ANMELDENMalam sudah larut. Lampu kamar diredupkan sampai hanya tersisa cahaya temaram dari lampu tidur yang berdiri setia di sudut ruangan. Azka tertidur pulas, tubuhnya terentang nyaman di tengah ranjang, napasnya pelan dan teratur, sesekali ia menggumam pelan seperti sedang bermimpi. Di ujung ranjang, Akira terbaring membelakangi Arka, matanya terpejam rapat tapi sepertinya pikirannya masih terjaga. Arka menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar, hitungan menit berlalu tanpa perubahan. Ia menghela napas panjang, dada naik turun tak beraturan. Setelah beberapa saat, tanpa suara, ia merapatkan tubuhnya ke belakang Akira dan memeluknya perlahan. “Sayang…” bisiknya lembut, nyaris seperti takut mengusik ketenangan malam. Akira tersentak kecil, lalu menoleh pelan. “Hm?” Arka menempelkan dagunya di bahu Akira, hangat dan penuh kerinduan. “Gimana kalau kita bikin adiknya Azka?” ucapnya lirih, seolah kata-kata itu meluncur dari hati terdalam. Diam. Sunyi yang memenuhi ruan
Malam sudah pekat ketika mereka menginjakkan kaki di lobi hotel. Lampu-lampu hangat menggantung, menari pelan di dinding, seakan mengusir lelah yang terlukis jelas di wajah mereka satu per satu. Diana mengembuskan napas panjang sambil merenggangkan bahunya yang kaku. “Finally...” suaranya lirih, sedikit lega. Pak Surya mengangguk pelan, wajahnya lelah tapi puas. “Lumayan juga acaranya.” Arka hanya menatap sekilas ke arah Akira, matanya menelisik dengan cermat. Perlahan, suaranya mengalir lembut. “Sayang, kamu masih oke?” Akira mengangguk pelan, bibirnya tersenyum tipis walau matanya terlihat berat. “Iya... cuma capek.” Arka membalas senyum itu dengan setengah getir. “Ya, itu berarti nggak oke.” Akira mendengus pelan, matanya menyipit menahan rasa tidak nyaman. “Tapi... masih bisa jalan,” ucapnya setengah memaksa. Tiba-tiba, Azka yang dari tadi diam, meraih tangannya dengan nada buru-buru, “Kamarnya di mana?” Arka membalas dengan suara pendek, “Di atas. Kita naik bar
Langkah Aluna yang menjauh meninggalkan jejak kosong di antara keramaian, namun bayangan sosoknya tetap menempel di pikiran Akira, seolah tak mau pergi. Akira berdiri membeku, matanya tak lepas mengawasi punggung Aluna hingga tubuh itu benar-benar tenggelam di balik lautan manusia. Suasana di sekitarnya terasa hening, seolah waktu ikut berhenti sejenak. “Sayang…” suara Arka terdengar lirih, penuh kekhawatiran yang tak tersembunyi. Akira tetap diam, enggan membalas. Napasnya terhenti sebentar sebelum akhirnya menarik napas panjang, berusaha mengendalikan badai perasaannya yang bergejolak di dalam dada. “Kamu dengar sendiri tadi,” suara Arka berubah menjadi lebih berat, menandakan beban yang terasa semakin dalam. “Dan kamu masih mau anggap ini biasa?” Akira perlahan menoleh, tatapannya bertemu dengan Arka. Matanya tenang, namun menyimpan kedalaman perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ada luka dan penyesalan yang tersembunyi di balik ketenangan itu. “Aku nggak pernah bi
Sore yang perlahan memudar ke senja membawa nuansa hangat dari lampu-lampu temaram yang mulai menyala satu per satu. Cahaya kuning keemasan memeluk ruangan, menciptakan ilusi kehangatan di tengah keramaian yang mulai lengang. Namun di sudut ruangan, Akira berdiri membisu, sosoknya terpisah dari riuh rendah tamu undangan. Tangannya menggenggam gelas kaca bening, namun bibirnya tak pernah menyentuh minuman di dalamnya. Matanya tertuju pada panggung kecil di ujung ruangan, tempat Aluna berdiri dengan anggun. Tatapan Akira sesekali berkelip, penuh perasaan yang sulit diungkapkan antara rindu dan luka yang belum sembuh. Tiba-tiba, sebuah suara lembut memecah keheningan di sampingnya. Arka, dengan sikap santai tapi penuh perhatian, menyentuh bahu Akira. “Masih lihat dia?” tanyanya, nada suaranya ringan tapi penuh arti. Akira tetap diam, membiarkan waktu mengambang di antara mereka. Dalam hening itu, ada pergulatan batin yang sulit dijelaskan. Setelah beberapa detik yang terasa seperti
