LOGINSuasana mendadak sepi. Hanya menyisakan mereka berdua yang masih betah berdiri di teras rumahnya. Nadine diam, Dirga pun sama, sampai akhirnya mata mereka beradu tatap. Ada kehangatan yang berbeda dalam tatapan Dirga kali ini. Tanpa perlu banyak bicara, sorot matanya seolah mengatakan sesuatu pada Nadine, "Tenang, semuanya bakal baik-baik saja." Dirga ingin Nadine tahu satu hal, dan ia benar-benar menjanjikan itu. Bahwasannya kali ini dia–Nadine–istrinya benar-benar pulang, dan dia tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Dirga tak melepaskan dekapannya sedikit pun, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya pada Nadine. Dengan sapaan lembut ia kembali membujuk sang istri. “Ayo, Sayang,” ucap Dirga lembut. Nadine menarik nafasnya panjang, mencoba mengurai sesak yang masih tertinggal di dadanya. Berat… meski hatinya sudah mulai tenang, ia sadar jika itu memang butuh waktu. Lengan hangat Dirga melingkar di ping
“Loh! Ternyata Mbak Nadine dan Mas Dirga, toh?” Bu RT yang semula diam di sebrang pintu langsung menghampiri mereka. “Astaga, gimana kabar kalian Mas, Mbak? Maaf ya Mbak, Mas, Ibu ngintip-ngintip rumah kalian. Soalnya disini lagi rawan maling juga. Ibu takut ada orang asing masuk rumah kalian.” Nadine mengulas senyumnya tak keberatan. Ia juga turut menyambut dengan pelukan. Pun Bu RT menempelkan pipinya begitu saja pada Nadine. Sebagai tanda rindu dan diterimanya kembali Nadine kesini. “Berasa mimpi Ibu bisa lihat lagi kalian disini.” Nadine dan Dirga hanya terkekeh. Suasana di teras rumah mendadak ramai oleh tawa kecil dan obrolan ringan. Bu RT masih tampak tidak percaya, jemarinya menepuk-nepuk punggung tangan Nadine dengan gemas. “Aduh, Mbak Nadine lama enggak ketemu makin cantik ya. Eh tapi…” Kalimatnya seketika menggantung. Tatapan ikut berubah juga. Menyelediki dengan sek
Nadine terduduk lemas diatas sofa yang dibalut oleh plastik. Ia memijat kepalanya yang pening bukan main. Menarik diri dari kebisingan sesaat, yang mana membuat dirinya sangat lesu sekali. Dirga sedikit memberi ruang, namun matanya tak lepas memperhatikan. Ya, dia mengakui jika ini salahnya. Memang perlu waktu untuk berdamai dengan egonya Dirga yang ingin sekali kembali kesini-ke tempat dia bermula. Bukannya semakin reda, tangis Nadine kembali pecah. Semakin menjadi. “Sayang?” Dirga yang hendak menenangkan, malah disela dengan tanda tangan supaya berhenti tak menghampiri. Kalut menjadi satu, Nadine hanya ingin menata ulang semuanya agar kembali tenang. Memang sialan sekali trauma ini! Benar-benar membuat Nadine susahnya setengah mati. Deru nafasnya memburu, Nadine mengusap dadanya agar lebih tenang dan terkendali. Ia menyeka airmata dan menarik nafas dalam-dalam-lagi. “Sayangku,” panggilan ka
Kembali Nadine memastikan apa yang ia lihat sekarang. Akankan ia salah lihat-tapi-mereka benar-benar pergi ke tempat ini. Tempat penuh dengan kenangan yang menyakitkan. Mencari jawaban pasti, Nadine menatap tajam Dirga yang masih sibuk dengan kemudinya. “Apa maksud kamu?” nada bicara Nadine bergetar. Dadanya sesak berusaha tegar namun pikirannya berlarian kesana kemari. “Jangan dulu berprasangka buruk. Kita kesini hanya untuk melihat rumahku yang–” “Enggak!” Nadine lebih dulu menyela. “Pokoknya enggak! Aku enggak mau tinggal disini!” Nadine menambah lagi dengan gelengan kepalanya yang tak kalah setuju. Matanya memanas, berkaca-kaca dengan bibir semakin bergetar. “K-kamu tahu ‘kan? Gimana susahnya aku berjuang sembuh dari ini? Lebih baik kita tinggal di appartment saja!” tegas Nadine dengan sedikit penekanan. Hembusan nafas Nadine tak teratur. Ia memohon dari segala amarahnya dan berusaha menahan perih. Dirga
