Angin malam di markas besar pasukan Longyan menderu kencang, membawa aroma tanah basah dan desis tajam dari ratusan bilah pedang yang tengah diasah. Di dalam tenda komando yang luas, sebuah peta strategi terbentang di atas meja kayu cendana. Han Feng berdiri tegak, jemarinya yang kokoh menekan pinggiran meja, sementara tatapannya yang tajam menelisik setiap lekuk topografi Gunung Song. Di sampingnya, Bai Xiang berdiri anggun dalam balutan jubah perak yang berkilau redup. Rambut putihnya yang legendaris terikat rapi, memancarkan kesan dingin namun mematikan."Cao Bing tidak hanya mengandalkan jumlah pasukan," ujar Han Feng, suaranya berat dan penuh wibawa. "Gunung Song adalah benteng alami yang tangguh. Tebing di sisi timur terlalu curam untuk didaki, sementara jalur barat dipenuhi jebakan parit dan mekanisme busur panah otomatis."Zhu Yu Liang, yang tampak lebih kurus namun dengan api kemarahan yang menyala hebat di matanya, melangkah maju. "Kita tidak punya banyak waktu, Jenderal.
Last Updated : 2026-02-11 Read more