LOGIN“Selamat ya, Nadine. Akhirnya setelah sekian purnama ya,” goda Mba Clara seiring mengecup pipi kiri dan kanannya. Nadine tersipu. Ulas senyum bahagia tak bisa disembunyikan dari parasnya yang cantik-malah semakin cantik di hari pernikahannya. “Pokoknya selamat senam malam sepuasnya,” tambah lagi Dea-rekan kantor Nadine secara bergantian menyalami rekan sejawatnya ini. Kikikan suara kali ini menimpali jawaban mereka. “Ih, apa sih Mba? Kamu ini bisa aja! Tapi, makasih banyak loh kalian udah nyempetin datang.” Mereka hanya mengangguk tak masalah. Sekali lagi pelukan hangat diberikan sebagai tanda turut bahagia. “Sekali lagi selamat ya, Nadine Dirga! Aku bener-bener seneng akhirnya perjuangan kalian enggak sia-sia! Langgeng sampai tua nanti, deh!” ucap Mba Sarah yang berada paling terakhir kemudian berlalu. Dirga hanya terkekeh mendengarnya. “Iya, amin. Makasih, ya!” tambah Dirga dan Mba Sarah hanya mengacungkan jempol sambil berlalu dari tempat pelaminan. Sesaat setelah berlalu
“LEPASIN!” Amanda meronta. Air matanya bercampur dengan keringat. “Aku nggak kuat… aku nggak kuat!”Tangannya gemetar hebat. Akhirnya, suntikan itu kembali diberikan. Perlahan, tubuh Amanda melemah. Tangisnya mereda, berubah jadi isakan kecil, lalu hanya napas yang tersisa. Matanya perlahan tertutup. Dan lagi-lagi, Ia terlelap dalam dunia yang tidak ia pilih. Hari-hari berlalu. Kondisi Amanda bukannya membaik. Justru semakin hilang arah. Ia jadi lebih sering diam. Kalau pun berbicara, ucapannya pun jadi tidak jelas. Kadang hanya mengulang satu kalimat yang sama berulang-ulang. “Kalau aku bisa ulang semuanya…” “Kalau aku bisa ulang…” Kadang ia tertawa sendiri. Kadang tiba-tiba menangis tanpa suara. Kadang mengancam orang-orang yang menurutnya sama seperti Dimas. Kadang menatap orang lain tapi seperti tidak benar-benar melihatnya. Suatu sore, seorang perawat baru berdiri di depan pintu kamar Amanda. Ia melihat perempuan itu duduk di lantai. Memeluk lututnya. Bergoyang pelan ke d
Hari-hari pertama di rumah sakit jiwa berjalan tanpa arah. Amanda lebih banyak diam. Duduk di sudut ranjang, memeluk lututnya. Tatapannya kosong. Kadang menatap jendela berjam-jam tanpa bergerak, seolah menunggu sesuatu yang tidak pernah datang. Perawat yang datang hanya bisa saling pandang. “Itu penghuni baru ya?" "Iya. Katanya sih stres karena uang miliknya diambil pacarnya,” bisik salah satu dari mereka. "Ya ampun, kasian banget." "Nggak usah kasihan tau, toh uang yang dia ambil itu juga hasil dari ngambil punya mantan suaminya." "Hah? Serius?" Perawat itu mengangguk. "Iya." "Ihh. Itu sih karma namanya." *** Hari ketiga. Bukannya membaiik, kondisi Amanda justru sebaliknya. Amanda tiba-tiba tertawa. Awalnya pelan. Lalu semakin keras. Hingga satu ruangan bisa mendengarnya. “Hahaha… hahaha…” Ia berdiri di atas ranjang, rambutnya berantakan, matanya berbinar aneh. “Aku kaya!” katanya dengan suara penuh kebanggaan. “Kalian semua lihat ini nggak?! Ini semua punyaku!” Tangann
Hari berikutnya, Amanda duduk di bangku taman. Menatap kosong ke depan. Bibirnya bergerak pelan, seperti sedang berbicara dengan seseorang.Padahal—tidak ada siapa-siapa di sana.“Kamu pikir aku mau kayak gini?” gumamnya lirih. Beberapa orang yang duduk tidak jauh mulai melirik.“Aku juga korban…” lanjutnya, nadanya mulai meninggi. “Aku juga disakitin!” Ia tiba-tiba menoleh ke samping. Tatapannya tajam. Seolah benar-benar melihat seseorang di sana.“Jangan ketawa!” bentaknya. Seorang ibu yang sedang lewat langsung menarik anaknya menjauh.Amanda berdiri tiba-tiba. “Kamu pikir ini lucu, hah?!” teriaknya ke arah kosong. Tangannya menunjuk ke depan, gemetar. “Kalau bukan karena kamu—” ucapannya terhenti, lalu berubah jadi tawa kecil. Aneh. Tidak stabil. “Semua ini nggak akan terjadi.”Orang-orang mulai berbisik. “Dia kenapa ya?”“Stres nggak sih?”“Serem deh…”***Amanda berjalan di trotoar sambil berbicara sendiri. Kadang berbisik. Kadang tertawa kecil. Kadang tiba-tiba marah.“Pergi!
