로그인Hampir satu minggu rumah berhasil hidup karena kehadiran orangtua Dirga. Namun, malam itu Nadine tertegun di ambang pintu. Matanya terpaku kala melihat mama sedang merapikan pakaian ke dalam koper. Tanpa basa-basi, Nadine langsung masuk dan merebut paksa koper milik mertuanya itu.“Mama mau ke mana? Jangan pulang sekarang, Ma. Nadine mohon!” rengek Nadine manja dengan mata berkabut. Entah kenapa rasanya sedih.Mama menghentikan aktivitasnya, ia menghela nafas panjang sambil mengusap lembut kepala Nadine. “Mama sama Papa izin pulang dulu ya, Sayang. Kebetulan Papa juga ada panggilan kerjaan, jadi Mama harus nemenin.”Nadine menatap lekat kedua orang tuanya. "Ma, Pa, di sini saja ya? Nadine jauh lebih tenang kalau Mama dan Papa di rumah, daripada harus kerja jauh-jauh begitu. Nadine jadi kepikiran terus. Tenang aja, Ma. Kami masih mampu kok untuk membiayai kalian, kalau memang Mama dan Papa tinggal disini," bujuknya lembut. Namun, sang mama hanya tersenyum tipis, jauh lebih mengerti re
Mobil pun menepi ke sebuah coffee shop sesuai permintaan Nadine. Namun, suasana di dalam kabin justru terasa sedingin es. Nadine terlanjur badmood karena peristiwa tadi. Melihat istrinya masih marah, Dirga berusaha mencairkan suasana. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, jemarinya terulur. Mengusap lembut pipi Nadine, tapi di tepis begitu saja secara kasar olehnya. Nafasnya masih kasar. Ya, Dirga bisa mendengar hembusan nafasnya memecah keheningan di dalam mobil. Kali ini nata Nadine tengah sibuk mencari ponselnya. “Di laci mobil, Sayang, sahut Dirga lembut. Nadine hanya membalas dengan lirikkan tajam, lalu berbalik membelakangi suaminya yang masih menatapnya lekat. “Jadi kamu mau titip apa, Sayang?” lagi bujuk Dirga namun Nadine tak menggubrisnya. Tak mau menyerah, ia langsung berbisik tepat di telinga Nadine dengan bertanya hal serupa. Hanya saja respon Nadine kali ini tak seperti biasa.
Baru tiga hari status suami-istri itu melekat, namun Dirga dan Nadine sudah harus berhadapan dengan realita. Sesuai janji yang mereka sepakati sebelum pelaminan digelar, pagi ini mereka harus kembali memutar roda rutinitas seperti semula. Pagi itu rasanya berat sekali mata Nadine bisa terbuka. Dirga benar-benar melumatnya habis hingga dini hari tadi. Bahkan suaminya ini benar-benar tak memberinya jeda sama sekali untuk bernapas. Tubuh Nadine remuk karena berkali-kali Dirga menidih dan memutar tubuh Nadine ke berbagai posisi–untuk mencapai puncaknya. Nadine bangun dengan susah payah, tapi Dirga malah menariknya kembali ke dalam pelukan hangat di balik selimutnya. “Kamu mau ke mana Sayangku?” tanya Dirga dengan parau lagi berat. Suaranya berat sekali, mungkin Dirga juga sama-sama lelah. Dengan jemari yang masih terasa lemas, Nadine menyisir lembut helai rambut Dirga yang berantakan hingga menutupi sepasang mata tajam yang ki
“Masih sama seperti dulu, kan? Aromanya, suasananya, dan tentunya, orangnya,” bisik Dirga dengan nada menggoda yang hangat. Nadine kikuk, ia hanya memucungkan bibirnya terlebih malu salah tingkah. Dirga menyuguhkan piring yang sudah terisi oleh makanan kesukaan Nadine. Tak lupa juga minuman kesukaan istrinya ini yang tak pernah berubah dari dulu. Mata Nadine berbinar senang. Seolah semua yang terjadi saat ini sirna karena hal sesederhana ini. Ia menyerbunya dengan semangat sekali. “Makasih ya, Sayang. Wah, ini kesukaan aku banget! Ternyata kamu masih inget ya?” Dirga hanya menyinggungkan senyum seperti tanda bahwa ia sudah kenal betul istrinya ini. Akhirnya mereka pun makan siang dengan tenang. Lagi riang. Sedikit banyaknya Dirga mengingatkan kembali masa-masa mereka masih di sekolah. Tak jarang Nadine berhasil dibuat cekikikan karenanya. “Kamu tuh yang hobi banget bolos! Padahal waktu itu kamu udah sering b
