Mag-log inDimas menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu. Tapi pada akhirnya, ia justru mengalihkan pandangan. Dan berkata, “Udah malam,” ucapnya datar. "Ayo kita istirahat!" Amanda membeku sepersekian detik. “Itu jawaban kamu?” tanyanya pelan. Dimas tidak menatapnya lagi. Ia hanya berbaring, memalingkan wajah ke arah lain. “Kita bahas ini lain kali.” Nada suaranya tidak keras. Tapi cukup jelas untuk menutup percakapan. Amanda menatap pria itu beberapa detik. Sorot matanya berubah. “Oh, oke,” gumamnya pelan. Ia perlahan menjauh sedikit, tidak lagi memeluk Dimas seperti tadi. Amanda berbaring menghadap langit-langit. Matanya terbuka. Pikirannya jelas tidak setenang ekspresinya. ***Keesokan harinya... Di atas ranjang, Amanda masih terlelap. Tubuhnya sedikit meringkuk, selimut menutupi setengah badannya. Wajahnya terlihat tenang… seolah tidak ada beban. Namun di sisi lain kamar, Dimas sudah berdiri rapi. Kemeja sudah terpasang sempurna, jas tergantung di lengannya. Rambutnya tertata, w
Di seberang sambungan, pertanyaan Bu Darma masih menggantung. “Lalu Amanda sendiri gimana?” ulangnya pelan. Nadine terdiam sejenak. Ia melirik Dirga, lalu menarik napas panjang. “Aku ketemu dia kemarin, Ma.” “Ketemu di mana?” suara Bu Darma terdengar sedikit terkejut. “Di restoran. Dia juga yang ngasih tau info soal Mas Rhevan. Pas ketemu, dia sedang bersama kekasih barunya." Setelah itu keduanya kembali mengobrol, tapi tidak lagi tentang Amanda ataupun tentang Rhevan. Tapi tentang persiapan pernikahan Nadine dan Dirga. Bu Darma nanya sampai sejauh mana persiapan mereka. Nadine juga berencana menjemput Bu Darma untuk fitting kebaya untuk dipakai saat acara pernikahan. Dan masih banyak lagi yang dibahas. Setelah beberapa saat, Nadine menurunkan ponselnya. Dirga yang sejak tadi duduk di sampingnya tidak langsung bicara. Ia hanya menatap Nadine sejenak, lalu menggeser sedikit posisinya agar lebih dekat. “Nad…” panggilnya pelan. Nadine menoleh. Tanpa banyak kata, Dirga mengangkat
Di dalam mobil, suasana terasa hening. Hanya suara mesin yang menyala pelan dan sesekali deru kendaraan lain yang lewat di jalan. Langit di luar tampak abu-abu, seolah ikut membawa sisa suasana dari pemakaman tadi. Nadine duduk di kursi penumpang, kepalanya sedikit bersandar ke kaca jendela. Tatapannya kosong, menembus langit yang menggantung di atas sana. Entah apa yang ia pikirkan. Dirga melirik sekilas ke arahnya, tapi tidak langsung bicara. Ia tahu—perempuan di sampingnya masih butuh waktu untuk mencerna semuanya. Beberapa menit berlalu dalam diam. Sampai akhirnya... “Ga…” suara Nadine pelan. Dirga menoleh sedikit. “Hm?” Nadine tidak langsung menatapnya. Matanya masih tertuju ke luar jendela. “Takdir Tuhan itu…” ia berhenti sebentar, seolah mencari kata yang tepat. “Benar-benar misterius ya.” Dirga diam, mendengarkan. Nadine tersenyum tipis, tapi ada rasa getir di sana. “Persis kayak yang kamu bilang dulu.” Ia menarik napas pelan. “Aku nggak pernah nyangka, hidup seseoran
Di depan pintu ruangan itu, langkah Nadine terhenti. Tangannya masih menggenggam erat tangan Dirga, tapi kali ini genggamannya justru terasa dingin. “Nad…” Dirga menoleh, memperhatikan wajahnya yang pucat. Nadine menatap ke arah pintu yang setengah terbuka. Napasnya tertahan. Ada ketakutan yang jelas terlihat di matanya. Dirga menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan, ia mengangkat tangannya dan mengusap lembut rambut Nadine. “Kamu tunggu di sini saja!” titah Dirga lembut, “biar aku sendiri yang masuk buat cek.” Nadine langsung menatapnya. Ada sedikit kelegaan di sana, bercampur rasa bersalah. Dirga tersenyum tipis. "Aku masuk dulu!" Nadine mengangguk pelan. Tangannya perlahan melepas genggaman Dirga. Ia hanya memperhatikan Dirga yang melangkah masuk ke dalam ruangan itu sendirian. Ruangan itu dingin. Bau khas rumah sakit langsung terasa. Seorang petugas berdiri di samping, lalu membuka kain putih yang menutupi tubuh di atas meja. Perlahan, wajah itu mulai terlihat. Dirga ter
