MasukMalam itu, kantor sudah mulai sepi, menyisakan deru AC dan bunyi jemari yang beradu dengan kibor. Nadine memilih lembur untuk mengejar tumpukan pekerjaan yang tertunda, ditemani Clara yang juga masih sibuk berkutat dengan proposal proyek terbaru. “Ah! Akhirnya selesai juga!” seru Clara tiba-tiba, memecah keheningan. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku karena hari ini sangat sibuk. Dengan sigap Clara memberesi barang-barangnya ke dalam tas. “Kamu belum selesai juga, Nadine?” tanya Clara tapi Nadine menggeleng lesu. Tubuhnya sebenarnya sudah menjerit minta istirahat, tapi apa daya. Clara hanya membalas itu dengan senyuman penuh canda. “Ya udah aku duluan, ya. Udah ada yang jemput!” Nadine mengernyitkan dahinya. Bingung. Tumben sekali Mbak Clara mau dijemput oleh seseorang. Otomatis Nadine penasaran dan bertanya. “Siapa yang jemput, Mbak? Tumben banget, si paling independent woman mau dijemput? Awas loh, jangan-jangan cowok
Suasana di pagi hari kali ini berbeda. Sedikit mendung dan berkabut, sehingga Nadine sulit sekali terbangun. Entah kenapa tubuhnya merasakan pegal lagi ngilu. Ia kembali meringkuk, merasakan perutnya yang mulai kram–tanda tamu bulanan telah tiba. Bukannya bangun ia justru menarik kembali selimutnya tinggi-tinggi. Mencari kehangatan yang tersisa dibalik rasa malasnya yang semakin membelenggu. Nadine membelakangi suaminya, ia malah sibuk bermain ponsel. Bosan, ia melirik Dirga disana, seolah memastikan suaminya ini masih terlelah. Nadine menjulurkan tangan, mencolek pelan hidung mancung suaminya ini. Dirga hanya bergumam sebal, mengerutkan dahi tapi tak membuka matanya. Melihat suaminya ini tidak bangun lagi, Nadine memutuskan untuk membenamkan tubuhnya di pelukan sang suami. Perlahan namun pasti, Nadine yang semula sudah terjaga mulai merasakan kantuk di pelupuk matanya. Kehangatan itu seolah membelainya untuk kembali tert
Di dalam pantry yang tenang, Nadine akhirnya bisa bernapas lega, meski wajahnya masih sedikit panas. Sambil menyiapkan kopi, ia melirik suaminya yang bersandar santai di meja pantry dengan tatapan yang—lagi-lagi—penuh kekaguman. "Sayang, tolong ya! Jangan terlalu berlebihan kalau di kantor. Malu tahu, enggak enak juga sama staf yang lain," bisik Nadine sambil menyodorkan cangkir. Bukannya menjauh, Dirga malah sengaja melangkah mendekat. Ia melingkarkan tangannya di pinggul Nadine, menariknya lembut hingga tak ada jarak di antara mereka. Cup! Sebuah kecupan mendarat di pipi Nadine sebelum ia sempat protes. "Habisnya kamu cantik banget hari ini. Presentasi kamu tadi luar biasa, aku sampai nggak bisa kedip," puji Dirga tulus dengan suara rendah. "Sebagai perayaan proyek kita tembus, malam ini kita dinner romantis, ya? Berdua saja. No work talk." Nadine tak bisa menahan senyumnya lagi. "Oke, dea
Aroma kopi dan masakan rumah memenuhi dapur yang tenang pagi ini. Seolah ikut merayakan semangat baru Nadine. Sambil bersenandung kecil, ia menata bekal untuk Dirga dengan jemari yang lincah—memastikan semuanya tampak sempurna. "Selesai!" gumamnya manis tepat saat Dirga melangkah masuk dan memeluknya singkat dari belakang. “Wah, bekalnya gemes banget. Sama kaya yang buat. Makasih ya, Sayang!” tutur Dirga kala melihat isi bekalnya hari ini. Sesaat mereka sudah siap, langsung berlalu dari dapur menuju mobil. Tak lupa Nadine membawa kotak bekalnya itu, untuk mereka santap di jam istirahatnya nanti. Kehangatan mereka terbawa hingga menginjakkan kaki di kantor. Seperti biasa, Dirga selalu menggandeng tangan istrinya yang cantik. Pasangan "couple" ini memang selalu jadi pusat perhatian. Sehingga apa yang mereka lakukan bisa menjadi pusat tontonan dan berhasil membuat rekan kerjanya iri sekaligus gemas. Apalagi karyawannya yang ma