“Aku tahu maksud kamu. Ayo kita lakukan saja sekarang, bagaimana?” Nadine hanya bersedekap melihat suaminya yang mulai melepaskan pakaiannya satu persatu. Tentu karena merasa menang. Kini mereka, Nadine-dan juga Dirga- sudah tak diselimuti apapun. Dirga dengan segala pikirannya sudah liar kesana kemari. Nadine juga sudah bisa lihat senyumnya yang penuh makna. Pun milik suaminya ini mulai menegang. Padahal niat Nadine bukan untuk meleburkan hasratnya, melainkan untuk mandi bersama saja-ya, hanya itu! Deru nafas Dirga sudah memburu. Membuncah lagi tak sabar. Hasratnya sudah di ujung tanduk, siap untuk menuntaskan segalanya sekarang juga. Namun, tepat saat hendak menarik lebih dekat, matanya menangkap sesuatu yang membuat dunianya berhenti persekian detik. Semburat merah perlahan luruh. Terbawa aliran air diantara sela kaki Nadine. Mematung dan membeku. Harapannya hancur karena realita tamu bulanan Nadine yang t
“I-ini? Kamu seriusan lagi dapet, Sayang?” tanya Dirga tampak putus asa sekali. Nadine meleos. Ia membuang mukanya dari depan Dirga. Bingung harus merespon seperti apa? Menggaruk kepalanya yang tak gatal. Nadine hanya bisa menyeringaikan giginya yang rapih. Pupus. Dirga terduduk lemas tak bersemangat. Disisi lain Nadine berusaha menahan tawanya, namun di sisi lainnya dia juga kasihan. Tak tega lihat suaminya yang sudah berharap besar akan mendapatkan pelayanan full service. “Em… i-iya. Ma-maaf ya. Kamu marah?” gugup Nadine karena takut dimarahi. Nadine menghampiri suaminya perlahan. Ia mengintip muka dari sela leher dan punggung. Sudah bisa dipastikan Dirga menekuk mukanya. Tangan Nadine melingkar di perut Dirga, kepalanya disimpan di bahu Dirga. “Maaf ya…,” lagi tambah Nadine karena merasa tak enak. Menghela nafas panjang Dirga mengakui apa yang ditahannya sedari tadi. “Padahal
Senyum di wajah Clara seperti membeku. Langkahnya terhenti tepat di tempatnya berdiri. Matanya terpaku lurus ke depan—ke sosok yang baru saja melangkah keluar dari balik punggung Dirga. Nadine. Perempuan itu berjalan santai di samping Dirga, mengenakan pakaian senada dengan tim. Rambutnya tergera
“Orangnya yang mana sih, Mba?” tanya Nadine dengan punggung sedikit condong ke depan.“Aku juga nggak tau, Mba,” balasnya. Mata gadis itu menelusuri sekitar hingga tertuju pada satu sosok. “Mungkin yang itu.”Nadine langsung menyipitkan matanya. “Yang mana?”“Yang tua itu!”Istri Rhevan itu melihat
Sore harinya, Nadine sudah berdiri di depan sebuah bangunan berlantai tiga dengan tampilan modern bernuansa abu-putih.Nadine mendongak, matanya menyipit. “Mba Sarah?” panggilnya pelan.“Iya?” Sarah menjawab santai sambil membenarkan sling bag-nya.“Kamu yakin ini kosannya?” tanya Nadine ragu. “In
Gerakan Nadine terhenti. Tangannya yang tengah meraih tumpukan pakaian di dalam koper membeku saat ponselnya bergetar di atas kasur.Ia melirik layar ponsel sekilas—dan seketika rahangnya mengeras. "Siapa yang tel—"Nadine tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat nama Amanda tertera di layar. Tanp







