MasukSeorang pria tengah berjalan di koridor rumah sakit, tangannya ada kantongan plastik berisi makanan hangat baru saja ia beli dari kantin bawah. Begitu sampai pintu ruang perawatan VIP dibuka, pemandangan pertama yang ia lihat, Ashana yang sedang duduk di samping tempat tidur Aliyah.Wajah Ashana tampak pucat, lingkaran hitam samar membayang di bawah matanya.Sudah dua hari Ashana izin tidak masuk magang karena menjaga Aliyah."Istirahat, jangan sampai kamu yang ikut drop karena memaksakan diri begini," ujar Gibran pelan, berjalan mendekat lalu meletakkan makanan di meja kecil dekat sofa.Ashana mendongak. "Pekerjaanmu sudah selesai Mas?" "Iya, hanya meeting tadi dan berjalan lancar jadi saya bisa pulang lebih cepat, selebihnya saya berikan ke Rio untuk menyelesaikannya," jawab Gibran."Makan dulu, saya sudah membelikan kamu makanan," ujar Gibran lagi.Ashanaa mengusap telapak tangan Aliyah yang masih terbaring lemah dengan selang-selang medis menempel di tubuhnya. "Saya belum lapar,
Dea tertegun mendengar pertanyaan Rio tapi ia akhirya mengangguk pelan dengan raut wajah kaget yang sebisa mungkin ia sembunyikan. Matanya melirik bergantian ke arah Gibran dan Ashana yang berdiri membisu di depan pintu IGD. Tak lama kemudian, derap langkah kaki lain terdengar mendekat. Dua sosok paruh baya berpenampilan bersahaja tetapi berwibawa melangkah cepat menuju koridor tersebut. Mereka adalah orang tua Gibran yang langsung meluncur ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar mendadak dari putranya.Suasana di lorong dingin itu mendadak hening dan sarat akan kecanggungan.Ayah dan Ibu Ashana seketika menunduk, diselimuti rasa malu dan bersalah yang mendalam saat berhadapan langsung dengan besan sekaligus mantan calon mertua dari putri sulung mereka. Mereka untuk pertama kalinya akan bertemu Aliyah setelah acara kaburnya beberapa bulan yang lalu.Namun, alih-alih meluapkan amarah atau memunculkan ketegangan lama, Mamanya Gibran justru melangkah mendekat dan merangkul erat Ibu Asha
Tubuh Ashana terasa membeku seketika. Suara sirene dari telepon seolah berpindah, mengaung-ngaung di dalam kepalanya sendiri. Pegangannya pada gagang ponsel melonggar, matanya membelalak menatap kosong ke arah deretan mobil di parkiran yang remang."Rumah sakit mana Mas Dewa?" bisik Ashana dengan suara yang bergetar hebat. Bibirnya terasa begitu kelu hingga untuk mengeja satu kata saja rasanya seperti menelan duri."Rumah Sakit Medika, Ashana! Segera ke sini!"Panggilan itu langsung terputus sepihak, menyisakan suara tut-tut-tut yang memekakkan telinga. Ponsel di genggaman Ashana hampir saja merosot jatuh ke aspal jika Dea yang baru keluar dari pintu lobi tidak cekatan menangkapnya."Acha, kamu kenapa? Muka kamu pucat banget!" Dea memegang kedua bahu sahabat sekaligus rekan kerjanya itu dengan cemas. Ia bisa merasakan tubuh Ashana bergetar hebat bagai dihantam angin kencang."Dea, Kak Aliyah... Kak Aliyah ditabrak." air mata Ashana langsung pecah. Ia bahkan tidak sanggup melanjutkan
Perempuan dengan tubuh jenjang itu baru saja keluar dari mobilnya setelah pulang pemotretan. Suara ketukan sepatu hak tinggi Natasya bergema di lorong apartemen kemewahannya. Saat ini fikirannya hanya tertambat pada satu nama yaitu Gibran.Laki-laki pengusaha muda yang selama ini ia incar ternyata sudah memiliki istri. Rasa gengsi dan obsesi yang membakar dada membuat Natasya menyewa seorang detektif swasta untuk membongkar sosok wanita yang berani mengambil posisinya yang seharusnya menjadi miliknya.Ponsel Natasya berdering dan menampilkan satu nama yang sudah ia tunggu-tunggu kabarnya. Natasya langsung menjawab telpon orang itu."Hallo Natasya," sapa pria itu dingin dari balik telpon."Hallo, ada apa? Sudah mendapatkan yang saya minta?""Iya, ayo kita bertemu.""Tidak bisa, aku baru saja selesai pemotretan Afdal. kirim saja semua bukti di emailku," sahut Natasya sembari melempar tas tangannya ke sofa setelah ia masuk ke unitnya. "Baiklah, saya akan mengirim semuanya. Didalam folde
