แชร์

Merinding

ผู้เขียน: CH. Blue Lilac
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-10 20:35:49

Yanto melangkah semakin mendekat. Bayangan tubuhnya jatuh menutupi sebagian cahaya dapur, membuat ruang sempit itu terasa makin pengap. Wajahnya menggelap, sorot matanya tajam dan sulit ditebak.

“Yang lebih menakutkan dari setan itu…” ucap Yanto pelan, nadanya rendah dan berat, “manusia, Mba.”

Nadine tercekat. Tenggorokannya terasa kering seketika. Ia menelan ludah dengan susah payah, jantungnya berdegup cepat. Ada sesuatu dari cara Yanto menatapnya yang membuat perutnya melilit tidak nyaman.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Christina Galingging
Nadine ketakutan, terus Dirga datang kayak pahlawan kesiangan gitu ya thor wkwwkwkwkwk
goodnovel comment avatar
aiiuuu
ya ellahhh thor aku uda merinding deg.deg an baca nya. gak ada lanjutan nya.
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Sengit

    Pertarungan diantara keduanya terbilang sengit. Untung saja Dirga cukup mahir bela diri. Sehingga ia berhasil memukul mundur sampah masyarakat ini. Kedua preman itu merangkak bangun dengan sisa tenaga yang ada. Melihat kilat mata Dirga yang seperti iblis, mereka tak pikir panjang lagi. Sambil memegangi perut dan wajah yang babak belur, mereka lari terbirit-birit meninggalkan gang. Bahkan meninggalkan tas jarahannya begitu saja. Napas Dirga menderu. Menghentakan kakinya seolah mengancam, kedua pria itu benar-benar lari sejauh mungkin. Hanya saja Dirga sempat terkena satu pukulan nyasar di pelipis kirinya saat baku hantam tadi—membuat area matanya mulai membiru keunguan. Dirga tak peduli. Dirga langsung berlutut di depan Nadine, tangannya gemetar saat memeriksa bahu, lengan, hingga kaki istrinya itu. "Kamu enggak apa-apa? Ada yang luka? Mereka lukain kamu di mana lagi?!" tanyanya beruntun, matanya menatap Nadine dari ujung r

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Pencuri Itu...

    Matahari sudah mulai terang menyinari pagi ini. Semua orang yang ada di rumah terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Dirga yang sibuk dengan perkakasnya. Pun Nadine yang tak kalah sibuk berkutat di dapur dengan Mamanya. Hanya saja ditengah asyiknya Nadine, ia diminta sang Mama untuk membeli bumbu dapur yang kurang di warung depan rumahnya. “Bentar ya, Sayang, aku ke depan dulu,” pamit Nadine. “Mau aku temenin enggak, Sayang?” teriak Dirga khawatir. Entah kenapa ia merasa tak enak hati. Buru-buru ia menyimpan perkakasnya dan menghampiri Nadine yang sudah bersiap di depan teras rumahnya. “Kamu mau kemana?” tanya Nadine seketika mematung melihat Dirga yang sudah siap berkemas. Dirga masih sibuk membersihkan sisa-sisa debu yang menempel dibajunya kala itu. “Yuk!” lagi ajak Dirga namun Nadine hanya terkekeh. Ia mendorong Dirga untuk pergi ke kamar mandi dulu. Debunya itu bisa mengganggu

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Yang Penting Kamu Aman

    Nadine manarik nafasnya dalam-dalam kala Dirga menodong lagi pertanyaan. Ia berusaha menjelaskan kronologi "tragedi toilet" itu dengan suara mencicit. Terlebih agar tidak salah sangka juga. Kekhawatiran itu kian menyiksa Dirga. Ia akhirnya memilih mengakhiri rapat lebih awal, fokusnya sudah buyar sepenuhnya. Ia langsung berlalu, menyambar kunci mobil kesayangannya, dan memercayakan sisa urusan kantor kepada Clara. Sepanjang jalan tol tadi, dia memacu mobil seperti orang kesetanan karena pikiran-pikiran buruk sudah memenuhi kepalanya. Berkali-kali ia menelepon Nadine, namun hasilnya tetap nihil. Baru sepuluh menit Nadine melepas lelah, mobil Dirga sudah meluncur masuk ke pekarangan. Di teras, ia mendapati Nadine sedang duduk tenang menyesap teh hangatnya. Melihat suaminya datang dengan napas memburu, Nadine langsung menghampiri. Walaupun ia terkejut, tetapi rasa bersalahnya menepis itu semua. "Kok kamu? Buka

