Arka menatap layar ponselnya, napasnya tercekat saat nama ibunya tertera jelas. Bukan pesan biasa yang dia harapkan, “Arka, pulang ya.” Kali ini hanya tertulis singkat, penuh perintah. “Datang ke rumah sekarang.” Nada pesan itu dingin dan tanpa kompromi, seolah menutup ruang untuk alasan apa pun. Baru saja selesai mengoreksi tumpukan tugas mahasiswa, ponselnya kembali bergetar. Pesan selanjutnya muncul, membuat dadanya semakin berat. "Sore ini keluarga Aluna datang. Kita akan makan malam bersama." Arka menutup mata sejenak, menahan desah yang enggan keluar. Udara di ruang kerja mendadak terasa sesak, seperti dinding ikut menekan dan merekam beban di dadanya. Makan malam itu bukan sekadar acara biasa. Arka tahu benar, itu adalah langkah yang sudah lama direncanakan orang tuanya sebuah keputusan yang siap dipaksakan padanya. Pikirannya melayang pada Azka, putranya. Ingatan tentang tawa ceria Azka kemarin, cerita-cerita kecil tentang “Mama Akira”, serta wajah cerah anak itu yang
Terakhir Diperbarui : 2026-01-19 Baca selengkapnya