LOGINAmanda terdiam sebentar setelah kalimat itu dilontarkan. Lalu ia mengangkat bahu ringan. “Iya… iya,” jawabnya seolah mengiyakan. “Aku ngerti kok maksud kalian.” Nada suaranya terdengar santai. Terlalu santai malah. Seperti tidak terlalu memikirkan apa yang dikatakan teman-temannya.Kedua temannya saling pandang lagi. Mereka tahu—jawaban itu belum tentu berarti Amanda benar-benar menerima.Amanda meneguk minumannya sekali, lalu meletakkan gelasnya kembali ke meja. “Cuma—” ia berhenti sebentar, matanya menatap lurus ke depan. “Buat aku sekarang, yang paling penting itu perasaan aku ke dia.”Kedua temannya langsung memperhatikan lebih serius.“Aku cinta banget sama Dimas,” lanjutnya tanpa ragu. “Dan aku ngerasa dia juga sama. Buatku saling mencintai saja udah cukup.”“Manda…” salah satu temannya mencoba menyela, tapi Amanda sudah lebih dulu melanjutkan.“Kadang—” ia tersenyum tipis, tapi ada sesuatu yang keras di baliknya, “nggak semua hal harus dijelasin dulu kan?” balasnya.Temannya me
Amanda terkekeh kecil melihat ekspresi mereka.“Iya,” lanjutnya. “Waktu itu kalian kenalin aku ke teman kalian itu, kan? Dan ternyata temen kalian itu ngajak Dimas. Dan aku langsung naksir ama dia.""Gila! Dikenalin ke siapa naksir ke siapa.""Tau nih, mana gak pernah cerita lagi."“Terus?” kedua temannya makin penasaran.Amanda mengangkat bahu. “Ya udah. Dari situ ngobrol, lanjut ketemu lagi sampai akhirnya ya begini.”“Jadi kalian belum lama dong?” tanya salah satu dari mereka.Amanda mengangguk kecil. “Belum.”Temannya terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Pantes aja dia masih belum mau serius.”Amanda langsung menatapnya. “Maksud kamu?""Mungkin dia masih mau kenal kamu lebih dekat."Ekspresi wajah Amamda kembali berubah, ia menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan. Jemarinya kembali memainkan gelas di depannya."Terus kamu sendiri— udah sejauh mana kamu kenal dia?"Amanda terdiam beberapa detik setelah pertanyaan itu dilontarkan. Ia tidak langsung menjawab.Tangannya masi
Dimas menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu. Tapi pada akhirnya, ia justru mengalihkan pandangan. Dan berkata, “Udah malam,” ucapnya datar. "Ayo kita istirahat!" Amanda membeku sepersekian detik. “Itu jawaban kamu?” tanyanya pelan. Dimas tidak menatapnya lagi. Ia hanya berbaring, memalingkan wajah ke arah lain. “Kita bahas ini lain kali.” Nada suaranya tidak keras. Tapi cukup jelas untuk menutup percakapan. Amanda menatap pria itu beberapa detik. Sorot matanya berubah. “Oh, oke,” gumamnya pelan. Ia perlahan menjauh sedikit, tidak lagi memeluk Dimas seperti tadi. Amanda berbaring menghadap langit-langit. Matanya terbuka. Pikirannya jelas tidak setenang ekspresinya. ***Keesokan harinya... Di atas ranjang, Amanda masih terlelap. Tubuhnya sedikit meringkuk, selimut menutupi setengah badannya. Wajahnya terlihat tenang… seolah tidak ada beban. Namun di sisi lain kamar, Dimas sudah berdiri rapi. Kemeja sudah terpasang sempurna, jas tergantung di lengannya. Rambutnya tertata, w
Di seberang sambungan, pertanyaan Bu Darma masih menggantung. “Lalu Amanda sendiri gimana?” ulangnya pelan. Nadine terdiam sejenak. Ia melirik Dirga, lalu menarik napas panjang. “Aku ketemu dia kemarin, Ma.” “Ketemu di mana?” suara Bu Darma terdengar sedikit terkejut. “Di restoran. Dia juga yang ngasih tau info soal Mas Rhevan. Pas ketemu, dia sedang bersama kekasih barunya." Setelah itu keduanya kembali mengobrol, tapi tidak lagi tentang Amanda ataupun tentang Rhevan. Tapi tentang persiapan pernikahan Nadine dan Dirga. Bu Darma nanya sampai sejauh mana persiapan mereka. Nadine juga berencana menjemput Bu Darma untuk fitting kebaya untuk dipakai saat acara pernikahan. Dan masih banyak lagi yang dibahas. Setelah beberapa saat, Nadine menurunkan ponselnya. Dirga yang sejak tadi duduk di sampingnya tidak langsung bicara. Ia hanya menatap Nadine sejenak, lalu menggeser sedikit posisinya agar lebih dekat. “Nad…” panggilnya pelan. Nadine menoleh. Tanpa banyak kata, Dirga mengangkat
