekat sesekali membuat Anna terbatuk-batuk. Dari sekian banyak tempat yang ada di dunia kenapa pesta keberhasilan proyek timnya harus diadakan di kelab?
"Entah apa bagusnya tempat ini,” gumam Ana lirih. Tidak menyadari bahwa ada beberapa pasang mata yang tengah mengamatinya sejak ia tiba tadi.
"Wah! Ini dia primadona kita malam ini!” teriak Pak Rudy, atasan Ana, saat melihat gadis itu datang. “Selamat datang, Ana! Ayo, kemarilah. Mari kita senang-senang!”
Ana tersenyum kikuk dan membetulkan letak kacamatanya.
“Terima kasih, Pak Rudy,” ucap Ana lirih. Sebelum bisa berucap lebih jauh, Ana sudah ditarik untuk duduk di sebelah Pak Rudy.
Bagi Rudy, Ana adalah jembatan menuju kesuksesan yang ia peroleh. Gadis polos itu selalu saja memunculkan ide-ide brilian. Selama Rudy memastikan Ana tetap berada dalam tim proyeknya, ia akan terus mendapatkan promosi hingga ia mencapai puncak nantinya. Jadi wajar dia menjuluki Ana sebagai anak emasnya.
Lagi pula baginya, meski pintar dan penuh ide, Ana mudah dibodohi. Apalagi dengan kekuasaan Rudy, gadis itu begitu mudah dimanipulasi.
“Ayo minum!” Seseorang menyodorkan minuman pada Ana.
“Maaf, aku tidak minum alkohol,” tolak Ana dengan sopan.
"Yang ini jus Ana, tidak megandung alkohol,” balas Revan, salah satu rekan kerja Ana sembari menyodorkan segelas minuman. “Minumlah.”
Ana yang merasa sungkan dan tidak enak menolak akhirnya hanya menerima dengan senyuman canggung. Ia menghargai Revan. Pria itu adalah satu-satunya orang yang baik padanya dalam tim.
Meski diagung-agungkan oleh Pak Rudy, kebanyakan teman-teman setimnya tidak memperlakukannya dengan sama. Mungkin iri, mungkin juga karena tidak suka pada Ana. Mereka selalu memasang muka penuh hinaan tiap kali Pak Rudy selaku ketua tim memujinya. Banyak juga yang mengatai Ana sok polos, terlalu baik, bahkan cenderung bodoh.
Hal itu jelas membuat Ana tidak nyaman. Apalagi saat mereka ada di tempat yang sama seperti ini, di luar kerjaan.
Dirinya ingin pergi, tapi jika ia melakukan itu, maka acara ini akan dibubarkan karena dialah bintang utamanya.
Ana terlihat sungkan dan risih. Belum ada satu jam dia disini dirinya sudah tidak betah
“Ingin menari?”
"Hah?” Ana menoleh pada Revan yang mengajaknya mengobrol. “Ah, tidak! Terima kasih. Maaf aku tidak pandai menari, Revan."
“Baiklah. Tapi aku mulai bosan kalau hanya duduk.”
"Jangan hiraukan aku, Revan, pergilah menari,” ucap Ana. “Aku baik-baik saja di sini.”
“Tidak, Ana. Tempat ini berbahaya apalagi untuk gadis polos sepertimu dibiarkan sendirian.” Revan mengernyit.
Ana tersenyum. “Aku baik baik saja, sungguh!”
“Oke, kalau begitu, tunggu di sini. Jangan menerima ajakan apapun jika tidak kenal.”
Ana tertawa kecil. “Baiklah.”
Ia melambaikan tangannya pada Revan saat itu menatapnya sembari berjalan mundur ke lantai dansa. Ana mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar selama beberapa saat hingga seseorang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Raisa Andriana.”
Ana terkesiap saat menoleh, mendapati asisten pribadi bos besarnya duduk di sampingnya.
“Pak Tama?”
Ana binggung kenapa tiba-tiba sekretaris pimpinan yang hanya berpapasan beberapa kali denganya itu datang menghampiri.
Apakah ada masalah pekerjaan? Harusnya ada hal yang penting, kan?
“Ada apa, Pak?” tanya Ana kemudian.
Namun, Tama tidak menjawab. Pria itu hanya menatap Ana dengan tatapan yang sulit diartikan sebelum menghembuskan napasnya pelan. Karena gugup, Ana memilih untuk meminum jus yang dipesan Revan tadi.
“Ikut dengan saya, Ana.”
Ana seketika menoleh ke arah Tama, “Hah? Ke mana, Pak?”
“Laporan yang dikirim Pak Rudy bermasalah. Ada banyak pemalsuan dalam laporan keuangan dan akan ditindak atas persetujuan pimpinan. Kamu sebagai orang yang bertanggung jawab atas laporan ini. Jadi, ikut dengan saya sekarang, ”
Bagai disambar petir wajah putihnya semakin kehilangan warna, tangannya gemetar.
