LOGIN"Ga, aku boleh tanya sesuatu?" Perempuan itu mulai angkat bicara. Namun terdengar nada kehati-hatian di sana. Juga sedikit rasa ragu. Alis Dirga sedikit berkerut saat melihat ekspresi wajah Nadine yang berubah jadi lebih serius. "Nanya apa, Nad?" “Kalau nanti kita udah nikah—” Nadine berhenti sebentar, mencari kata. “Aku boleh tetap kerja nggak?” Dirga menatapnya. Wajahnya berubah serius dan dalam. Pertanyaan barusan membuatnya agak kaget. Nadine menelan ludah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Kalau aku mau lanjut karir aku—” lanjutnya pelan, “kamu gimana?” Dirga tidak langsung menjawab. Ia bersandar sedikit, lalu menghela napas pendek. Dan ketika ia bicara, nadanya berubah tegas. “Kenapa kamu nanya itu?” Nadine sedikit gugup. “Cuma… pengen tau aja.” Dirga men
“Tapi Mba,” Dea tiba-tiba menyipitkan mata, seperti baru kepikiran sesuatu. “Kalau Pak Dirga gimana?” Nadine menoleh. “Maksudnya?” “Ya…” Dea mengangkat bahu. “Kalau misalnya dia nggak ngebolehin kamu kerja gimana? Padahal kamu masih mau ngejar karir?” Nadine langsung terdiam. Pertanyaan itu cukup untuk membuatnya berpikir sejenak. “Gimana kalau dia pengen kamu full di rumah aja?” lanjut Dea santai, tapi jelas ada nada penasaran di sana. Nadine menelan ludah. Beberapa detik ia hanya diam, mencerna kemungkinan itu. Dirga melarangnya kerja? Entah kenapa, bayangan itu terasa mustahil. Tapi bukan tidak mungkin. “Aku…” Nadine menghela napas pelan, “jujur belum pernah nanya ke dia soal itu.” Dea mengangkat alis. “Serius?” “Iya,” Nadine tersenyum kecil. “Kita belum sampai bahas sedetail itu.”
Sarah menatap Nadine dengan ekspresi penuh harap, meskipun masih ada sisa kesal di wajahnya. “Mba Nad…” katanya sambil mendekat sedikit, menurunkan nada suara. “Coba deh ngomong ke Pak Dirga.” Nadine langsung mengernyit tipis. “Ngomong apa?” “Ya soal ini,” jawab Sarah cepat. “Suruh buka loker baru buat admin gitu! Kita kekurangan orang banget kayaknya. Makanya kerjaan jadi numpuk semua ke kita.” Dea yang berdiri di samping hanya melirik sekilas, sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini. Nadine menghela napas pelan. “Mba Sarah…” ucapnya hati-hati, “itu kan kebijakan perusahaan, dan itu nggak ada hubungannya sama aku.” “Iya, aku tau,” potong Sarah cepat. “Tapi kan kamu bisa ngomong ke dia. Maksudku, kamu kan calon istrinya Pak Dirga. Pasti bisa dong bujuk dia untuk nambah pegawai.” Nadine langsung menggeleng kecil. “Aku nggak mau ikut campur urusan kayak gitu,” jawabnya tenang, tapi tegas. “Meskipun aku sama dia ada hubungan, tapi itu diluar ranahku, Mba." Sarah mend
"Kenapa kamu nanya gitu?" Amanda langsung tersenyum tipis, meskipun hatinya tidak ikut tersenyum. “Nggak apa-apa,” katanya ringan. “Cuma nanya aja.” Suara Dimas kembali terdengar lebih tegas. “Amanda…” panggilnya, nada suaranya berubah. “Kamu jangan gampang OVT deh!” Amanda langsung diam. Alisnya perlahan berkerut. “Aku nggak suka kalau kamu jadi curigaan gini,” lanjut Dimas. “Aku lagi kerja. Sibuk. Udah itu aja! Kamu jangan mikir macam-macam!” Amanda mendengkus pelan. “Ya gimana aku nggak curiga?” balasnya, kali ini tidak lagi berusaha menutup-nutupi. “Kamu tiba-tiba susah dihubungi, terus tiap ditanya jawabannya gitu-gitu aja.” Dimas memilih untuk tidak memperpanjang. Amanda menghela napas, mencoba menurunkan emosinya. “Ya udah, aku bakal berhenti OVT,” katanya akhirnya, lebih pelan. ““Tapi…” lanjutnya, “kamu kapan pulang?” Lagi-lagi, Dimas diam. “Dim?” panggilnya lagi, sedikit mengernyit. "Aku akan pu—" Belum sempat dia melanjutkan ucapannya dan menutup telfonn
