Napas Ashana mulai memburu,keheningan bangunan tua itu seketika pecah oleh rasa ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Keberanian yang sejak tadi ia bangun tiba-tiba runtuh dalam sekejap. Ketika Natasya melambaikan tangan, memanggil dua orang pria berbadan tegap dari balik bayang-bayang pilar beton.Salah satu pria itu bertubuh tinggi besar dengan kulit gelap dan tato yang merayap hingga ke leher, mereka melangkah maju. Tatapan matanya kelam, sarat akan intrik dan nafsu liar yang terang-terangan. Pria itu menyeringai, memamerkan deretan gigi yang tidak rata saat mengamati tubuh Ashana dari atas ke bawah."Saya serahkan wanita ini padamu, terserah kalian mau apakan," ujar Natasya dingin, melangkah mundur beberapa langkah. Ia menarik sebuah kursi besi berkarat, duduk santai sembari merogoh tas tangannya untuk mengeluarkan sebuah ponsel canggihnya. "Buat dia mengerti posisi dirinya yang sebenarnya tapi ingat, jangan sampai pingsan terlalu cepat.""Dengan senang hati, Nona,"
続きを読む