Kap mobil mereka masih hangat di depan rumahnya. Nadine masih termangu sampai Dirga merangkulnya dengan tanya. Tapi Nadine hanya tersenyum lagi berlalu. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hanya saja benaknya masih terpaku pada ucapan Dirga di sore itu. Di bawah kucuran air, apa yang dikatakan Dirga terus terngiang di kepalanya. Berputar-putar seperti melodi yang tak mau berhenti. ‘Apa aku ikut program hamil, ya?’ batinnya bingung. Selesai mandi, Nadine berdiri mematung di depan cermin besar. Ia menyingkap sedikit handuknya, menatap fokus pada perutnya yang masih rata dan kempes. Ada jemari yang mengusap lembut di sana, seolah sedang menyapa sebuah kehidupan yang sangat ia nantikan. Menjadi seorang ibu adalah angan terbesar yang selalu ia peluk erat dalam doa. ‘Aku yakin jika suatu saat nanti aku bisa memberikan momongan untuk Dirga. Pasti Tuhan akan beri kejutan kecil itu untuk kami
Hampir satu minggu rumah berhasil hidup karena kehadiran orangtua Dirga. Namun, malam itu Nadine tertegun di ambang pintu. Matanya terpaku kala melihat mama sedang merapikan pakaian ke dalam koper. Tanpa basa-basi, Nadine langsung masuk dan merebut paksa koper milik mertuanya itu.“Mama mau kemana? Jangan pulang sekarang, Ma. Nadine mohon!” rengek Nadine manja dengan mata berkabut. Entah kenapa rasanya sedih.Mama menghentikan aktivitasnya, ia menghela nafas panjang sambil mengusap lembut kepala Nadine. “Mama sama Papa izin pulang dulu ya, Sayang. Kebetulan Papa juga ada panggilan kerjaan, jadi Mama harus nemenin.”Nadine menatap lekat kedua orang tuanya. "Ma, Pa, di sini saja ya? Nadine jauh lebih tenang kalau Mama dan Papa di rumah, daripada harus kerja jauh-jauh begitu. Nadine jadi kepikiran terus. Tenang aja, Ma. Kami masih mampu kok untuk membiayai kalian, kalau memang Mama dan Papa tinggal disini," bujuknya lembut. Namun, sang mama hanya te
Pak Wijaya akhirnya meletakkan sendoknya. Dengan ekspresi datar seperti biasanya, lelaki itu akhirnya buka suara, “Papa dengar, kalian mau merencanakan pernikahan?”Rhevan dan Amanda yang tadinya menyantap makanan masing-masing dengan tenang refleks berhenti mengunyah. Keduanya menoleh ke arah Pak
Begitu pintu terbuka, Nadine mendapati seorang pria mengenakan jaket hijau khas ojek online berdiri di depan rumahnya. Helm masih terpasang di kepala, satu tangan memegang tas kertas berlogo restoran.“Iya?” Nadine mengerjap, jelas kebingungan. “Ada apa ya, Pak?”“Permisi, ini benar Mba Nadine?” ta
Amanda masih belum menyerah. Wajahnya mengeras, rahangnya mengatup rapat seolah kesabarannya sudah habis.“Nad!” panggil Amanda dengan nada tajam. “Kamu nggak denger ya?” lanjutnya ketus. “Aku mau kamu keluar dari rumah ini sekarang juga!” titahnya dengan gaya bossy yang luar biasa memuakkan.Nadin
Hari ini, sepulang kerja, lagi-lagi Nadine mengunjungi beberapa lokasi kos untuk tempat tinggal barunya. Dengan tas masih menggantung di bahu dan tubuh yang mulai terasa lelah, ia tetap memaksakan diri berkeliling.Satu persatu alamat ia datangi, sesuai rekomendasi dan hasil pencariannya di interne







