Azka merengkuh Akira dengan erat, jari-jarinya meremas seolah menahan dunia agar perempuan itu tak menghilang lagi. Napasnya tersendat, suara kecilnya tercekat oleh tangis, “Aku cari Mama... Jalannya jauh, tapi Azka kuat...” Kata-kata polos itu menusuk hati Akira, membuatnya menggenggam lebih dalam, seolah ingin menjahit luka di dada yang tiba-tiba terbuka. “Kamu nggak perlu kuat sendirian,” bisik Akira dengan suara parau, dadanya naik turun dalam pelukan itu. Lutut Azka yang terluka mulai mengeluarkan darah lagi karena gerak-geriknya, tapi ia tak peduli yang terpenting, ia telah menemukan yang selama ini dicari. Dari jarak beberapa langkah, Arka berdiri kaku, matanya memerah, rahangnya bergetar menahan badai emosi yang hampir meledak. Saat Akira mengangkat wajahnya, pandangan mereka bertemu tidak ada amarah, tidak ada tuduhan, hanya ketakutan yang sama-sama menyesakkan. “Maaf,” Arka membuka suara lebih dulu, suaranya serak penuh penyesalan. Akira hanya menggeleng
Terakhir Diperbarui : 2026-02-13 Baca selengkapnya