로그인Nadine dan Mama mertuanya hanyut dalam kesibukan kecil di dapur. Suasana terasa begitu akrab. Bahkan terlihat lebih akrab dari sekedar menantu dan mertua. Kehadiran mertuanya ini sedikit mengobati rindu Nadine pada ibunya. Ia benar-benar bisa merasakan ketulusan dari mama mertuanya ini. Senyumnya yang teduh selalu menjadi obat untuk Nadine. Mereka memang baru 3 hari menyandang status mertua dan menantu, tapi kedeketan Nadine dan mertuanya ini sudah jauh lebih dalam. Bahkan lebih dekat dari sebelumnya. Sesekali Nadine termangu akan sosok mertuanya ini. Tanpa sadar lamunan Nadine ini tertangkap ekor mata mama mertuanya. “Gimana kabar mamah, Sayang?” tanya mama mertua Nadine membuat ia terkesiap. “B-Baik, Ma. Mama waktu itu titip salam. Katanya nanti kalau ada waktu senggang bakalan main kesini,” sahut Nadine gugup karena tak enak. “Sebelum mamamu kesini… nanti kita main dulu kesana gimana? Biar
“Mbak Nadine!” teriak melengking seorang wanita paruh baya menyela keheningan mereka. Nadine tampak memicingkan matanya, memastikan siapa yang memanggilnya dari jauh. Senyum Nadine seketika merekah. Ternyata Bu RT yang datang dengan pasukannya. Sesuai janjinya waktu itu. Wajah-wajah familiar jelas sekali berseri. Tulus menyambut kehadiran Nadine-kembali. Mereka tampak senang sekali menyambut Nadine dan Dirga. Nadine segera menyambut jabatan tangan mereka, yang dengan cepat berubah menjadi pelukan-pelukan hangat yang menenangkan hatinya. Suara riuh tawa dan rentetan pertanyaan khas tetangga mulai memenuhi udara. Teras rumah yang semula sepi, mulai ramai. Melihat keramahan yang tak berubah itu, perasaan was-was Nadine perlahan meluruh. Ia merasa kehangatan itu masih terjaga sampai sekarang. Bahkan ada yang tak menyangka bisa bertemu Nadine kembali setelah sekian lama. “Aura Mbak Nadine yang sekarang jauh berbe
“Pakai baju dulu, Sayang. Udah aku siapin di atas kasur!” bisik Nadine lembut. Tangan lentik Nadine menahan dada Dirga, ia mendorong suaminya ini pelan. Dan menuntunnya pergi ke kamar. Nadine masih menata meja makannya. Tangannya menyusun piring-piring cantik itu dengan denting halus yang menenangkan. Cukup cantik dengan hiasan bunga mawar sehingga semakin menghidupkan kesan romantis. Ia menyalakan lilin tepat di tengah mejanya. Cahaya lampu sengaja Nadine redupkan, menyisakan pendar keemasan sehingga berhasil menghidupkan malam yang semakin syahdu. Kini Nadine dan Dirga sudah duduk bersebrangan, mereka tampak hening. Baik Nadine maupun Dirga masih menikmati makanannya masing-masing. “Memang the best masakan istriku ini. Terima kasih banyak ya, Sayang. Makanannya enak banget!” Puji Dirga memecah keheningan. Nadine hanya mengangguk malu. Ia masih menikmati suapan terakhir pastanya ini. Hanya saja mata Dirga terus melihat s
Nadine tak melepaskan genggamannya dari lengan Dirga, berusaha menjadi peredam bagi amarah suaminya yang nyaris meledak. Suasana di depan rumah baru mereka perlahan mendingin seiring pihak berwajib menyeret paksa si maling menjauh. Warga berangsur bubar, menyisakan keheningan yang menyesakkan. Dirga berdiri kaku di hadapan tukang dan Bu RT, matanya menatap tajam pada kerusakan yang ada. “Kira-kira kapan ini selesai?” potong Dirga tegas, suaranya dingin menusuk. Urat-urat di kepala Dirga semakin jelas bermunculan saking menahan besarnya amarah. “Mungkin dua minggu, Pak. Mengingat kerusakannya cukup berat, tapi kami—” “Satu minggu!” sela Dirga telak. “Atau kalian enggak akan saya bayar sama sekali! Ayo, Sayang!” Ia berbalik ketus dan melangkah pergi begitu saja. Nadine hanya bisa mengulas senyum canggung dan membisikkan kata maaf pada orang-orang di sana sebelum menyusul langkah suaminya. Ia paham betul, Dirga
