Setelah pintu tertutup dengan dentuman yang menggetarkan bingkai kayu, keheningan canggung menyelimuti kamar itu. Bai Xiang masih berdiri bersedekap, napasnya memburu—bukan karena lelah, melainkan karena sisa kekesalan setelah menghadapi Han Feng di paviliun sebelah. Ia melirik Wen Mei yang kini sibuk merapikan pakaiannya yang berantakan, mencoba menyembunyikan wajahnya yang semerah buah delima di balik helai rambutnya.Bai Xiang menghela napas panjang, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di samping Wen Mei. "Kau benar-benar berani, Wen Mei. Di tengah markas musuh yang baru saja runtuh, kau malah sibuk bercumbu dengan pengawalmu sendiri," sindir Bai Xiang, meski nada suaranya kini lebih terdengar seperti seorang kakak yang sedang mengomel daripada seorang pendekar yang marah.Wen Mei mengangkat wajahnya, mencoba memberanikan diri. "Aku tidak peduli lagi dengan aturan, Xiang. Setelah hampir ternoda di tangan Zhang Yan, aku menyadari bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan deng
Last Updated : 2026-01-28 Read more