Setelah menjawab pertanyaan Gibran dengan saling bantu membantu agar tidak kena marah. Kini sudah memasuki waktu istirahat. Gelak tawa meramaikan kantin lantai lima siang itu, Ashana meminggirkan potongan ayam bakar di piringnya tanpa selera. Sementara tiga temannya yang lain, Dea, Nala, dan Mila sibuk mengobrolkan urusan pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya."Mila, Mila, kamu masih mending dikasih revisi. Lah aku? Kemarin malah salah kirim draf email ke bagian HRD." Nala dengan keluhannya."Tapi jujur ya," potong Nala tiba-tiba, matanya melirik ke arah lorong kantin dengan binar usil, "ada yang bikin suasana magang di sini agak adem. Tuh, liat siapa yang jalan ke sini."Ashana menoleh sekilas dan langsung menghela napas halus, dari arah pintu masuk kantin, Andre berjalan mendekat. Pria itu tampak rapi dengan kemeja putih gulung siku, membawa sebuah kantong kertas di tangan kanannya. Semakin hari, sikap Andre terhadap Ashana makin terang-terangan, membuat ruang gerak Ashana di kan
Panas terik matahari dari luar jendela kantor seakan menembus ke dada Ashana, dari sudut ruangan lantai 14, matanya menatap tajam ke arah pintu ruangan CEO. Gibran, pria yang diam-diam telah mengikat janji suci dengannya sekitar 4 bulanan, keluar bersama Natasya. Perempuan bergaun hitam itu tertawa manja sembari memegang lengan jas Gibran, tampak begitu disengaja.Padahal, kontrak kerja sama antar perusahaan dan Natasya sudah resmi berakhir hampir sebulan lalu. Namun, Natasya masih selalu punya seribu alasan untuk muncul di kantor Gibran, membuat status Ashana sebagai istri rahasia terasa makin menyiksa. Ashana mengepalkan jemarinya, menahan gelombang lelah yang sudah di ambang batas.Saat jam istirahat tiba, Ashana melangkah cepat menuju kedai kopi di seberang gedung kantor bersama Dea. Ia ingin menenangkan hati dan pikirannya, Dea sebagai sahabat dan teman magang setia menemani Ashana. Tak lama kemudian, ponsel Ashana bergetar menampilkan panggilan video dari Aliyah, sang kakak yan
Setelah membuat alasan main dengan Dea setelah pulang magang, akhirnya Ashana terlepas dari cecaran Gibran. Entah suaminya percaya beneran atau pura-pura yang jelas ia bisa segera pergi dari hadapan Gibran saat ini. Ashana pun melakukan bersih-bersih sebelum istirahat. Sekitar jam 10 malam, Ashana
"Ssillahkan Pak," jawab Dea sedikit gugup.Gibran dan Rio tanpa bicara lagi langsung duduk berhadapan dengan Ashana dan Dea. Mereka seakan dua pasangan sejoli yang lagi double date."Tumben Pak Gibran dan Pak Rio makan di kantin ya," bisik beberapa karyawan yang hadir di kantin dan menyaksikan pema
Sesuai kesepakatan bersama, pernikahan Ashana dan Gibran dirahasiakan. Gibran tidak ingin membuat berita negatif untuk 2 keluarga jika tau mempelainya tiba-tiba diganti.Ashana tidak masalah sama sekali karena ke depannya ia masih bebas bermain tanpa harus pusing dengan status istri seorang CEO. Se
2 keluarga itu baru tau kalau ternyata, Ashana dan Gibran sudah saling kenal. Mereka ternyata bos dan anak magang di kantor setelah mengintrogasi sebentar.Setelah introgasi mendadak selesai, baru akan dilakukan pemasangan cincin nikah. Kedua keluarga inti sudah berada di dalam kamar untuk menyaksi