Spotan langkah Nadine terhenti begitu saja di tengah perjalanan. Matanya berbinat melihat tempat favoritnya dari semasa SMA ini. Ia menatap sebuah gerai photo box kecil yang lucu dan juga cantik. Dengan sangat antusias, Nadine menyambar tangan Dirga. Ia mengajak Dirga pergi ke sana. Menarik tangannya kuat-kuat untuk mengikuti langkah kaki Nadine. “Ayo cepetan!” seru Nadine semangat sekali. Lagi ajak Nadine semakin kuat, hanya saja langkah kaki Dirga masih lambat saja. Dirga memicingkan matanya, ternyata kebiasaan Nadine ini tidak pernah berubah–selalu mengabadikan moment kecil mereka berdua. “T-Tapi aku kan enggak jago–” “Gampang! Masalah pose aja diambil pusing!” ejek Nadine membuat Dirga bungkam. Nadine dan Dirga masuk ke dalam bilik sempit itu. Nadine sibuk memilih bando telinga kelinci dan kacamata besar yang menggemaskan agar hasil fotonya makin berkesan. Tawa Nadine pecah seketika saat melihat Dirga
Nadine mematung. Ia benar-benar kecewa atas apa yang dilihatnya kali ini. Sesak penuh oleh pelanggan. Tanpa pikir panjang, Nadine memaksa menerobos masuk. Dirga mencoba mencegahnya, ia menarik tangan Nadine untuk menahan Nadine melangkah lebih jauh lagi. “Udah jangan! Kita cari salon lain aja,” cegah Dirga tapi Nadine masih dengan keras kepalanya. Nadine menepis pelan, matanya menyala. “Aku cuman mau mastiin aja! Kenapa bisa sepenuh ini? Padahal akukan udah booking tadi!” ketus Nadine seiring menunjukan layar ponselnya. Dirga mengernyit, ia melihat sesuatu yang janggal. “Tapi Sayang—” Belum sempat Dirga selesai bicara, Nadine sudah terlanjur melangkah masuk dengan kekesalannya. Nadine tak peduli dengan larangan suaminya ini. Ia keras kepala ingin treatment di salon ini. Dengan hati yang cukup meletup, dia pun menghampiri meja kasir. “Mbak! Saya kan udah bikin appointment. Seharusnya
“Enggak perlu,” jawab Nadine tanpa menatap Dirga. Nadine masih menyibukkan diri dengan dokumen yang ada di hadapannya.“Jadi acara gathering kantor tuh kaya gini,” ujar Dirga mulai menjelaskan.“Dibilang enggak usah dijelasin!”“Tapi aku mau jelasin!” bantah Dirga lagi.Dasarnya Dirga memang semaun
“Dirga! Kamu ini kenapa susah banget sih kalau dibilangin?! Aku bilang— umph!”Protes Nadine terpotong seketika saat Dirga menangkap dagunya. Jemarinya yang tegas membuat wajah Nadine mendongak, dan sebelum sempat menghindar, bibir pria itu sudah lebih dulu menempel di bibirnya.Bukan ciuman yang d
"Kata siapa cuma temen sekolah?" tiba-tiba saja Dirga bergabung dan menyela obrolan mereka. "Orang Nadine ini mantan pacar aku!" sambungnya. Nadine sampai tersedak karena ikut kaget dengan apa yang Dirga katakan barusan. Tidak ada angin tidak ada hujan Dirga malah langsung nyeplos seenaknya. "Dir
Warning 21+“Aku gila ya?” desis Dirga. “Maaf deh.” Tanpa rasa bersalah, Dirga berkata begitu. Tapi alih-alih berhenti, dia kembali memijat milik Nadine.Jelas Nadine merasa kaget hingga kedua kelopak matanya melebar. Tapi protes wanita itu tak sempat keluar karena Dirga lebih dulu membukam bibirny







