POV Nadira Aku berdiri di depan jendela kecil kafe itu, tanganku menggenggam ponsel erat. Pesan terakhir dari nomor tak dikenal masih terpampang di layar. “Kalau kamu ingin tahu segalanya, datanglah sendiri.” Aku datang. Bukan karena aku bodoh. Tapi karena aku lelah hidup dalam setengah kebenaran. Pintu kafe terbuka pelan. Dan saat aku melihat siapa yang duduk di sudut ruangan itu, semua dugaanku runtuh bersamaan. “Rafindra…” Pria itu menoleh. Lebih kurus dari foto-foto lama. Matanya lelah, tapi masih menyimpan sorot tajam yang sama. “Kamu datang,” katanya. “Aku bukan datang untukmu,” jawabku tegas. “Aku datang untuk diriku sendiri.” Ia tersenyum kecil. “Kamu mirip ibumu. Tegas.” “Apa yang kamu mau sebenarnya?” tanyaku. Rafindra menunduk sejenak, lalu menghela napas panjang. “Aku marah pada Arkana,” katanya jujur. “Karena dulu dia memilih perusahaan daripada manusia. Termasuk aku.” Aku diam. “Tapi satu hal yang tidak bisa kupungkiri,” lanjutnya, menata
最終更新日 : 2026-01-27 続きを読む