تسجيل الدخولHampir satu minggu rumah berhasil hidup karena kehadiran orangtua Dirga. Namun, malam itu Nadine tertegun di ambang pintu. Matanya terpaku kala melihat mama sedang merapikan pakaian ke dalam koper. Tanpa basa-basi, Nadine langsung masuk dan merebut paksa koper milik mertuanya itu.“Mama mau kemana? Jangan pulang sekarang, Ma. Nadine mohon!” rengek Nadine manja dengan mata berkabut. Entah kenapa rasanya sedih.Mama menghentikan aktivitasnya, ia menghela nafas panjang sambil mengusap lembut kepala Nadine. “Mama sama Papa izin pulang dulu ya, Sayang. Kebetulan Papa juga ada panggilan kerjaan, jadi Mama harus nemenin.”Nadine menatap lekat kedua orang tuanya. "Ma, Pa, di sini saja ya? Nadine jauh lebih tenang kalau Mama dan Papa di rumah, daripada harus kerja jauh-jauh begitu. Nadine jadi kepikiran terus. Tenang aja, Ma. Kami masih mampu kok untuk membiayai kalian, kalau memang Mama dan Papa tinggal disini," bujuknya lembut. Namun, sang mama hanya te
Masih dalam suasana yang malas sekali. Rumah masih terlihat sunyi dari biasanya. Sementara Nadine sudah lebih dulu bangun dibandingkan yang lainnya. Ia juga tampak sudah rapi dan wangi.Ia mengambil celemek untuk memasak sarapan. Hanya bunyi piasu yang beradu dengan talenan memecah keheningan pagi ini. Ia sengaha bangun pagi karena ada yang harus disiapkan terlebih dahulu.Tiba-tiba pintu kamar tamu terbuka. Mama mertuanya ini melangkah pelan lagi mendekat ke arah Nadine. Ia mengulas dengan senyum hangat yang tak kalah cantik. “Wah, mantu Mama emang rajin ya,” sapanya lembut.Nadine hanya tersipu, ia tak menjawab apapun. Tangannya masih sibuk mengiris sayuran dan bumbu-bumbu lainnya. Sementara mama Dirga langsung membantu memetik sayur, karena meras tak enak takut merepotkan.“Padahal Mama istirahat aja. Pasti Mama juga masih capek kan?” ujar Nadine tulus.Mama Nadine hanya tersenyum tipis. “Hanya buat sarapan saja, tak masalah.
Hari-hari Nadine di kampung halaman terasa seperti potongan surga yang turun ke bumi. Ia benar-benar menyesap setiap tetes kesegaran yang selama ini mustahil ia dapatkan di tengah hiruk-pikuk kota tempat tinggalnya. Tak disangka, Dirga pun demikian. Pria itu tampak begitu santai dan "klik" dengan suasana di rumah baru mertuanya. Pagi di sini bukanlah tentang suara klakson yang saling bersahutan, melainkan simfoni alami dari kicauan burung yang saling bersambut, ditemani gemericik air yang mengalir tenang. Udara yang sejuk menyusup ke pori-pori. Membawa aura positif, membuat siapapun akan berpikir dua kali untuk beranjak.Nadine menghela napas panjang, menikmati oksigen murni yang memenuhi paru-parunya. Rasanya dua hari ini lewat sekejap mata. ‘Sebetulnya masih sangat kurang sekali… tapi ini jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali,’ batinnya. Ia sudah berjanji dalam hati untuk segera kembali karena kerjaan mereka kembali memanggil.
