"Aku habis dari mal, Bu," alibi Ashana tanpa mengedipkan mata, mencoba menata napasnya yang masih sedikit tersengal. Ia mendekati ranjang tempat Aliyah terbaring koma. "Tadi Dea minta ditemani belanja barang sebentar, pas mau ke sini, jalanan macet parah karena ada perbaikan jalan. Maaf ya, Bu sudah bikin khawatir." Bu Mita mengembuskan napas lega, membelai lembut bahu putri bungsunya, Pak Aris yang duduk di sofa ruangan juga mengangguk mengerti. Sementara di sudut ruangan, Gibran hanya menatap Ashana dengan pandangan yang sulit diartikan. Senyum tipis terukir di bibirnya. Namun, matanya memancarkan keraguan yang sangat jelas. "Ya sudah, yang penting kamu selamat sampai di sini Nak," ujar Bu Mita lembut. "Gibran dari tadi cemas nungguin kamu, Cha." Gibran melangkah mendekati Ashana, memotong jarak di antara mereka. Tangan kanannya terulur, mengusap lembut helai rambut Ashana yang sedikit berantakan lalu menyangkutkannya di belakang telinga sang istri. "Lain kali kalau mau pergi s
続きを読む