Lorong rumah sakit membentang panjang, seolah menantang kesabaran Akira. Langkahnya pelan, kaki terasa berat, seolah lantai putih itu bisa tiba-tiba ambruk di bawahnya. Matanya sembab, kepala berdengung penuh gema ruang Dewan Etik, tatapan tajam para dosen, dan sosok Arka yang berdiri teguh membelanya. Nama Arka tak lagi sekadar label dosen killer di pikirannya. Kini, nama itu mengikat takut, lega, hangat, dan rasa bersalah dalam satu perasaan yang membingungkan. Ia berhenti di depan mesin minuman, bibirnya bergerak pelan seolah membaca, tapi tak satupun kata itu meresap ke dalam pikirannya. “Kamu belum pulang.” Suara itu lembut namun tegas, muncul dari belakang dengan keakraban yang akrab menusuk. Akira menutup mata sesaat, menenangkan nafas, lalu menoleh perlahan. Arka berdiri beberapa langkah di belakangnya, jas sudah dilepas, kemeja putihnya kusut dan wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya, sebuah kejujuran yang jarang ia tunjukkan. “Saya... mau lihat Azka sebentar,”
Terakhir Diperbarui : 2026-01-05 Baca selengkapnya