Azka tak mau melepaskan pelukannya. Tangannya erat melingkar di leher Akira, kepala kecilnya terselip di bahu perempuan itu. Matanya sembab, napasnya terengah-engah seperti takut jika ia melepas satu detik saja, semua akan sirna. “Azka ikut Mama,” gumamnya serak, suara kecilnya bergetar. “Jangan suruh pulang.” Akira mengusap punggungnya dengan pelan, dada terasa sesak, jantungnya berdebar tak karuan. Anak itu menggigil, mungkin karena dingin, atau karena ketakutan yang merayap, entah apa yang sebenarnya membebani hatinya. “Sayang… kamu basah. Kita harus...” “Azka ikut Mama!” potongnya cepat, hampir panik, seolah kata itu menjadi pegangan satu-satunya di dunia. Arka berdiri di samping mereka, wajahnya menegang. Ia menarik napas panjang, lalu berjongkok supaya sejajar dengan anaknya. “Azka,” suaranya lembut tapi tegas, “Papa di sini.” Anak itu sekilas menoleh, matanya mencari-cari, tapi justru memeluk Akira lebih erat lagi. “Papa pulang sama Oma,” jawab Azka pelan, k
Read more