Lin Qian tidak menyusun dokumen itu dengan emosi. Ia melakukannya seperti biasa, dengan ketelitian yang sama seperti saat ia mencatat gejala pasien yang hampir kehilangan nyawa. Setiap laporan ia baca ulang, setiap angka ia cocokkan silang. Tidak ada coretan marah, tidak ada keputusan tergesa. Ia tahu, kesalahan sekecil apa pun akan memberi kesempatan bagi mereka yang sudah lama hidup dari celah. Bukti-bukti itu tidak ia tumpuk sembarangan, melainkan ia susun berdasarkan alur aliran dana, hubungan jabatan, dan waktu keputusan. Dari luar, meja kerjanya tampak biasa. Dari dekat, itu peta kerusakan satu rezim.Malam berganti tanpa ia sadari. Lilin diganti pelayan, lalu diganti lagi. Lin Qian tetap di tempat yang sama, punggung tegak, mata jernih. Ia berhenti hanya untuk mencatat satu kesimpulan kecil di pinggir dokumen. Pola yang sama muncul di wilayah berbeda, tahun berbeda, bahkan dengan nama pejabat yang sama yang seharusnya sudah dipindahkan. Ini bukan
Read more