Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di antara atap-atap istana ketika Lin Qian melangkah keluar dari Balai Medis Kekaisaran. Langkahnya tenang, wajahnya datar, seolah tidak ada apa pun yang mengusik batinnya. Namun bagi mata yang terbiasa memperhatikannya, ada sesuatu yang berubah. Tatapan Lin Qian tidak lagi hangat seperti sebelumnya, senyumnya jarang muncul, dan gerak-geriknya terasa lebih berhati-hati, seakan ia selalu menjaga jarak tak kasatmata dari dunia di sekitarnya.Wang Rui memperhatikannya dari kejauhan. Sejak beberapa hari terakhir, Kaisar merasa seperti berdiri di hadapan pintu yang perlahan tertutup. Lin Qian tetap menjalankan tugasnya dengan sempurna, tetap memeriksa kesehatan, tetap berbicara sopan. Tapi semua itu terasa formal, kaku, seperti ada tembok pembatas yang sengaja dibangun. Wang Rui, yang terbiasa membaca medan perang dan wajah para menteri licik, justru kesulitan membaca hati perempuan yang berdiri di hadapannya."Ada apa sebenarnya dengan dirimu, Q
Read more