"Enggak! Aku— aku nggak akan pergi!" Amanda masih berdiri di tempatnya. Kakinya terasa lemas, tapi ia tidak bergeser sedikit pun.Salah satu pria itu sudah mulai tidak sabar. “Aku bilang, pergi!”“Tunggu!” Amanda langsung bersuara lebih keras. Tangannya terangkat sedikit, seolah menahan mereka. “Aku nggak akan pergi sebelum ketemu Dimas!”Pria-pria itu saling pandang sekilas. Ekspresi mereka datar. Tidak ada sedikit pun tanda akan menuruti permintaan itu.“Aku cuma mau ngomong sama dia,” lanjut Amanda, suaranya mulai pecah. “Tolong! Tolong kasih tahu Aku alamat atau nomornya! Aku cuma mau penjelasan!”"Katakan dia ada di mana?” tanya Amanda lagi, kali ini lebih mendesak. “Kasih tahu aku dia di mana!”Salah satu pria itu mendengkus pelan. “Kita nggak tahu. Dan kalaupun tahu, kami nggak akan kasih tau kamu.”Jawaban itu seperti menyulut emosi Amanda. “Bohong!” bentaknya. “Kalian pasti tahu!” Ia melangkah maju, mencoba mendekat ke arah pintu rumahnya.Refleks, salah satu pria langsung me
Setelah mengetahui jika Dimas mencuri semua asetnya, Amanda segera pergi ke kantor polisi. Dengan berinai air mata, dia menceritakan semuanya pada petugas.Amanda duduk di kursi ruang tunggu kantor polisi. Tangannya masih gemetar saat menjelaskan semuanya. Suaranya bergetar, tapi ia berusaha tegas.“Dia ambil semua dokumen penting saya, uang saya, perhiasan juga hilang,” ucapnya.Petugas di depannya hanya mencatat seadanya. Ekspresinya datar. “Apakah ada bukti kalau yang bersangkutan mengambil barang-barang tersebut tanpa izin?” tanya petugas itu.Amanda terdiam. Bukti? Kata itu terasa seperti menghantam kepalanya. “S- saya nggak punya bukti,” jawabnya pelan.Petugas itu mengangguk kecil. “Kami tetap akan terima laporannya. Tapi untuk diproses lebih lanjut, kami butuh bukti yang lebih kuat.”Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat harapan Amanda runtuh sedikit demi sedikit.Beberapa hari berlalu, Amanda sudah mencoba menghubungi Dimas puluhan kali. Nomornya tidak aktif. Semua
Kepala Nadine hampir saja terbentur karena Dirga ngerem mendadak. Langsung saja Nadine ngomel ke Dirga. "Kamu gimana sih ngerem kok enggak kasih aba-aba?! Kepalaku hampir kepentok nih!" Jantung Nadine sampai berdegup kencang saking terkejutnya. "Kamu juga nyakitin hati aku tanpa aba-aba! Sakit ta
“Enggak perlu,” jawab Nadine tanpa menatap Dirga. Nadine masih menyibukkan diri dengan dokumen yang ada di hadapannya.“Jadi acara gathering kantor tuh kaya gini,” ujar Dirga mulai menjelaskan.“Dibilang enggak usah dijelasin!”“Tapi aku mau jelasin!” bantah Dirga lagi.Dasarnya Dirga memang semaun
“Dirga! Kamu ini kenapa susah banget sih kalau dibilangin?! Aku bilang— umph!”Protes Nadine terpotong seketika saat Dirga menangkap dagunya. Jemarinya yang tegas membuat wajah Nadine mendongak, dan sebelum sempat menghindar, bibir pria itu sudah lebih dulu menempel di bibirnya.Bukan ciuman yang d
"Kata siapa cuma temen sekolah?" tiba-tiba saja Dirga bergabung dan menyela obrolan mereka. "Orang Nadine ini mantan pacar aku!" sambungnya. Nadine sampai tersedak karena ikut kaget dengan apa yang Dirga katakan barusan. Tidak ada angin tidak ada hujan Dirga malah langsung nyeplos seenaknya. "Dir