Amanda terdiam cukup lama setelah kata-katanya sendiri menggantung di udara. Tangannya masih menggenggam ponsel, tapi kini perlahan melemah. Lalu tiba-tiba sebuah ingatan muncul begitu saja. Ucapan yang dulu pernah ia lontarkan dengan santai, bahkan sambil tertawa kecil. [“Aku mah nggak masalah kalau harus jadi pelakor lagi.”] Amanda langsung mengernyit. Wajahnya berubah. “Itu…” gumamnya pelan, suaranya terdengar getir, “bohong.” Ia menggeleng kecil. Bukan “bohong” sepenuhnya, lebih tepatnya—menutupi apa yang sebenarnya ia rasakan. Siapa sih yang benar-benar mau jadi orang ketiga? Siapa yang mau dicintai tapi harus berbagi? Amanda tertawa kecil meskipun tidak ada yang lucu. “Konyol banget aku waktu itu,” bisiknya lirih. Ia menatap jauh ke depan, matanya mulai berkabut. “Aku juga pengen jadi satu-satunya.” Amanda tidak menyangkalnya. Ia juga ingin dicintai dengan utuh. Tanpa bayangan orang lain. Tanpa harus sembunyi-sembunyi. Tanpa harus merasa bersalah. “Tapi kenapa?” alisny
Sementara itu, di tempat lain… Langit malam tampak gelap tanpa bintang. Angin berhembus pelan, mengibaskan tirai tipis di balkon rumah Amanda. Amanda berdiri di sana, bersandar pada pagar balkon dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya muram, alisnya berkerut sejak tadi. Tatapannya kosong, tapi pikirannya penuh. Sudah tiga hari. Tiga hari sejak Dimas bilang “keluar kota” untuk urusan kerja. Dan sejak itu, pria itu seperti hilang. Membuat Amanda merasa ditinggalkan. Teleponnya jarang diangkat. Kalaupun tersambung, jawabannya singkat, terburu-buru, seperti tidak punya waktu. Chat? Dibalas.Tapi lama. Sangat lama. Amanda menghela napas panjang, rahangnya mengeras. “Apa sih sebenarnya yang dia lakukan?” gumamnya pelan. Ia mengambil ponselnya lagi, menatap layar chat yang terakhir. [“Kamu lagi di mana?”] Ia mengetik pesan itu dari pagi. Dan dibalas singkat sore harinya sambil berjanji akan mengubunginya lagi nanti. Dan “nanti” itu hanya jadi angin lewat hingga detik ini. Amanda meng
"Ini benar ruangan saya?" Nadine terperangah begitu melihat ruangan tempat kerjanya. Ruangan itu memiliki gaya tata letak terbuka yang rapi dan modern. Meja-meja berwarna terang dengan laci penyimpanan di bawahnya tersusun berjajar rapi, dipisahkan oleh partisi abu-abu rendah. Kursi ergonomis berw
“Nadine!!” Suara bentakan itu menggema keras di ruangan, membuat semua kepala otomatis menoleh. Nadine spontan berdiri, wajahnya bingung, sementara jantungnya berdetak cepat. Clara berjalan cepat ke arahnya, menenteng beberapa lembar berkas dengan ekspresi penuh amarah. “Kamu ini kerja pakai otak
“Mas?” suara Nadine pelan tapi terdengar jelas. Berpura-pura tidak tau. “Benar yang Mas Dirga omongin? Kamu beneran bawa perempuan lain ke rumah?” Rhevan langsung gelagapan. Wajahnya mendadak pucat, sementara matanya bergerak tak menentu seperti sedang mencari alasan. “A-apa-apaan sih kamu, Nad?”
“Mas, coba liat penampilanku!” Suara Nadine terdengar cerah dari dekat cermin. Rhevan yang baru saja keluar dari kamar mandi spontan menoleh. Handuk masih tergantung di bahunya, sementara rambutnya meneteskan sisa air ke lantai. Ia sempat terpaku sepersekian detik melihat istrinya berdiri di depa







