Share

Merinding

last update publish date: 2026-02-10 20:35:49

Yanto melangkah semakin mendekat. Bayangan tubuhnya jatuh menutupi sebagian cahaya dapur, membuat ruang sempit itu terasa makin pengap. Wajahnya menggelap, sorot matanya tajam dan sulit ditebak.

“Yang lebih menakutkan dari setan itu…” ucap Yanto pelan, nadanya rendah dan berat, “manusia, Mba.”

Nadine tercekat. Tenggorokannya terasa kering seketika. Ia menelan ludah dengan susah payah, jantungnya berdegup cepat. Ada sesuatu dari cara Yanto menatapnya yang membuat perutnya melilit tidak nyaman.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Christina Galingging
Nadine ketakutan, terus Dirga datang kayak pahlawan kesiangan gitu ya thor wkwwkwkwkwk
goodnovel comment avatar
aiiuuu
ya ellahhh thor aku uda merinding deg.deg an baca nya. gak ada lanjutan nya.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Cemburuan

    Mobil pun menepi ke sebuah coffee shop sesuai permintaan Nadine. Namun, suasana di dalam kabin justru terasa sedingin es. Nadine terlanjur badmood karena peristiwa tadi. Melihat istrinya masih marah, Dirga berusaha mencairkan suasana. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, jemarinya terulur. Mengusap lembut pipi Nadine, tapi di tepis begitu saja secara kasar olehnya. Nafasnya masih kasar. Ya, Dirga bisa mendengar hembusan nafasnya memecah keheningan di dalam mobil. Kali ini nata Nadine tengah sibuk mencari ponselnya. “Di laci mobil, Sayang, sahut Dirga lembut. Nadine hanya membalas dengan lirikkan tajam, lalu berbalik membelakangi suaminya yang masih menatapnya lekat. “Jadi kamu mau titip apa, Sayang?” lagi bujuk Dirga namun Nadine tak menggubrisnya. Tak mau menyerah, ia langsung berbisik tepat di telinga Nadine dengan bertanya hal serupa. Hanya saja respon Nadine kali ini tak seperti biasa.

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Capek Berat

    Baru tiga hari status suami-istri itu melekat, namun Dirga dan Nadine sudah harus berhadapan dengan realita. Sesuai janji yang mereka sepakati sebelum pelaminan digelar, pagi ini mereka harus kembali memutar roda rutinitas seperti semula. Pagi itu rasanya berat sekali mata Nadine bisa terbuka. Dirga benar-benar melumatnya habis hingga dini hari tadi. Bahkan suaminya ini benar-benar tak memberinya jeda sama sekali untuk bernapas. Tubuh Nadine remuk karena berkali-kali Dirga menidih dan memutar tubuh Nadine ke berbagai posisi–untuk mencapai puncaknya. Nadine bangun dengan susah payah, tapi Dirga malah menariknya kembali ke dalam pelukan hangat di balik selimutnya. “Kamu mau ke mana Sayangku?” tanya Dirga dengan parau lagi berat. Suaranya berat sekali, mungkin Dirga juga sama-sama lelah. Dengan jemari yang masih terasa lemas, Nadine menyisir lembut helai rambut Dirga yang berantakan hingga menutupi sepasang mata tajam yang ki

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Masih Seperti Dulu

    “Masih sama seperti dulu, kan? Aromanya, suasananya, dan tentunya, orangnya,” bisik Dirga dengan nada menggoda yang hangat. Nadine kikuk, ia hanya memucungkan bibirnya terlebih malu salah tingkah. Dirga menyuguhkan piring yang sudah terisi oleh makanan kesukaan Nadine. Tak lupa juga minuman kesukaan istrinya ini yang tak pernah berubah dari dulu. Mata Nadine berbinar senang. Seolah semua yang terjadi saat ini sirna karena hal sesederhana ini. Ia menyerbunya dengan semangat sekali. “Makasih ya, Sayang. Wah, ini kesukaan aku banget! Ternyata kamu masih inget ya?” Dirga hanya menyinggungkan senyum seperti tanda bahwa ia sudah kenal betul istrinya ini. Akhirnya mereka pun makan siang dengan tenang. Lagi riang. Sedikit banyaknya Dirga mengingatkan kembali masa-masa mereka masih di sekolah. Tak jarang Nadine berhasil dibuat cekikikan karenanya. “Kamu tuh yang hobi banget bolos! Padahal waktu itu kamu udah sering b

