Bulan purnama menggantung penuh di langit musim semi, bulat dan terang seperti mata yang tak berkedip. Aula Tianyan dipenuhi cahaya obor dan lentera, pantulannya berkilau di lantai batu giok yang dingin. Asap dupa berlapis-lapis naik perlahan, membawa aroma akar dan resin yang menusuk hidung, menciptakan kesan sakral yang nyaris menekan dada. Semua bergerak sesuai aturan tradisi. Setiap langkah, setiap tundukan kepala, setiap ketukan tongkat ritual terasa terlalu rapi, seolah malam ini telah dilatih berulang kali jauh sebelum purnama tiba.Lin Qian berdiri di sisi Wang Rui, jubah permaisurinya jatuh lurus tanpa lipatan berlebihan. Wajahnya tenang, tapi pikirannya bekerja cepat. Terlalu banyak pekerjaan, terlalu banyak penekanan pada langit, leluhur, dan tanda-tanda gaib. Ini bukan sekadar ritual syukur atau peneguhan mandat langit. Ini panggung. Dan seperti semua panggung besar, seseorang pasti sedang menunggu momen klimaksnya.“Yang Mulia, apakah kau mencium bau dupa ini terlalu ku
Read more