Share

Awal Rencana

last update publish date: 2026-02-10 20:23:35

“Oh ya, Yanto,” suara Pak Joko terdengar santai sambil menyeruput kopi. “Yang tadi pagi ngobrol sama kamu itu siapa? Kalian kenal?”

Gerakan tangan Yanto terhenti sesaat. Raut wajahnya yang semula datar mendadak mengeras. Rahangnya mengatup.

“Enggak,” jawabnya singkat dan dingin. “Tapi dia nyariin Mba Nadine.”

Pak Joko mengangkat alis. “Loh? Masa? Jangan-jangan mereka pacarnya, ya?”

Gelas kopi di genggaman Yanto diremas lebih kuat. Jemarinya menegang sampai buku-buku jarinya memutih. Giginya ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ingin Jadi Satu-satunya

    Amanda terdiam cukup lama setelah kata-katanya sendiri menggantung di udara. Tangannya masih menggenggam ponsel, tapi kini perlahan melemah. Lalu tiba-tiba sebuah ingatan muncul begitu saja. Ucapan yang dulu pernah ia lontarkan dengan santai, bahkan sambil tertawa kecil. [“Aku mah nggak masalah kalau harus jadi pelakor lagi.”] Amanda langsung mengernyit. Wajahnya berubah. “Itu…” gumamnya pelan, suaranya terdengar getir, “bohong.” Ia menggeleng kecil. Bukan “bohong” sepenuhnya, lebih tepatnya—menutupi apa yang sebenarnya ia rasakan. Siapa sih yang benar-benar mau jadi orang ketiga? Siapa yang mau dicintai tapi harus berbagi? Amanda tertawa kecil meskipun tidak ada yang lucu. “Konyol banget aku waktu itu,” bisiknya lirih. Ia menatap jauh ke depan, matanya mulai berkabut. “Aku juga pengen jadi satu-satunya.” Amanda tidak menyangkalnya. Ia juga ingin dicintai dengan utuh. Tanpa bayangan orang lain. Tanpa harus sembunyi-sembunyi. Tanpa harus merasa bersalah. “Tapi kenapa?” alisny

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Jadi Pelakor Untuk Kedua Kalinya?

    Sementara itu, di tempat lain… Langit malam tampak gelap tanpa bintang. Angin berhembus pelan, mengibaskan tirai tipis di balkon rumah Amanda. Amanda berdiri di sana, bersandar pada pagar balkon dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya muram, alisnya berkerut sejak tadi. Tatapannya kosong, tapi pikirannya penuh. Sudah tiga hari. Tiga hari sejak Dimas bilang “keluar kota” untuk urusan kerja. Dan sejak itu, pria itu seperti hilang. Membuat Amanda merasa ditinggalkan. Teleponnya jarang diangkat. Kalaupun tersambung, jawabannya singkat, terburu-buru, seperti tidak punya waktu. Chat? Dibalas.Tapi lama. Sangat lama. Amanda menghela napas panjang, rahangnya mengeras. “Apa sih sebenarnya yang dia lakukan?” gumamnya pelan. Ia mengambil ponselnya lagi, menatap layar chat yang terakhir. [“Kamu lagi di mana?”] Ia mengetik pesan itu dari pagi. Dan dibalas singkat sore harinya sambil berjanji akan mengubunginya lagi nanti. Dan “nanti” itu hanya jadi angin lewat hingga detik ini. Amanda meng

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Belum Selesai

    "Sekarang ayo kita cek souvenir!" ajak Dirga sambil masuk ke mobil. Nadine langsung menyandarkan kepala ke kursi. “Boleh-boleh," katanya dengan penuh semangat. Toko souvenir yang mereka datangi penuh dengan berbagai pilihan—dari lilin aromaterapi, mini plant, sampai pouch custom. Nadine berjalan pelan, matanya berbinar lagi meskipun lelah. “Lucu banget…” gumamnya sambil memegang mini succulent. Dirga berdiri di sampingnya. “Yang ini?” “Hmm… iya. Tapi takut ribet.” Mereka pindah ke rak lain. “Aku suka yang ini,” kata Dirga tiba-tiba, menunjuk set kecil berisi lilin aroma terapi dan kartu ucapan. Nadine melihatnya. “Bagus juga sih. Bisa buat bikin ruangan wangi." “Kita coba cek sana dulu, deh!" Nadine mengangguk setuju. Mereka memilih beberapa barang yang bisa dijadikan souvenir. Akhirnya, setelah cukup lama memilih dan berdiskusi, mereka sepakat mengambil souvenir yang sederhana tapi berkesan—sesuatu yang bisa dipakai dan diingat. *** Hampir jam 7 malam ketika