“L-laporan, Pak?” Ana gelagapan menjawab. “Kenapa bukan Pak Rudy? Kenapa saya?"
Bermasalah.
Apakah korupsi yang selama ini dilakukan oleh atasannya itu akhirnya terbongkar?
Ya, Rudy sudah beberapa kali mengambil dana proyek. Ana bukannya tidak tahu, tapi ia hanya karyawan kecil. Ia tidak punya kuasa untuk mencegah tindakan Rudy ataupun mengadukannya ke atasan karena jika sampai ini terbongkar, Rudy akan memastikan bahwa Ana akan ikut dipecat bersamanya.
Bagaimana bisa dia dipecat? Ayahnya di rumah perlu biaya pengobatan. Ana tidak bisa kehilangan pekerjaan.
Namun … jika sudah seperti ini, bagaimana kalau dia sendiri yang disalahkan, lalu dipecat?
Ya Tuhan bagaimana ini?
***
Kini, Ana berdiri di depan kamar di lantai paling atas sebuah hotel. Tama mengatakan, bos mereka, Jeffyan, menunggu di dalam sana.
Ana akhirnya mengikuti perintah Tama, meski sebenarnya ada terbesit perasaan ragu dan tidak nyaman, namun karyawan sepertinya tidak punya pilihan.
Benaknya penuh rasa takut. Apalagi membayangkan jika dirinya dipecat, Ana tidak sanggup. Ayahnya masih butuh biaya pengobatan yang besar. Belum lagi ibu sambung dan kakak sambungnya pasti akan marah besar jika tidak diberi uang bulanan.
Tok, tok, tok.
"Masuk! " Suara bariton seorang pria menjawab dari dalam.
Ana melangkah pelan di belakang Tama sambil berharap waktu berjalan lebih lambat. Kalau bisa dirinya ingin menghilang detik ini juga-saking takutnya.
Mata yang sudah basah itu tidak sengaja bertemu tatap dengan netra tajam milik laki-laki yang sedang duduk menyilang kaki di single sofa. Ana kesulitan menelan ludah. Tatapan Jeffreyan benar-benar menguliti setiap sisi tubuhnya.
Sadar sudah lancang menatap sang bos, Ana buru-buru menundukan kepala. Tangannya semakin gemetar hanya dengan beradu pandang sesaat. Lalu bagaimana cara dia menjelaskan alasannya?
Berbeda dengan Ana yang diliputi takut dan gelisah, Jeffreyan duduk tenang sambil memperhatikan hadiah kutukannya. Lamat-lamat Jeffreyan menatap dua orang di depannya bergantian sebelum atensinya jatuh pada Ana.
Dengan gerakan tangan Jeffreyan memberi kode agar Tama meninggalkan dirinya dan gadis yang bernama Ana itu.
Setelah Tama pergi suasana terasa mencekam. Ana masih setia berdiri sambil menunduk.
Tatapan Jeffreyan seakan menelanjangi Gadis cupu itu, yang anehnya terlihat terguncang. Entah apa yang asisten nya itu katakan pada gadis itu sampai tubuhnya gemetar dan matanya basah.
Disaat Jeffreyan memindai setiap tubuh Ana dengan pandangan intens, Ana justru sibuk memikirkan bagaiman caranya lepas dari jerat permasalahan yang sedang dia hadapi.
Yang ada dalam pikiran Ana adalah bagaimana agar masalah ini jangan sampai ke polisi dan dirinya tidak di penjara. Dia masih butuh pekerjaan untuk biaya pengobatan papanya.
Tanpa tahu niat sebenarnya dari pertemuan ini.
"Mendekat."