Di dalam mobil, suasana terasa hening. Hanya suara mesin yang menyala pelan dan sesekali deru kendaraan lain yang lewat di jalan. Langit di luar tampak abu-abu, seolah ikut membawa sisa suasana dari pemakaman tadi. Nadine duduk di kursi penumpang, kepalanya sedikit bersandar ke kaca jendela. Tatapannya kosong, menembus langit yang menggantung di atas sana. Entah apa yang ia pikirkan. Dirga melirik sekilas ke arahnya, tapi tidak langsung bicara. Ia tahu—perempuan di sampingnya masih butuh waktu untuk mencerna semuanya. Beberapa menit berlalu dalam diam. Sampai akhirnya... “Ga…” suara Nadine pelan. Dirga menoleh sedikit. “Hm?” Nadine tidak langsung menatapnya. Matanya masih tertuju ke luar jendela. “Takdir Tuhan itu…” ia berhenti sebentar, seolah mencari kata yang tepat. “Benar-benar misterius ya.” Dirga diam, mendengarkan. Nadine tersenyum tipis, tapi ada rasa getir di sana. “Persis kayak yang kamu bilang dulu.” Ia menarik napas pelan. “Aku nggak pernah nyangka, hidup seseoran
Di depan pintu ruangan itu, langkah Nadine terhenti. Tangannya masih menggenggam erat tangan Dirga, tapi kali ini genggamannya justru terasa dingin. “Nad…” Dirga menoleh, memperhatikan wajahnya yang pucat. Nadine menatap ke arah pintu yang setengah terbuka. Napasnya tertahan. Ada ketakutan yang jelas terlihat di matanya. Dirga menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan, ia mengangkat tangannya dan mengusap lembut rambut Nadine. “Kamu tunggu di sini saja!” titah Dirga lembut, “biar aku sendiri yang masuk buat cek.” Nadine langsung menatapnya. Ada sedikit kelegaan di sana, bercampur rasa bersalah. Dirga tersenyum tipis. "Aku masuk dulu!" Nadine mengangguk pelan. Tangannya perlahan melepas genggaman Dirga. Ia hanya memperhatikan Dirga yang melangkah masuk ke dalam ruangan itu sendirian. Ruangan itu dingin. Bau khas rumah sakit langsung terasa. Seorang petugas berdiri di samping, lalu membuka kain putih yang menutupi tubuh di atas meja. Perlahan, wajah itu mulai terlihat. Dirga ter
“Nadine…” panggil Bu Wijaya dengan begitu lesu.Nadine mengamati wanita di depannya dengan ekspresi yang sedikit gelap. Sorot matanya nampak tegas, seolah ia tidak mudah digoyahkan oleh apa pun.“Mama,” panggil Nadine akhirnya. Suaranya tenang, meski matanya masih basah. “Aku mau Mama dengar baik-b
Nadine terkejut saat melihat Dirga justru tertidur di sofa ruang tamu. Langkahnya terhenti sesaat. Ia berdiri mematung, menatap tubuh pria itu yang terlelap dengan posisi setengah menyamping, satu lengan menutupi wajahnya.Perlahan, Nadine mendekat. Gerakannya nyaris tak bersuara, seolah takut meng
Dirga diam cukup lama sebelum akhirnya menepikan mobil di pinggir jalan yang agak sepi. Mesin masih menyala, lampu sein berkedip pelan di sisi jalan. Ia mematikan musik yang sejak tadi mengalun samar, lalu menghela napas panjang—seolah sedang mengumpulkan keberanian.“Nad…” panggilnya pelan, suaran
Amanda sempat menarik napas dalam-dalam, telapak tangannya sedikit gemetar saat memutar gagang pintu. Dan begitu pintu apartemen mereka terbuka, kedua bola mata perempuan itu seketika melebar. “Ka—kalian?” suaranya tercekat, nyaris tak keluar.Di hadapannya berdiri tiga pria. Salah satunya berperaw







