Home / Rumah Tangga / Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan / 67 - Bayangan di Balik Kebahagiaan

Share

67 - Bayangan di Balik Kebahagiaan

Author: Dualismdiary
last update Last Updated: 2025-08-22 14:49:50

Meira menelan ludah, jari-jarinya tanpa sadar meremas ujung dress yang ia kenakan. Suara detak jantungnya seakan terlalu keras di telinga sendiri. Napasnya berat, seolah ada batu yang menekan dadanya. Meski ia sudah menyiapkan diri sejak berminggu-minggu, tetap saja kenyataan bahwa hari ini adalah sidang pertamanya melawan Octavian membuat seluruh tubuhnya meriang oleh kegelisahan.

“Sidang pertama… sudah dijadwalkan,” ucapnya lirih, nyaris seperti bisikan. Tatapannya kosong, namun ada ketegangan yang jelas di sana.

Hastan yang duduk di sebelahnya, tak membiarkan wajah itu lama-lama kehilangan kendali. Tangannya terulur, mengusap lembut rambut Meira. Sentuhannya penuh keteguhan, hangat, dan memberi rasa aman yang Meira butuhkan.

“Bukankah itu bagus?” suara Hastan rendah namun tegas, seolah ingin menyalurkan sebagian kekuatannya ke dalam jiwa Meira. “Semakin cepat selesai, semakin baik. Agar aku bisa segera melamarmu.”

Kalimat itu membuat Meira tersentak. Senyum hangat Hastan memang men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   97 - Tangan yang Tak Terlihat

    Ruang rapat Medinova sore itu dipenuhi hawa tegang. Suara pendingin ruangan berdengung pelan, tetapi tak cukup untuk menutupi kecemasan yang melingkupi semua orang di meja panjang itu. Meira duduk di ujung, matanya fokus pada layar laptop. Di sampingnya Hansen duduk tegak, wajah dingin, tangan terlipat di dada. Sementara tiga kepala divisi—Dimas (logistik), Ratna (purchasing), dan Bima (finance)—datang dengan wajah lelah. Meja dipenuhi dokumen dan laporan yang berserakan. Semua orang tahu rapat ini bukan rapat biasa—ini adalah rapat darurat, dan semua orang di dalamnya menanggung beban yang sama: pengiriman dari Singapura yang macet total. Hansen membuka suara lebih dulu. Suaranya berat, penuh tekanan. “Jelaskan sekali lagi, kenapa dokumen ekspor bisa ditolak di pelabuhan? Bukankah vendor utama kita sudah biasa urus jalur ini?” Dimas menelan ludah. “Pak, sejak awal bulan ada perubahan aturan bea cukai. Mereka memperketat verifikasi HS Code untuk komponen elektronik medis. Dokumen

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   96 - Gelombang yang Menghantam

    “Ra… gawat banget ini,” kata Aira tergesa-gesa, hampir terengah. “Beberapa pengiriman alat medis dari vendor macet, jadwal produksi bisa terganggu. Tim logistik panik, dan aku nggak ngerti kenapa bisa begini.” Meira menelan ludah. Baru saja ia mulai merasa lega karena Octavian pergi, tapi kini bayangan masalah baru sudah menempel di pundaknya. Aliran udara di ruangannya terasa tiba-tiba berat. Ia menatap Aira, mata mereka bertemu—dan keduanya sama-sama sadar: sesuatu tidak beres, tapi belum tahu apa yang terjadi. “Baik,” ucap Meira akhirnya dengan suara yang berusaha ia buat tegas. “Kita lihat langsung ke bawah.” Tanpa menunggu, ia melangkah cepat meninggalkan ruangannya, Aira mengekor di belakang. Sepatu haknya berdetak keras di lantai koridor, seolah mengikuti ritme detak jantungnya yang mulai memburu. Sesampainya di ruang tim logistik, suasana benar-benar kacau. Beberapa staf terlihat sibuk menelpon, sebagian lain menunduk di depan laptop dengan wajah tegang. Tumpukan dokumen p