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Kenangan Lama

    Jendela yang semula kecil itu seolah meluas. Membingkai memori pahit yang mendadak kembali tajam. Tepat di sana, di seberang pandangan, adalah kamar utama—saksi bisu pengkhianatan Rhevan yang menghancurkan dunianya. Kenangan itu menghantam Nadine! Bayangan perselingkuhan yang ia pergoki sendiri membuat tenggorokannya tercekat, sementara dadanya bergemuruh oleh sisa tangis yang dulu pernah runtuh. Matanya membulat sempurna, bukan karena terkesima tapi kekecewaan yang tak pernah ia sangka. Terekam jelas bagaimana pertengkaran itu terjadi di benak Nadine. Bahkan tangis yang benar-benar runtuh menyesakkan batinnya. Napasnya memendek, tersengal oleh rasa sakit yang kembali merambat. “Sayang?” Panggilan itu hanya lewat di telinganya. Nadine masih mematung, terkunci dalam trauma hingga sebuah sentuhan hangat mendarat di jemarinya. Dirga, dengan sisa kepanikan yang disembunyikan, menariknya tegas. Ia tak ingin Nadine tenggelam le

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tempat Lama Rasa Baru

    Suasana mendadak sepi. Hanya menyisakan mereka berdua yang masih betah berdiri di teras rumahnya. Nadine diam, Dirga pun sama, sampai akhirnya mata mereka beradu tatap. Ada kehangatan yang berbeda dalam tatapan Dirga kali ini. Tanpa perlu banyak bicara, sorot matanya seolah mengatakan sesuatu pada Nadine, "Tenang, semuanya bakal baik-baik saja." Dirga ingin Nadine tahu satu hal, dan ia benar-benar menjanjikan itu. Bahwasannya kali ini dia–Nadine–istrinya benar-benar pulang, dan dia tidak akan pergi ke mana-mana lagi. Dirga tak melepaskan dekapannya sedikit pun, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya pada Nadine. Dengan sapaan lembut ia kembali membujuk sang istri. “Ayo, Sayang,” ucap Dirga lembut. Nadine menarik nafasnya panjang, mencoba mengurai sesak yang masih tertinggal di dadanya. Berat… meski hatinya sudah mulai tenang, ia sadar jika itu memang butuh waktu. Lengan hangat Dirga melingkar di ping

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Lama Tak Jumpa

    “Loh! Ternyata Mbak Nadine dan Mas Dirga, toh?” Bu RT yang semula diam di sebrang pintu langsung menghampiri mereka. “Astaga, gimana kabar kalian Mas, Mbak? Maaf ya Mbak, Mas, Ibu ngintip-ngintip rumah kalian. Soalnya disini lagi rawan maling juga. Ibu takut ada orang asing masuk rumah kalian.” Nadine mengulas senyumnya tak keberatan. Ia juga turut menyambut dengan pelukan. Pun Bu RT menempelkan pipinya begitu saja pada Nadine. Sebagai tanda rindu dan diterimanya kembali Nadine kesini. “Berasa mimpi Ibu bisa lihat lagi kalian disini.” Nadine dan Dirga hanya terkekeh. Suasana di teras rumah mendadak ramai oleh tawa kecil dan obrolan ringan. Bu RT masih tampak tidak percaya, jemarinya menepuk-nepuk punggung tangan Nadine dengan gemas. “Aduh, Mbak Nadine lama enggak ketemu makin cantik ya. Eh tapi…” Kalimatnya seketika menggantung. Tatapan ikut berubah juga. Menyelediki dengan sek

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Perempuan Murahan

    “Dirga… Nadine!” Nada suaranya cukup untuk membuat Nadine terbangun. Kelopak mata Nadine bergerak, lalu terbuka perlahan. Butuh satu detik baginya untuk sadar sepenuhnya—dan satu detik berikutnya, ia langsung membeku saat melihat siapa yang berdiri di depan kamar. Jantungnya seperti jatuh ke peru

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Aku Bisa Jelaskan!

    “Mba Clara... Tunggu Mba... Mba...” Nadine berlari kecil menyusul Clara ke arah pintu, langkahnya goyah karena tubuhnya masih gemetar.“Mba Clara… tunggu…” panggilnya dengan suara serak, air mata mengaburkan pandangan. “Mba, dengerin aku dulu, please…”Namun Clara sama sekali tidak menoleh. Langkah

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Tidak Pernah Beruntung

    "Seandainya, aku belum jadian ama Clara gimana? Apa kamu mau mengakui kalau kamu mencintaiku?" tanya Dirga sambil memasang raut penasaran. Nadine terdiam. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tak satu pun kata berhasil keluar. Kepalanya dipenuhi terlalu banyak hal—wajah Clara yang marah, rasa bersalah y

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ada Orang Lain

    "Yah— kamu benar." Dirga menegakkan punggungnya, seolah baru tersadar pada satu kenyataan yang sengaja ia kesampingkan. Gerakannya refleks—menjaga jarak saat Nadine mulai menyebut nama yang sama-sama mereka hindari. "Aku lupa kalau masih punya Clara." Kalimat itu jatuh pelan, tapi cukup untuk me

    last updateLast Updated : 2026-04-02
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status