Se connecterSatu minggu berlalu.Hari-hari Rania dipenuhi pekerjaan, rapat, tenggat waktu, dan perjalanan pulang-pergi yang melelahkan. Ia seperti menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam kesibukan, seolah dengan begitu ia bisa melupakan rumah yang tak lagi memberinya rasa aman. Perlahan, identitasnya sebagai seorang istri memudar atau lebih tepatnya sengaja ia lepaskan.Rania pulang hanya untuk tidur.Selebihnya, ia tidak mau tahu apa pun.Ia tidak peduli siapa saja yang ada di rumah itu. Tidak peduli suasana, tidak peduli tatapan, apalagi penjelasan. Berkali-kali Bima mencoba menegurnya, menanyakan sikapnya yang dingin dan menjauh. Namun Rania memilih diam. Bukan karena tak punya jawaban, melainkan karena terlalu lelah untuk berbicara.Rasa kecewanya sudah terlalu besar. Luka yang Bima tinggalkan tidak lagi bisa ditambal dengan janji atau alasan. Kali ini, Rania benar-benar tidak sanggup.Pagi ini, Rania sengaja bangun agak siang. Ia menunggu hingga rumah sedikit lebih ramai, lalu keluar kam
“Di, bisa temani aku pergi ke suatu tempat?” tanya Rania tiba-tiba, memecah keheningan ruang kerja mereka.Ardi yang sejak tadi fokus menatap layar laptop mendongak. Alisnya sedikit terangkat, menandakan rasa penasaran. “Ke mana?”“Ada,” jawab Rania singkat, tanpa menatapnya. “Nanti kamu tahu sendiri.”Ardi menatap wajah Rania beberapa detik lebih lama, mencoba membaca rautnya. Ada sesuatu di sana,bukan permintaan biasa. Namun ia memilih tidak mendesak. “Hem. Kapan?”“Setelah makan siang saja,” sahut Rania tenang. “Biar nggak ganggu waktu kerja.”Ia tahu betul posisinya di perusahaan ini. Apapun yang sedang ia hadapi, Rania tidak ingin mencampuradukkan urusan pribadi dengan profesionalitas. Setidaknya, tidak di hadapan Ardi sebagai atasannya.Ardi mengangguk pelan sebagai tanda setuju. “Baik. Setelah makan siang.”Nada suaranya terdengar datar, tapi matanya menyimpan perhatian. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia kembali menunduk menatap laptop, jarinya kembali menari di atas keyboard.
“Kamu kira aku bodoh!” sentak Bima dengan suara keras.Rania menegang. Tatapan Bima tak lagi menyisakan logika, hanya amarah dan cemburu yang membara. Pria itu melangkah mendekat, tubuhnya mencondong ke arah Rania seolah ingin menekan ruang geraknya.Sontak Rania mundur dan terduduk di atas kasur, napasnya memburu.“Bukan aku yang bodoh, Mas,” sahut Rania, suaranya bergetar tapi tidak goyah. “Tapi kamu.”Bima tertawa sinis.“Sekarang kamu sudah berani membentakku?” katanya dingin. “Baik. Selama ini aku menahan diri karena menghargai keputusanmu. Aku memberimu waktu untuk menerima pernikahanku dengan Rini.”Ia berhenti sejenak, menatap Rania dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai.“Tapi ternyata waktu itu tidak kamu gunakan dengan baik,” lanjutnya. “Kamu pergi sesuka hatimu. Menghilang. Membuatku terlihat seperti orang bodoh.”Rania menelan ludah.“Katakan padaku,” Bima mendesis, “laki-laki mana yang membuatmu berani melawan aku seperti ini?”Rania mengangkat wajahnya. M
Pagi-pagi sekali, mobil yang ditumpangi Rania dan Ardi sudah hampir tiba di kota. Jalanan mulai padat, matahari naik perlahan di balik gedung-gedung tinggi. Jam di dashboard menunjukkan pukul delapan tepat.Keheningan menyelimuti kabin mobil sejak tadi. Bukan hening yang canggung, melainkan hening karena sama-sama kelelahan.“Ran,” ucap Ardi akhirnya, memecah sunyi. “Hari ini kamu istirahat dulu saja. Nggak usah masuk kantor.”Rania menoleh sebentar, lalu mengangguk pelan. “Baiklah,” sahutnya singkat.Ardi mengangguk kecil, lalu kembali fokus menyetir. Tangannya mantap di kemudi, matanya lurus ke depan. Ia tak bertanya lebih jauh dan Rania diam-diam bersyukur untuk itu.Satu jam berlalu.Mobil Ardi akhirnya memasuki kawasan tempat tinggal Rania. Rumah-rumah lama berderet rapi, suasananya jauh lebih tenang dibanding pusat kota. Ketika mobil melambat, Rania menatap keluar jendela, menarik napas dalam-dalam.“Aku turun di sini saja,” pintanya tiba-tiba.Ardi menoleh cepat. “Di sini?” Ia
Entah berapa lama Bima tertidur. Pria itu terbangun ketika hari telah berubah gelap.“Astaga… jam berapa ini?” gumamnya lirih sambil mengangkat kepala.Matanya melihat jam dinding yang menempel di tembok, matanya yang masih berat menyipit, lalu seketika terbuka lebar.Jam sepuluh.“Rin… Rini… sayang!” panggilnya dengan nada panik, suaranya menggema di kamar yang sunyi.Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Rini keluar dengan rambut masih basah, handuk melingkar di bahunya. Wanita itu buru-buru masuk kedalam kamar.“Ada apa sih, Mas? Kenapa teriak-teriak?” tanyanya, nada suaranya terdengar santai.Bima menunjuk jam di dinding. “Apa jam ini mati? Kenapa masih jam sepuluh?” tanyanya bingung, nyaris tak percaya.“Ya memang sudah jam sepuluh malam sekarang,” jawab Rini ringan, seolah membicarakan hal sepele.Padahal ia tahu, jika Bima akan pergi untuk mencari kakak madunya.“Apa?!” seru Bima. Jantungnya berdegup kencang. “Nggak. Nggak mungkin aku tidur selama itu.”Ia menggeleng
Rania turun ke lobi hotel dengan langkah pelan, matanya masih terasa berat namun perutnya menuntut perhatian. Udara pagi yang dingin menyambutnya begitu pintu lift terbuka. Lobi masih lengang, hanya beberapa staf yang lalu-lalang dengan suara langkah yang nyaris tak terdengar.Ia menoleh ke kanan dan kiri, berharap menemukan sesuatu yang masih buka di jam sepagi ini.“Akhirnya…” ucapnya lega ketika matanya menangkap papan kecil bertuliskan 24 Hours Café di sudut lobi.Rania mempercepat langkahnya. Begitu masuk, aroma kopi hangat langsung menyambut inderanya. Seorang pria berseragam café menghampirinya dengan senyum ramah.“Selamat pagi, Kak. Silahkan duduk. Mau pesan apa?” tanyanya sambil menyerahkan buku menu.Rania mengambil menu itu, membukanya sekilas. Tak butuh waktu lama untuk memutuskan. “Coklat hangat sama roti satu.”Pelayan itu mengangguk. “Baik, mohon ditunggu sebentar,” ucapnya sopan sebelum melangkah pergi.Rania menyandarkan tubuh di kursi, menghela nafas pelan. Sambil