Kerumunan mulai bergerak dinamis, suara tawa dan obrolan memenuhi udara, menciptakan suasana riuh yang hangat. Orang-orang berlalu-lalang dengan semangat, menikmati momen yang baru saja berlalu dari atas panggung. Namun, bagi Akira, kebisingan itu seolah menjadi latar yang jauh, seperti gelombang yang tidak sampai ke telinganya. Ia duduk dengan tenang di kursi yang disediakan, punggungnya tegak namun bahunya tampak sedikit menurun. Tangan kanannya menggenggam lengan kursi, dingin menyelinap dari ujung jarinya. Wajahnya tetap datar, tanpa ekspresi yang berlebihan, namun ada keheningan yang menyesakkan di balik tatapannya. Di sebelahnya, Arka duduk tanpa suara, dekat sekali. Kehadiran tanpa kata itu malah menjadi penopang yang tak terlihat bagi Akira. Sesekali, Arka menoleh dan menatap mata Akira, memberi isyarat bahwa dia ada, dan dia peduli. “Sayang, kamu oke?” suara Arka lirih, penuh perhatian dan lembut, seolah takut mengganggu kesunyian yang sedang melingkupi Akira. Akira men
Langkah Akira terhenti sejenak di tengah lorong yang remang, napasnya memburu seolah menahan badai dalam dadanya. Matanya menatap ke depan, tapi pikirannya berkecamuk, menguji seberapa kuat ia bisa berdiri di titik ini. Namun hanya sesaat, seolah tarikan waktu itu memberi ruang untuk menata kembali keberanian yang hampir hilang. Setelah menghembuskan napas panjang, tubuhnya kembali bergerak. Langkahnya kini lebih mantap, bahunya tegak, dan dagunya terangkat dengan keyakinan yang baru ditemukan. Aura yang dulu penuh keraguan berubah menjadi ketegasan yang membara, seolah Akira siap menghadapi apa pun yang menanti di ujung jalan. Di sampingnya, Arka yang berjalan serempak segera menangkap perubahan itu. Tatapan matanya bergeser, memperhatikan Akira dengan cermat. Ada kilau berbeda yang terpancar bukan lagi bayangan takut yang biasa menghantui, melainkan sinar kesiapan yang menguatkan. Bisikan pelan Arka memecah keheningan, “Kamu yakin?” Akira tak menoleh, tapi jemarinya yang dingi
Suasana mal tetap ramai, tapi di sudut kecil itu, udara terasa begitu pekat, berat menusuk. Akira berdiri tegak, bahunya kaku menghadapi Aluna yang berdiri di depannya dengan senyum tipis yang tak sampai ke matanya. Naya dan Lintang berjaga beberapa langkah di belakang, mata mereka tajam menata
Dua hari berlalu sejak keluarga Aluna datang, tapi rumah Pak Surya malah jadi riuh tak karuan. Telepon berdering tanpa henti, notifikasi pesan terus berdatangan di layar ponsel. Diana duduk terpaku di sofa, wajahnya berubah pucat saat membaca satu per satu isi pesan yang berisi pertanyaan penuh
Pagi baru saja menyingkap tirai saat Akira mengeringkan rambutnya. Tiba-tiba ponselnya bergetar tanpa henti, membuat jarinya terpaku sejenak. Grup kampus, grup angkatan, DM berdatangan bertubi-tubi. Namanya terus disebut dengan nada yang bukan cuma penasaran. Jantungnya berdegup lebih cepat, tang
Rumah Pak Surya yang biasanya hening di sore hari tiba-tiba berubah tegang. Sebuah mobil hitam berhenti dengan suara keras di depan pagar, mengusik ketenangan itu. Diana yang tengah sibuk menyusun dokumen wisuda Akira menoleh, matanya terpaku ketika bel berbunyi panjang berulang kali, tak hanya s