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   95 - Badai Baru

    Meira menatap layar laptopnya, jari-jari tangannya bergerak cepat mengetik laporan proyek. Ruang kerjanya di Medinova Technosurgica dipenuhi tumpukan dokumen, blueprint alat medis, dan layar monitor yang menampilkan grafik perkembangan produksi. Dua bulan telah berlalu sejak perayaan anniversary yang membekas di hatinya—sejak momen itu, ia bekerja tanpa henti, menenggelamkan perasaan dalam kesibukan. Namun hati Meira tetap tak tenang. Perceraian resmi dengan Octavian tinggal sebulan lagi, dan rasa tidak sabar itu makin membesar. Setiap kali melihat Dio bermain, Meira merasakan percampuran lega dan cemas: lega karena sebentar lagi mereka bisa benar-benar bebas, cemas karena masa depan Dio tetap bergantung pada keputusan orang dewasa di sekitarnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Octavian muncul di layar. Meira menelan ludah, menahan napas sejenak sebelum mengangkat telepon. “Halo?” suaranya terdengar biasa saja, tapi hatinya sedikit berdebar. “Hai, Meira… aku dapat pekerjaa

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   94 - Clarissa

    Koridor markas militer terasa dingin, walau lampu neon menyala terang. Langkah Hastan bergema pelan di lantai marmer, setiap denting sepatunya seperti menabuh irama jantung yang menegangkan. Ia menahan napas, menyiapkan diri menghadapi satu pertemuan yang ia tahu akan menjadi salah satu momen paling sulit dalam hidupnya. Di depan ruang kerja, ia berdiri sejenak, menyesap udara, mencoba menenangkan diri. Sebentar lagi, ia akan menghadap atasannya—bukan sekadar sebagai letkol yang sedang mengajukan pengunduran diri, tapi sebagai seorang prajurit yang menanggung luka hati, rasa kecewa, dan rahasia yang tak pernah terungkap. Pintu terbuka, dan tatapan mata atasannya langsung menempel pada Hastan. Mata itu bukan hanya penuh kewibawaan, tapi juga hangat—mata yang telah menyaksikan setiap pencapaian Hastan sejak pertama kali masuk divisi cyber. “Hastan…,” kata atasannya perlahan, raut wajahnya campur bingung dan khawatir. “Aku tidak percaya ini… Kau serius ingin mengundurkan diri?” H

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   93 - Dibalik Senyum Ibu

    Langkah Meira terhenti seketika ketika merasakan sesuatu yang hangat menetes di pundaknya. Ia mendongak, hanya untuk menemukan darah segar mengalir dari hidung ibunya. “Ibu!” seru Meira panik, suaranya bergetar. Ia buru-buru meraih tisu di atas meja dan menekan lembut hidung sang ibu, sementara tangannya yang lain meraih segelas air mineral. Dibimbingnya ibunya untuk duduk di sofa, meski detak jantungnya sendiri terasa seakan pecah oleh rasa takut. “Bu, kenapa bisa begini? Ini… ini tidak normal.” Suaranya serak, nyaris pecah. Namun sang ibu hanya tersenyum samar, meski wajahnya jelas pucat. Senyum yang seolah memaksa ketenangan. “Jangan takut, Nak. Kadang tubuh ini memang suka lelah, seperti hati yang memikul beban terlalu berat.” Kata-kata itu membuat dada Meira sesak. Ia merasa tertohok—karena tahu, sebagian dari beban itu bersumber dari dirinya. Dari kisah cintanya yang berantakan, dari luka yang ia bawa pulang dalam setiap tangis diam-diam. “Ibu jangan bicara begitu,

  • Terjerat Hasrat Liar Mantan Selingkuhan   92 - Hantaman yang Membunuh dari Dalam

    Langit sore di kediaman Maheswara berwarna kelabu. Angin berhembus pelan, namun udara di dalam rumah begitu berat seakan dipenuhi kabut gelap. Sejak kedatangannya yang tiba-tiba, Hastan tidak pernah benar-benar berbicara dengan siapa pun. Ia hanya melewati ruang tamu dengan wajah dingin, naik ke lantai dua, lalu mengurung diri. Ruangan yang paling sering didatanginya adalah gym pribadi keluarga. Samsak tinju di pojok ruangan itu kini penuh dengan bercak darah, sobek di beberapa sisi, seperti tubuhnya sendiri yang terkoyak dari dalam. “DUK! DUK! DUK! DUK!” Tinju demi tinju meluncur. Begitu keras hingga sendi tangannya berdenyut, kulitnya robek, darah menetes ke lantai kayu. Tapi ia tidak berhenti. Semakin perih, semakin keras ia menghantam. Setiap pukulan adalah teriakan dalam hati: Ciuman itu. Tatapan itu. Senyum itu. Kenapa harus aku yang melihatnya? Kenapa aku yang harus jadi saksi? Nafasnya tersengal, keringat menetes deras. Tapi yang keluar dari matanya bukan hanya keringat—

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status