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Custom Gaun

    "Tunggu! Biar aku tebak. Kalian ke sini pengen buat gaun pengantin kan?" Tebakan Risma itu membuat Nadine langsung salah tingkah. Pipinya memerah, ia refleks melirik Dirga sebentar sebelum menunduk kecil. Dirga yang melihat itu justru menyeringai tipis. “Wah,” celetuknya santai. “Selain jadi designer, sekarang kamu jadi tukang ramal juga ya, Ris? Kok bisa tau tujuan kita ke sini?” Risma yang awalnya santai, langsung membeku sepersekian detik. “Hah?” matanya membulat. “Loh—” Ia menatap mereka bergantian. “INI SERIUSAN?!” suaranya langsung naik satu oktaf. Dirga hanya tersenyum kecil. Alisnya bergerak naik turun tanda mengiyakan. “YA AMPUNNN!!” Risma langsung heboh sendiri. Tanpa aba-aba, ia langsung memeluk Nadine dengan antusias. “Selamat! Selamat ya kalian!” katanya sambil sedikit menggoyang tubuh Nadine saking senangnya. Nadine terkekeh kecil, masih malu-malu. “Makasih, Mba.” Risma melepaskan pelukannya, tapi kedua tangannya masih memegang lengan Nadine. Wajahnya benar-benar

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Yang Penting Salah Cinta

    Amanda terdiam sebentar setelah kalimat itu dilontarkan. Lalu ia mengangkat bahu ringan. “Iya… iya,” jawabnya seolah mengiyakan. “Aku ngerti kok maksud kalian.” Nada suaranya terdengar santai. Terlalu santai malah. Seperti tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan teman-temannya.Kedua temannya saling pandang lagi. Mereka tahu—jawaban itu belum tentu berarti Amanda benar-benar menerima.Amanda meneguk minumannya sekali, lalu meletakkan gelasnya kembali ke meja. “Cuma—” ia berhenti sebentar, matanya menatap lurus ke depan. “Buat aku sekarang, yang paling penting itu perasaan aku ke dia.”Kedua temannya langsung memperhatikan lebih serius.“Aku cinta banget sama Dimas,” lanjutnya tanpa ragu. “Dan aku ngerasa dia juga sama. Buatku saling mencintai saja udah cukup.”“Manda…” salah satu temannya mencoba menyela, tapi Amanda sudah lebih dulu melanjutkan.“Kadang—” ia tersenyum tipis, tapi ada sesuatu yang keras di baliknya, “nggak semua hal harus dijelasin dulu kan?” balasnya.Temannya me

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Ada Gila-Gilanya

    Amanda terkekeh kecil melihat ekspresi mereka.“Iya,” lanjutnya. “Waktu itu kalian kenalin aku ke teman kalian itu, kan? Dan ternyata temen kalian itu ngajak Dimas. Dan aku langsung naksir ama dia.""Gila! Dikenalin ke siapa naksir ke siapa.""Tau nih, mana gak pernah cerita lagi."“Terus?” kedua temannya makin penasaran.Amanda mengangkat bahu. “Ya udah. Dari situ ngobrol, lanjut ketemu lagi sampai akhirnya ya begini.”“Jadi kalian belum lama dong?” tanya salah satu dari mereka.Amanda mengangguk kecil. “Belum.”Temannya terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Pantes aja dia masih belum mau serius.”Amanda langsung menatapnya. “Maksud kamu?""Mungkin dia masih mau kenal kamu lebih dekat."Ekspresi wajah Amamda kembali berubah, ia menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan. Jemarinya kembali memainkan gelas di depannya."Terus kamu sendiri— udah sejauh mana kamu kenal dia?"Amanda terdiam beberapa detik setelah pertanyaan itu dilontarkan. Ia tidak langsung menjawab.Tangannya masi

  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Sorry

    Keesokan paginya, Rhevan terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Tenggorokannya kering, perutnya terasa mual, dan aroma alkohol yang masih tercium dari nafasnya. "Ughh..." Ia mengerang pelan lalu duduk perlahan di sofa. Gerakan sekecil itu saja cukup membuat kepalanya berputar. Rhevan memijat pel

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Di Pantau

    “Mba Clara…” Gio memanggilnya lagi.“Hm?” jawab Clara singkat, masih memegang sendok kecilnya.Gio mencondongkan tubuh sedikit ke depan, nadanya dibuat santai tapi jelas mengarah. “Tipe cowok Mba Clara itu yang kayak gimana?”Gerakan tangan Clara berhenti di udara. Ia menatap Gio datar. “Kenapa nan

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Mencurigakan

    Dea refleks menarik lengan Sarah sedikit ke bawah meja. “Eh, pura-pura nggak lihat aja! Jangan sampai mereka tau!”Sarah yang tadinya sudah setengah berdiri langsung duduk lagi. “Oh—iya, iya!” bisiknya cepat. Ia buru-buru mengambil sendok, berpura-pura sibuk mengaduk minumannya sendiri, meski matan

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Mas Duda, Tolong Buat Aku Puas   Segalanya Untukmu

    "Aku janji nggak akan nyakitin kamu lagi, aku janji nggak akan buat kamu sedih lagi,” ucap Rhevan lirih sambil menarik pundak Amanda ke arahnya. Ia memeluk Amanda erat, seolah ingin menebus semua kata kasar yang terlanjur keluar semalam. Dagu Rhevan bertumpu di puncak kepala Amanda, napasnya masih

    last updateLast Updated : 2026-04-03
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status