Perjalanan ke mal baru saja dimulai, tapi Akira sudah merasakan gelisah. Ia duduk di kursi depan, posisi yang langsung ia sesali setelah lima menit berlalu. Dari kursi belakang, suara Azka memecah keheningan. “Papa,” suara kecil itu terdengar penuh tanya, “Mama Akira duduknya kok di depan?” Akira spontan menoleh, menahan napas. “Supaya nggak pusing,” jawabnya cepat. Azka mengerutkan dahi, raut wajahnya serius. “Tapi Mama itu harus di belakang. Sama Azka.” Arka menatap spion dengan dingin. “Mama Akira bukan mama kamu,” ucapnya singkat. Azka tak segera menjawab, malah menatap ayahnya dalam-dalam, penuh makna. “Belum,” katanya mantap, tanpa ragu. Akira nyaris tercekik, buru-buru menoleh ke belakang. “Azka,” suaranya terbata, “kata ‘belum’ itu berbahaya.” Azka malah tersenyum polos, seperti sedang mengutip pelajaran dari Oma. “Kata Oma juga gitu.” Arka menarik napas panjang, batuk kecil pecah di udara yang tiba-tiba hening. Akira menunduk, matanya tertuju pada jendela, b
Terakhir Diperbarui : 2026-01-17 Baca selengkapnya