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Hari Yang Kacau

    Kantor benar-benar sangat sibuk hari ini. Saking sibuknya Nadine sudah menghabiskan 4 cup kopi sekaligus. Bukan apa, Nadine tidak mau kerjanya tak fokus. Lagi semua pekerjaannya ini sudah ditunggu Clara dan juga Dirga. Saking sibuknya, Nadine tak menyadari ponselnya berdering. Matanya masih tertaut pada layar monitor. Jemarinya terus menekan keyboard dengan cepat tak kalah akurat. Tepat di jam istirahat, setengah pekerjaannya selesai. Sesuai dengan permintaan Dirga tanpa revisi sedikitpun. “Fyuh… akhirnya. Tinggal beresin kerjaan dari Mbak Clara. Kayanya sore juga selesai ini kalau sekarang istirahat dulu,” terangnya sembari memeriksa tumpukan kertas di atas meja. Nadine memutuskan untuk istirahat sejenak di kantin kantor, tapi ponselnya lebih dulu berdering. Ia duduk kembali dan mengangkat panggilannya. “Ya, Ma? Ada apa?” tanya Nadine begitu saja. Ia mendengar jika keluarga mamanya mengundang Nadine dan sua

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Empat Ronde?

    Malam itu, kantor sudah mulai sepi, menyisakan deru AC dan bunyi jemari yang beradu dengan kibor. Nadine memilih lembur untuk mengejar tumpukan pekerjaan yang tertunda, ditemani Clara yang juga masih sibuk berkutat dengan proposal proyek terbaru. “Ah! Akhirnya selesai juga!” seru Clara tiba-tiba, memecah keheningan. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku karena hari ini sangat sibuk. Dengan sigap Clara memberesi barang-barangnya ke dalam tas. “Kamu belum selesai juga, Nadine?” tanya Clara tapi Nadine menggeleng lesu. Tubuhnya sebenarnya sudah menjerit minta istirahat, tapi apa daya. Clara hanya membalas itu dengan senyuman penuh canda. “Ya udah aku duluan, ya. Udah ada yang jemput!” Nadine mengernyitkan dahinya. Bingung. Tumben sekali Mbak Clara mau dijemput oleh seseorang. Otomatis Nadine penasaran dan bertanya. “Siapa yang jemput, Mbak? Tumben banget, si paling independent woman mau dijemput? Awas loh, jangan-jangan cowok

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Sakit Sekali Nih

    Suasana di pagi hari kali ini berbeda. Sedikit mendung dan berkabut, sehingga Nadine sulit sekali terbangun. Entah kenapa tubuhnya merasakan pegal lagi ngilu. Ia kembali meringkuk, merasakan perutnya yang mulai kram–tanda tamu bulanan telah tiba. Bukannya bangun ia justru menarik kembali selimutnya tinggi-tinggi. Mencari kehangatan yang tersisa dibalik rasa malasnya yang semakin membelenggu. Nadine membelakangi suaminya, ia malah sibuk bermain ponsel. Bosan, ia melirik Dirga disana, seolah memastikan suaminya ini masih terlelah. Nadine menjulurkan tangan, mencolek pelan hidung mancung suaminya ini. Dirga hanya bergumam sebal, mengerutkan dahi tapi tak membuka matanya. Melihat suaminya ini tidak bangun lagi, Nadine memutuskan untuk membenamkan tubuhnya di pelukan sang suami. Perlahan namun pasti, Nadine yang semula sudah terjaga mulai merasakan kantuk di pelupuk matanya. Kehangatan itu seolah membelainya untuk kembali tert

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Jangan Marah

    Rhevan keluar dari rumah dengan setelan kerja rapi: kemeja biru tua, celana bahan hitam, dan sepatu kulit mengilap. Di belakangnya, Nadine berjalan anggun mengikutinya. Baru beberapa langkah mereka keluar dari pagar, suara ceria menyapa dari halaman seberang. “Mas Rhevan! Mbak Nadine! Kalian pagi

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-21
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Di mana Si Gundik Itu?

    Nadine mulai memutar kenop di depannya. Suara klik kecil terdengar, dan pintu pun perlahan terbuka. Tanpa ragu, ia segera melangkah masuk. Udara di dalam kamar terasa dingin dan tenang— terlalu tenang malah. Dan ternyata, di dalam sana tidak ada siapa-siapa. Kamarnya rapi, bersih, seolah baru sa

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Apa Yang Kamu Sembunyikan?

    "Sejak kapan kamu suka minum teh, Mas?" tanya Nadine dengan pandangan menyelidik. Alisnya berkerut curiga, bibirnya menipis seolah mencoba menimbang sesuatu dari ekspresi suaminya. Rhevan menelan ludah. Ia berusaha untuk bersikap normal meski dadanya terasa berdebar. "Memang kenapa kalau aku minum

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ahh! Jangan!

    Nadine baru selesai merapikan dapur bekas ia dan Dirga sarapan. Jujur selama ia beres-beres pikirannya terus dibuat bercabang. Pertama karena ciumannya dengan Dirga beberapa saat yang lalu dan kedua mengenai suaminya. "Mas Rhevan kok gak berangkat kerja?" "Apa dia sengaja bolos karena ada si gund

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status