Ruang rapat fakultas pagi itu terasa dingin. Bukan dari hembusan AC, melainkan dari ketegangan yang menggantung di udara. Akira duduk kaku di ujung meja panjang, punggungnya lurus dan tangan saling menggenggam di pangkuan, berusaha menahan gejolak di dadanya. Di seberangnya, beberapa dosen senior, dekan, dan staf akademik membuka map tebal berisi laporan, mata mereka tajam meneliti setiap lembar. Dua kursi di dekatnya, Arka duduk diam, wajahnya membatu seperti patung. Tenang di luar, tapi Akira tahu badai emosi mengamuk di balik tatapan itu. “Setelah kami telaah,” suara Pak Dekan pecah di keheningan, “tidak ditemukan pelanggaran etik.” Akira mengembuskan napas panjang, berharap itu sudah akhir semuanya. “Tapi,” lanjut Pak Dekan, suaranya menurunkan harapan itu seketika, “demi menjaga nama baik institusi, kami perlu mengambil sikap resmi.” Arka mengangkat wajah, matanya penuh tantangan. “Silakan, Pak.” “Kalian akan dijauhkan sementara,” ujar Pak Dekan tegas. “
Terakhir Diperbarui : 2025-12-21 Baca selengkapnya