Ana masih terisak. Memeluk perutnya erat. Dia merasakan ada rasa tidak nyaman di bawah perutnya. "Tolong lepaskan saya." Pintanya. Dia tidak sebegitu berharga sampai Jeffreyan menukar perusahaan dengan nyawanya. Meski begitu, Ana masih berharap bekas kasih setidaknya keselamatan nyawa bayinya. "Hidup dan matimu saat ini ada ditangan Tuan Jeffreyan, satu keputusan yang dia ambil akan menjadi pedal kematian atau justru penyelamatan." Jeffreyan menatap Ana. Wanita itu tampak kecil. Rapuh. Tapi sedang membawa bagian dari dirinya. Padahal tidak ada yang sulit dari pilihan yang ditawarkan. Tujuannya membuat Ana menderita, dan mungkin tercapai melalui Davin . Tapi rasanya ada yang mengganjal dihatinya memikirkan bayi itu ikut terseret. Davin menyeringai tipis. “Anda selalu bilang semua orang punya harga.” Ia menatap tajam kearah Jeffreyan. “Sekarang giliran Anda membuktikan… seberapa mahal harga anak anda.” Srettt... "akh... " Ana meringis perih ketika ujung pisau
Gudang itu tidak besar. Bau oli dan besi tua menyengat di udara. Ana tidak tahu persisnya mereka ada dimana. Semalam di nyeri di perutnya teras amat menyiksa sampai Ana hilang kesadaran. Bangun bangun dirinya sudah berada di sini dengan posisi berbaring di sofa usang. Belum sempat sadar sepenuhnya, suara Davin kembali terdengar. "Berdiri." Ana yang tadinya duduk di kursi besi, dipaksa berdiri, lalu tanganya diikat dengan posisi berdiri membelakangi tiang. "Kalau mau adikmu selamat, jangan macam-macam." Peringat Davin. Ana tidak menjawab, mulutnya masih terkunci rapat. Masih shok dengan fakta bahwa ternyata ibu yang dia panggil Buk Sri selama 3 bulan ini nyatanya adalah wanita yang melahirkan nya lalu meninggalkan dia bersama sang Ayah. Dan Pria yang dia kenal sebagai salah seorang tekan bisnis Jeffreyan ini ternyata anak sambung ibunya. Netra Ana berpendar, melihat lebih jelas. Dia tidka tau mendeskripsikan tempat ini. Yang jelas didepanya ada pintu besar. Dan merupa
Tubuh Jelita gemetar. CCTV dengan jelas merekam detik-detik ketika Ana dibawa pergi. Ana terlihat berjalan dengan sukarela tanpa paksaan. Namun, bukan itu yang menjadi fokus Jelita. Melainkan pria yang berjalan di depan Ana. Ana sangat kenal. Dan netranya semakin lebar ketika dengan jelas CCTV area parkir menangkap nomor plat mobil yang membawa Ana pergi. Tubuh Jelita nyaris roboh untuk kedua kalinya kalau saja Maya tidak bersiaga memegang. "Rekaman ini akan kami analisis sebagai barang bukti..." Ucapan seorang pria berseragam aparat negara membuat pikiran Jelita semakin semraut. Meski saat ini para polisi belum tahu siapa sosok pria di video, tapi Jelita paling kenal sosok pria memaki hoody itu. Pria itu Davin. Putra sambungnya dari pernikahan dengan Mas Harun. Tapi kenapa Davin menculik Ana, putra sambungnya menculik putri kandungnya. "Setelah selesai dianalisis selanjutnya nanti ibu akan dimintai keterangan-' "Pak, sepertinya ini bukan kasus penculikan."
“Lihat? Ini dia pria yang dua kali gagal menikah!” Sorakan Rangga menggema di antara denting gelas dan musik jazz yang mengalun pelan. Lampu temaram bar membuat bayangan wajahnya terlihat lebih liar dari biasanya. Jeffreyan tahu ia tak seharusnya menanggapi ocehan pria setengah mabuk itu. Namun kalimat barusan cukup menyentil egonya. “Setidaknya gue nggak menikah setelah viral dipermalukan seorang wanita,” ucapnya pelan, sarkasnya tajam seperti silet. Rangga mendengus. Well, dia kehabisan kata membantah. Jeffreyan memang dua kali gagal bertunangan. Tapi belum pernah sampai ke pelaminan. Belum pernah dipaksa bertanggung jawab seperti dirinya. . “Ah, sialan! Semua orang jadi tahu gadis itu hamil gara-gara mulut bocornya. ” Rangga menjatuhkan tubuhnya di sofa sebelah Jeffreyan. Bukan rahasia lagi. Pernikahan kilat Rangga terjadi karena benihnya sudah lebih dulu bersemayam di perut sekretarisnya-Friska. Lebih dramatis lagi—wanita yang awalnya dipaksa menggugurkan kandungan it
Girsa tidak pulang, mungkin dia menginap lagi di kantornya. Dan Ayura sama sekali tidak keberatan. Tapi masalahnya, mereka baru saja menikah, dan ke absenan Girsa dirumah menjadi bahan gosip untuk para pelayan. Orang-orang itu membicarakan Ayura di belakang, tapi sekali lagi, Ayura sebetulnya tida
“Ana! Ana, bangun!” Guncangan pelan dan tepukan itu membuat tubuh Ana tersentak keras. Ia terbangun dengan napas memburu, dada naik turun cepat seolah baru saja dikejar sesuatu yang menakutkan. Perlahan, matanya mengerjap, pandangannya berpendar memindai sekeliling. Langit-langit kamar yang famili
Lidah Jeffreyan menari dengan liar, mengajak lidah Ana untuk saling membelit dalam pagutan basah yang penuh gairah. Tangan Jeffreyan bergerak liar, berpindah ke bokong Ana yang sintal , meremas nya dengan penuh damba. Perlahan jemari Jeffreyan turun ke menu utama yang menjadi santapannya. Di s
sebelum baca bab ini baca dulu bab 119 yaa. ~~~&&~~~ Seorang suster memperbaiki cairan infus Ana yang sempat balik, setelah selesai dia tersenyum ramah. "kalau mau ke kamar mandi minta ditemani saja ya buk." Ana mengangguk sebelum naik ke ranjang dengan infus yang sudah kembali terpasang di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore