MasukHujan rintik mulai turun sejak sore, tapi tak ada suara gemuruh yang mengiringinya. Tetes-tetes kecil itu jatuh pelan, seperti keraguan yang perlahan menumpuk di dada Arka. Ia berdiri terpaku di depan jendela ruang rawat Azka, matanya menelusuri lampu-lampu kota yang buram tersapu air. Azka sudah tertidur sejak sejam lalu, napasnya teratur, wajahnya terlihat tenang. Tapi justru kedamaian itu yang membuat dada Arka sesak, mengaduk gelisah yang sulit dijinakkan. Ia tahu, waktu untuk menunggu sudah hampir habis. Arka mengambil ponselnya lagi. Pesan terakhir dari Akira masih terpampang di layar, belum terhapus, belum dijawab. “Kalau Bapak sudah punya jawabannya, kita bisa bicara.” Napasnya memburu, jari-jarinya ragu sebelum akhirnya mengetik pesan. Arka: "Aku sudah punya jawabannya. "Boleh aku menemui kamu malam ini?" Ia menatap layar yang tak kunjung berbalas. Satu menit... Dua menit... Lima menit berlalu tanpa kabar. Hampa menggelayut di ruang sunyi itu, bersandin
Pagi menyelinap masuk tanpa menghangatkan ruang kecil itu. Akira berdiri terpaku di depan cermin kosnya, menatap bayangan yang tampak sama, tapi membawa getar asing di dalamnya. Lingkar mata yang mulai gelap dan wajahnya yang pucat membuat senyum yang dulu mudah muncul kini tersimpan rapi, enggan keluar. Rambutnya diikat dengan rapi, hampir terlalu rapi untuk menggambarkan kekacauan yang bergejolak di hatinya. Ia menghela napas dalam-dalam, suara napasnya bergaung di ruangan kecil itu. “Jaga jarak,” gumamnya lirih pada bayangan dirinya. Bukan karena ingin pergi, tapi karena takut berharap sendirian. *** Di rumah sakit, Azka membuka mata perlahan. Senyap, sunyi dari langkah-langkah kecil perawat yang biasa datang lebih dulu pagi-pagi. Tak ada suara riang yang menyebut namanya dengan nada hangat seperti biasanya. Ia memalingkan kepala, menatap pintu seolah mencari sosok yang hilang. “Papa…” suaranya kecil, penuh keraguan. Arka yang tengah menyelidiki berkas di mejanya men
Malam merayap pelan, menyisakan cahaya redup yang terperangkap di lorong sepi rumah sakit. Akira duduk membisu di bangku panjang dekat jendela, pandangannya kosong menatap lampu kota yang berkelap-kelip samar di kejauhan. Hening menyelimuti, seolah menelan semua sisa tenaga setelah hari yang melelahkan. Di kepalanya, bayangan keputusan Dewan Etik terus berputar; kata-kata “sanksi”, “cuti”, tatapan sinis orang-orang yang sulit dilupakan. Dan Arka yang berdiri tegak di sampingnya, tanpa keraguan sedikit pun. Arka yang biasa dingin kini begitu dekat, tapi justru itu membuat dada Akira seperti tertimpa beban berat. Langkah kaki mendekat pelan. Akira enggan menoleh, tapi tahu siapa yang datang. “Kamu belum pulang?” suara Arka keluar pelan, hampir berbisik, seolah takut mengusik kesunyiannya. Akira menggeleng pelan. “Azka baru tidur.” Arka berdiri di sampingnya, tidak duduk, juga tak menyentuh, menjaga jarak dengan sikap yang rapi atau mungkin terlalu hati-hati. “Kamu capek,”
Pagi merayap dengan hawa dingin yang menyusup lebih dalam dari biasanya. Akira berdiri terpaku di depan cermin kamar kosnya, matanya menatap pantulan tubuh yang terlihat lebih kurus, sedikit tenggelam dalam tulang-tulangnya yang makin menonjol dibanding minggu lalu. Matanya tetap memancarkan ketegaran, tapi ada beban berat yang bersarang, rapi tapi tak terucap, membuatnya sulit bernafas lega. Ponselnya bergetar lembut, layar menyala dengan nama Naya. “Udah bangun? Hari ini berat. Tapi kita jalanin bareng.” Napas terdengar serak saat Akira menariknya dalam-dalam sebelum membalas pesan itu, “Iya. Makasih.” Ia menutup ponsel, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, hari ini bukan sembarang hari. *** Di koridor lantai atas rumah sakit, Arka berdiri dengan tangan terlipat di dada, menatap keluar jendela. Langit kelabu di luar tampak suram, membayang layaknya isi pikirannya sendiri yang kacau dan tak menentu. Sebuah suara lirih memecah kesunyian, membuat bahunya otomatis menegang. I
Pagi menyelinap tanpa permisi, cahaya matahari merayap halus lewat celah tirai kamar rawat Azka. Sinar hangat itu jatuh lembut di wajah kecilnya yang kini sedikit lebih berwarna, pipi pucat semalam berubah menjadi merah jambu. Nafasnya teratur, berirama bersama deru mesin di samping ranjang, bunyi pelan yang memberi rasa tenang sekaligus mengingatkan betapa rapuhnya hidup itu. Arka duduk tegak di kursi, jemarinya menggenggam tangan mungil Azka yang hangat. “Kamu tidur nyenyak,” ucapnya pelan, suaranya penuh kasih dan lega. Mata Azka mengerut, lalu terbuka perlahan. “Papa?” suara kecil itu pecah di keheningan. “Iya, Papa di sini,” balas Arka cepat, menahan haru di dada yang terasa sesak. Senyum tipis dari Azka muncul, seakan menyalakan bara hangat di hati Arka yang tiba-tiba mencengkeram kuat di dadanya. “Mama Akira?” tanya Azka lirih, ragu. Arka menelan liur, tak langsung menjawab. “Dia di luar. Lagi nunggu.” Azka mengangguk, tapi suaranya pelan, hampir berbisik, “Jangan
Lorong rumah sakit membentang panjang, seolah menantang kesabaran Akira. Langkahnya pelan, kaki terasa berat, seolah lantai putih itu bisa tiba-tiba ambruk di bawahnya. Matanya sembab, kepala berdengung penuh gema ruang Dewan Etik, tatapan tajam para dosen, dan sosok Arka yang berdiri teguh membelanya. Nama Arka tak lagi sekadar label dosen killer di pikirannya. Kini, nama itu mengikat takut, lega, hangat, dan rasa bersalah dalam satu perasaan yang membingungkan. Ia berhenti di depan mesin minuman, bibirnya bergerak pelan seolah membaca, tapi tak satupun kata itu meresap ke dalam pikirannya. “Kamu belum pulang.” Suara itu lembut namun tegas, muncul dari belakang dengan keakraban yang akrab menusuk. Akira menutup mata sesaat, menenangkan nafas, lalu menoleh perlahan. Arka berdiri beberapa langkah di belakangnya, jas sudah dilepas, kemeja putihnya kusut dan wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya, sebuah kejujuran yang jarang ia tunjukkan. “Saya... mau lihat Azka sebentar,”







