Masuk“Mulai hari ini, tidak ada lagi yang boleh mempertanyakan posisimu.”Ucapan Wang Rui terdengar tenang, namun beratnya terasa jelas di ruang dalam Paviliun Anxin. Lin Qian berdiri di hadapannya, cahaya pagi menyelinap lewat tirai tipis, memantulkan bayangan keduanya di lantai batu. Kalimat itu bukan janji manis, melainkan pernyataan yang sudah diputuskan.Lin Qian mengangkat pandangan. “Keraguan tidak akan hilang hanya dengan pengumuman, Yang Mulia.”“Aku tahu.” jawab Wang Rui singkat. “Karena itu hari ini bukan soal pengumuman. Ini soal peneguhan.”Hari itu istana bergerak dengan ritme yang berbeda. Tidak gaduh, namun jelas terarah. Para petinggi dan bangsawan dipanggil satu per satu, bukan ke aula besar, melainkan ke ruang pertemuan kecil yang biasanya dipakai untuk diskusi inti. Wang Rui sengaja memilih cara itu. Tidak semua hal perlu dipertontonkan. Beberapa cukup ditegaskan pada orang-orang yang memegang kendali nyata.Lin Qian duduk di sisi Wang Rui, bukan setengah langkah di be
“Apakah kalian benar-benar percaya bahwa ini semua hanya kebetulan?”Suara Wang Rui memecah keheningan aula istana sebelum siapa pun sempat menata napas. Para petinggi yang baru saja duduk kembali setelah rangkaian sidang panjang langsung menegakkan punggung. Kalimat itu terdengar ringan, namun tekanannya membuat udara terasa menurun beberapa derajat.Wang Rui berdiri di depan singgasana, tidak duduk seperti biasanya. Sikap itu sendiri sudah menjadi pernyataan. Di sisi kanannya, Lin Qian berdiri dengan tenang, wajahnya datar, seolah apa pun yang akan diucapkan Kaisar bukan sesuatu yang perlu ia sangkal atau benarkan. Ia sudah melewati fase pembelaan. Kini, ia hanya menunggu."Kehebatan dan ilmu Permaisuri Lin,” lanjut Wang Rui, suaranya stabil. “bukanlah keanehan. Bukan pula keberuntungan rakyat jelata yang tiba-tiba menyentuh langit.”Beberapa bangsawan saling bertukar pandang. Sejak awal, kecurigaan semacam itu sebenarnya sudah beredar. Terlalu rapi, terlalu presisi, terlalu matang
“Kau akhirnya bangun tanpa bau obat menyengat di ruangan ini.”Suara itu terdengar lebih dekat dari yang Wang Rui perkirakan. Ketika ia membuka mata, cahaya pagi menyelinap melalui tirai tipis, dan Lin Qian duduk di sisi ranjang, tidak mengenakan jubah permaisuri lengkap, hanya pakaian sederhana yang selama ini lebih sering ia kenakan saat meracik obat. Untuk sesaat, istana terasa jauh. Tidak ada aula sidang seperti ketegangan belakangan ini, tidak ada bisikan politik. Hanya pagi yang tenang dan tubuh yang perlahan kembali sadar.Pemulihan Wang Rui berlangsung pelan namun stabil. Racun yang selama ini menggerogoti tubuhnya tidak lenyap dalam satu malam, tetapi ramuan Lin Qian berhasil menahan kerusakan lebih lanjut dan memberi tubuh kesempatan memperbaiki diri. Setiap hari, denyut nadinya lebih kuat, langkahnya lebih mantap. Tidak cepat, namun nyata.Lin Qian sendiri tidak sepenuhnya lolos dari kelelahan. Luka batin dari penjara bawah tanah dan tekanan publik masih membekas. Namun be
Bab 235 — Penangkapan“Ibu Suri, demi hukum Kekaisaran WangJing, Anda ditahan.”Kalimat itu diucapkan tanpa emosi, tanpa getaran kemenangan. Justru karena itulah ia terdengar begitu final. Aula istana yang sejak tadi dipenuhi bisik dan napas tertahan, kini jatuh ke dalam keheningan yang berat, seolah semua orang membutuhkan waktu untuk mencerna bahwa kata-kata itu benar-benar terjadi.Ibu Suri tidak langsung bereaksi. Ia berdiri di tempatnya, wajahnya masih tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan segalanya. Tatapannya menyapu aula, melewati para pejabat yang dulu menunduk penuh hormat, kini menghindari matanya satu per satu.Penahanan itu dibacakan resmi. Tuduhan pembunuhan berencana terhadap Kaisar Wang Rui. Tuduhan penggelapan keuangan negara melalui jaringan pejabat lama. Daftar pelanggaran itu panjang, dibacakan perlahan, seperti penghitungan utang yang akhirnya jatuh tempo.Tidak ada bantahan. Tidak ada teriakan tentang fitnah atau sihir. Ibu Suri hanya m
“Saya akan bicara.” suara itu memotong aula sebelum siapa pun sempat memberi perintah. Kalimat pendek itu cukup untuk membuat bisik-bisik terhenti. Semua mata beralih padanya. Tidak ada teriakan. Tidak ada ancaman lanjutan. Hanya keheningan yang tiba-tiba menjadi terlalu rapat.Kepala Kuil Fengyao palsu mengangkat kepalanya perlahan, lututnya menempel di lantai batu yang dingin. ikatan di pergelangan tangannya tidak teralu kencang, tapi cukup untuk mengingatkan dirinya bahwa tidak ada lagi jalan kembali. Wajahnya pucat, matanya tidak lagi berani menatap siapa pun. Ia tahu, sandiwara ini harus diakhiri.Ia menelan ludah, lalu mulai berbicara. Pengakuan itu keluar tanpa hiasan, seolah ia sadar bahwa kebohongan tidak lagi berguna. Ia menjelaskan bagaimana nubuat disusun. Bagaimana kata-kata dipilih agar terdengar kuno, mutlak, dan tak bisa dibantah. Bagaimana ketakutan selalu lebih cepat menyebar dibanding kebenaran.Ia berbicara tentang tinta khusus, tentang asap dupa, tentang simbol-
“Sejak kapan prajurit istana diizinkan menyamar selama bertahun-tahun... tanpa satu pun catatan?”Pertanyaan itu jatuh ke aula seperti batu ke air tenang. Meluncur singkat, dingin, dan cukup untuk membuat aula istana kehilangan keseimbangannya.Lin Yuan berdiri di tengah ruangan, tubuhnya tegap, wajahnya tenang. Bayangan tubuhnya memandang di lantai marmer. Ia tidak segera menjawab. Di sekelilingnya, para pejabat daerah yang terlibat kasus Ibu Suri mulai gelisah, seolah baru menyadari bahwa tidak semua yang hadir di aula ini tercatat secara resmi.Tatapannya beralih ke Wang Rui, seolah menunggu satu hal terakhir yang tak perlu diucapkan keras-keras. Wang Rui tidak bergerak. Tatapannya lurus ke depan. Sebuah anggukan kecil darinya menjadi isyarat yang tak perlu penjelasan.Lin Yuan akhirnya melangkah setengah langkah ke depan.“Sejak Kaisar membutuhkan mata yang tidak terlihat.” jawab Lin Yua. Suaranya datar, profesional, tanpa nada pembelaan. “Dan tangan kanan yang tidak tercatat sec