Jendela yang semula kecil itu seolah meluas. Membingkai memori pahit yang mendadak kembali tajam. Tepat di sana, di seberang pandangan, adalah kamar utama—saksi bisu pengkhianatan Rhevan yang menghancurkan dunianya. Kenangan itu menghantam Nadine! Bayangan perselingkuhan yang ia pergoki sendiri membuat tenggorokannya tercekat, sementara dadanya bergemuruh oleh sisa tangis yang dulu pernah runtuh. Matanya membulat sempurna, bukan karena terkesima tapi kekecewaan yang tak pernah ia sangka. Terekam jelas bagaimana pertengkaran itu terjadi di benak Nadine. Bahkan tangis yang benar-benar runtuh menyesakkan batinnya. Napasnya memendek, tersengal oleh rasa sakit yang kembali merambat. “Sayang?” Panggilan itu hanya lewat di telinganya. Nadine masih mematung, terkunci dalam trauma hingga sebuah sentuhan hangat mendarat di jemarinya. Dirga, dengan sisa kepanikan yang disembunyikan, menariknya tegas. Ia tak ingin Nadine tenggelam le
Suasana mendadak sepi. Hanya menyisakan mereka berdua yang masih betah berdiri di teras rumahnya. Nadine diam, Dirga pun sama, sampai akhirnya mata mereka beradu tatap. Ada kehangatan yang berbeda dalam tatapan Dirga kali ini. Tanpa perlu banyak bicara, sorot matanya seolah mengatakan sesuatu pada Nadine, "Tenang, semuanya bakal baik-baik saja." Dirga ingin Nadine tahu satu hal, dan ia benar-benar menjanjikan itu. Bahwasannya kali ini dia–Nadine–istrinya benar-benar pulang, dan dia tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Dirga tak melepaskan dekapannya sedikit pun, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya pada Nadine. Dengan sapaan lembut ia kembali membujuk sang istri. “Ayo, Sayang,” ucap Dirga lembut. Nadine menarik nafasnya panjang, mencoba mengurai sesak yang masih tertinggal di dadanya. Berat… meski hatinya sudah mulai tenang, ia sadar jika itu memang butuh waktu. Lengan hangat Dirga melingkar di ping
"Kamu mau berkorban lagi begitu?" Dirga menatapnya lama—begitu lama hingga Nadine merasa tatapan itu mampu menembus seluruh ruang kosong yang ia sembunyikan. Nadine sudah melepaskan pelukan tadi. Kini ia berdiri satu langkah dari Dirga, tubuhnya gemetar pelan, kepala menunduk dalam. "Mungkin ini m
Rhevan mengangkat tubuh Nadine yang terkulai ke arahnya. Napasnya tersengal karena panik yang membuat seluruh tubuhnya bergetar.Sementara Amanda menutup mulut dengan kedua tangannya, wajahnya pucat pasi menyaksikan bagaimana Nadine tidak bergerak di lengan Rhevan. “Mas, Nadine..."“Diam!” Rhevan m
“Ehem.” Suara itu membuat Nadine dan Dirga sama-sama menoleh. Dan ternyata, Clara sudah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajah yang sudah sangat masam. Bahkan dari jarak tiga meter, Nadine bisa merasakan aura tidak bersahabatnya. Nadine langsung mendorong Dirga menjauh dan bersikap normal
Nadine terdiam cukup lama. Matanya menunduk, seolah berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi ingin tumpah. Dirga hanya berdiri di hadapannya, sabar menunggu tanpa mendesak lagi. Akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa begitu panjang, Nadine menghela napas berat. “Sebenarnya aku salah input da