“Itu takdir,” lanjutnya. “Dan bagian itu, bukan wilayah kita lagi.”Nadine menarik napas dalam. Perlahan. Dadanya yang tadi terasa sesak mulai sedikit ringan. Ia mengangguk kecil di pelukan Dirga.“Iya…” bisiknya pelan.Dirga tersenyum tipis, meski Nadine tidak melihatnya.“Tugas kita sekarang bukan melihat ke belakang,” ucapnya lagi. “Tapi fokus ke depan.”Nadine sedikit menjauh, menatap wajah Dirga.Lalu, dengan senyum kecil yang lebih hangat, Dirga menambahkan, “Kita mau nikah, Nad. Harusnya yang kamu pikirin sekarang itu hal-hal bahagia.”Nadine terdiam sesaat. Senyum kecil akhirnya muncul di bibirnya. “Kamu benar juga,” gumamnya.Dirga mengusap ujung matanya yang masih basah. “Nah, gitu dong.”Nadine tertawa kecil, meski matanya masih sedikit merah. Dirga memeluk Nadine sekali lagi dan Nadine juga membalas Dirga dengan hal yang sama. Sampai akhirnya Dirga kembali berbicara. "Sebenarnya aku kurang setuju dengan apa yang aku katakan ini, tapi sepertinya kamu mungkin lebih tenang
"Amanda?" Matanya langsung melebar sedikit.Merasa namanya dipanggil, Amanda yang tadinya sibuk mencari hapenya di tas langsung mendongak, selama beberapa detik keduanya saling melemparkan pandangan.Amanda yang pertama bereaksi. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Nadine,” ucapnya santai. Seolah pertemuan ini bukan sesuatu yang mengejutkan.Nadine masih diam. Tatapannya turun sekilas—dan saat itulah ia menyadari sesuatu yang lain.Di belakang Amanda, berdiro seorang pria. Posturnya tinggi, berjas rapi, dan dengan aura percaya dirinya cukup kuat. Yang jelas itu bukan Rhevan.Amanda memperhatikan arah pandangan itu. Ia melirik ke belakang sekilas, lalu kembali menatap Nadine. "Kenalin Nad, pacarku.""Pacar?" Nadine mengerutkan keningnya. "Lalu Mas Rhevan—""Aku dan dia udah cerai sebulan lalu."Kedua bola mata Nadine melebar. "Cerai?"Amanda mendengkus pelan dan berkata, "Aku dan dia udah nggak ada kecocokan. Dan lagi—" Ia sengaja memberikan jeda supaya Nasine penasa. "Sekarang Mas Rhevan
Sore harinya, Nadine sudah berdiri di depan sebuah bangunan berlantai tiga dengan tampilan modern bernuansa abu-putih.Nadine mendongak, matanya menyipit. “Mba Sarah?” panggilnya pelan.“Iya?” Sarah menjawab santai sambil membenarkan sling bag-nya.“Kamu yakin ini kosannya?” tanya Nadine ragu. “In
Gerakan Nadine terhenti. Tangannya yang tengah meraih tumpukan pakaian di dalam koper membeku saat ponselnya bergetar di atas kasur.Ia melirik layar ponsel sekilas—dan seketika rahangnya mengeras. "Siapa yang tel—"Nadine tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat nama Amanda tertera di layar. Tanp
“Kamu enggak berubah sama sekali, Ga.” Nadine masih menatap rumah itu beberapa saat, matanya sayu. “Kalau begini, kesannya aku yang dosa karena nyuruh kamu ngejauh.”Bahunya jatuh lesu. Ada rasa bersalah yang menekan dadanya pelan-pelan.“Aku jadi ngerasa bersalah,” gumamnya lirih, nyaris seperti p
“Mba, beneran Mba mau pindah hari ini?” tanya Bu Nana dengan suara ragu.Nadine mengangguk pelan. Wajahnya tampak lesu dan sendu, seolah semalaman tidak benar-benar tidur. “Iya, Bu Nana,” jawabnya lirih.“Ya ampun, Mba,” sahut Bu Keke ikut menimpali sambil menatap tumpukan barang yang satu per satu