Perjalanan panjang akhirnya selesai. Mobil yang sedari tadi melewati jalan setapak dengan pemandangan yang memanjakan mata pun mulai menepi di penghujung jalan. Tampak Nadine semakin tak sabar. Begitu pula yang lainnya. Kala mobil berhenti di depan pagar kayu, sayup-sayup mata Nadine melihat yang sudah sangat familiar. Seorang wanita dengan ciri khasnya yang tak pernah berubah dari dulu. Selalu menggunakan daster batik yang rapi dengan rambut disanggul kecil. Nadine melambai dari kejauhan, wanita paruh baya yang sempat memicingkan matanya langsung berlari kecil menghampiri. Itu adalah Mama Nadine—wanita hebat yang lembut dan sabar sekali. Wajahnya yang teduh seketika berbinar begitu melihat sosok anak perempuannya turun dari mobil. "Nadine! Ya ampun, anak Mama…" lirih Mama Nadine sambil merentangkan tangan lebar-lebar. Matanya memanas seakan menumpuk rindu yang tak bisa diungkapkan kata. Tanpa aba-aba, Nadine
Nadine dan Mama mertuanya hanyut dalam kesibukan kecil di dapur. Suasana terasa begitu akrab. Bahkan terlihat lebih akrab dari sekedar menantu dan mertua. Kehadiran mertuanya ini sedikit mengobati rindu Nadine pada ibunya. Ia benar-benar bisa merasakan ketulusan dari mama mertuanya ini. Senyumnya yang teduh selalu menjadi obat untuk Nadine. Mereka memang baru 3 hari menyandang status mertua dan menantu, tapi kedeketan Nadine dan mertuanya ini sudah jauh lebih dalam. Bahkan lebih dekat dari sebelumnya. Sesekali Nadine termangu akan sosok mertuanya ini. Tanpa sadar lamunan Nadine ini tertangkap ekor mata mama mertuanya. “Gimana kabar mamah, Sayang?” tanya mama mertua Nadine membuat ia terkesiap. “B-Baik, Ma. Mama waktu itu titip salam. Katanya nanti kalau ada waktu senggang bakalan main kesini,” sahut Nadine gugup karena tak enak. “Sebelum mamamu kesini… nanti kita main dulu kesana gimana? Biar
“Mbak Nadine!” teriak melengking seorang wanita paruh baya menyela keheningan mereka. Nadine tampak memicingkan matanya, memastikan siapa yang memanggilnya dari jauh. Senyum Nadine seketika merekah. Ternyata Bu RT yang datang dengan pasukannya. Sesuai janjinya waktu itu. Wajah-wajah familiar jelas sekali berseri. Tulus menyambut kehadiran Nadine-kembali. Mereka tampak senang sekali menyambut Nadine dan Dirga. Nadine segera menyambut jabatan tangan mereka, yang dengan cepat berubah menjadi pelukan-pelukan hangat yang menenangkan hatinya. Suara riuh tawa dan rentetan pertanyaan khas tetangga mulai memenuhi udara. Teras rumah yang semula sepi, mulai ramai. Melihat keramahan yang tak berubah itu, perasaan was-was Nadine perlahan meluruh. Ia merasa kehangatan itu masih terjaga sampai sekarang. Bahkan ada yang tak menyangka bisa bertemu Nadine kembali setelah sekian lama. “Aura Mbak Nadine yang sekarang jauh berbe
["Umphh.. Mas Rhevan..."] ["Iya sayang."] ["Aku cinta banget sama kamu."] ["Aku juga sangat mencintaimu, Sayang."] Nadine berjalan lemas menyusuri jalanan. Satu jam lebih ia mengabaikan waktunya di taman dekat perumahan, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke rumah. Namun sepanjang perjalanan
Tiba-tiba saja pintu di depan Nadine terbuka. Perempuan itu terlonjak kecil, sama terkejutnya dengan Dirga yang berdiri di ambang pintu. Dirga mengenakan kaos oblong hitam dan celana rumah sederhana lengkap dengan rambutnya yang sedikit berantakan. Dengan sedikit gugup, Nadine berucap, “Makanan
“Sebenarnya...” Nadine berhenti sejenak. Pandangannya jatuh ke arah bayangan Dirga yang tampak di pantulan jendela dapur. “Apa alasan kamu cerai dulu?” Suara air yang mengalir dari keran mendadak berhenti. Dirga membeku sejenak, seperti tak menyangka pertanyaan itu akan muncul di sela keheningan s
Dirga menutup pintu perlahan, langkahnya pelan menapaki lantai ruang tamu yang tenang. Pandangannya langsung menyapu seisi ruangan, mencari sosok Nadine. Ia sempat tertegun ketika melihat perempuan itu duduk di dekat jendela, tubuhnya tampak tegang dengan mata membesar ketakutan. “Nad…” panggiln







