LOGIN"Aku habis dari mal, Bu," alibi Ashana tanpa mengedipkan mata, mencoba menata napasnya yang masih sedikit tersengal. Ia mendekati ranjang tempat Aliyah terbaring koma. "Tadi Dea minta ditemani belanja barang sebentar, pas mau ke sini, jalanan macet parah karena ada perbaikan jalan. Maaf ya, Bu sudah bikin khawatir." Bu Mita mengembuskan napas lega, membelai lembut bahu putri bungsunya, Pak Aris yang duduk di sofa ruangan juga mengangguk mengerti. Sementara di sudut ruangan, Gibran hanya menatap Ashana dengan pandangan yang sulit diartikan. Senyum tipis terukir di bibirnya. Namun, matanya memancarkan keraguan yang sangat jelas. "Ya sudah, yang penting kamu selamat sampai di sini Nak," ujar Bu Mita lembut. "Gibran dari tadi cemas nungguin kamu, Cha." Gibran melangkah mendekati Ashana, memotong jarak di antara mereka. Tangan kanannya terulur, mengusap lembut helai rambut Ashana yang sedikit berantakan lalu menyangkutkannya di belakang telinga sang istri. "Lain kali kalau mau pergi s
Ashana menghela napas panjang, menatap Dewa dengan tatapan penuh keputusasaan yang tertahan. Kebenaran yang baru saja didengarnya bagaikan potongan teka-teki berbahaya yang sengaja disembunyikan."Terima kasih atas informasinya, Mas Dewa," ucap Ashana lirih. "Tolong segera kabari saya kalau Mas Dewa dapat kabar sekecil apa pun entah dari polisi atau saksi lainnya.""Pasti, Sha karena saya juga mau keadilan untuk Aliyah tapi tolong kamu hati-hati ya. Kalau memang ini tabrak lari yang disengaja, pelakunya mungkin masih memantau situasi," pesan Dewa dengan raut khawatir sebelum akhirnya mereka berpisah di depan kafe.Keesokan harinya setelah pulang magang sore itu, bukannya langsung beristirahat atau menjenguk Kakaknya. Ashana justru memulai misi rahasianya, langkah pertamanya adalah mendatangi kembali kafe milik Dewa tempat kakaknya bekerja. Kemacetan jalanan sore itu tidak menyurutkan keberanian gadis itu.Di sana, Ashana berhasil menemui Noval, pegawai kafe yang menjadi saksi mata kun
Setelah dua hari berturut-turut menginap di rumah sakit, Ashana akhirnya menyerah. Ibunya bersikukuh, memaksa agar malam ini beliau saja yang menjaga Aliyah, putri sulungnya."Kamu pulang saja dulu Nak beristirahat, biar Ibu yang tunggu Kakakmu malam ini," ucapan Ibunya beberapa jam lalu masih terngiang diingatan Ashana.Ashana melangkah masuk ke dalam rumah. Tubuhnya terasa begitu berat, otot-ototnya kaku menahan pegal. Sesampainya di dalam rumah, ia langsung melangkah ke kamar mandinya membersihkan tubuhnya sejenak, dan setelah itu menyiapkan air hangat untuk suaminya. Gibran selalu terbiasa membersihkan diri dengan air hangat jika harus mandi larut malam setelah seharian lelah beraktivitas dan Ashana sudah terbiasa melakukan itu."Air hangatnya sudah siap, Mas," ujar Ashana pelan ke Gibran yang tengah duduk di tepi tempat tidur.Gibran menatap istrinya sejenak. "Terima kasih, Ashana. Istirahatlah sekarang, muka kamu lelah sekali.""Nanti saja Mas, aku mau ke dapur dulu," balas Asha
Seorang pria tengah berjalan di koridor rumah sakit, tangannya ada kantongan plastik berisi makanan hangat baru saja ia beli dari kantin bawah. Begitu sampai pintu ruang perawatan VIP dibuka, pemandangan pertama yang ia lihat, Ashana yang sedang duduk di samping tempat tidur Aliyah.Wajah Ashana tampak pucat, lingkaran hitam samar membayang di bawah matanya.Sudah dua hari Ashana izin tidak masuk magang karena menjaga Aliyah."Istirahat, jangan sampai kamu yang ikut drop karena memaksakan diri begini," ujar Gibran pelan, berjalan mendekat lalu meletakkan makanan di meja kecil dekat sofa.Ashana mendongak. "Pekerjaanmu sudah selesai Mas?" "Iya, hanya meeting tadi dan berjalan lancar jadi saya bisa pulang lebih cepat, selebihnya saya berikan ke Rio untuk menyelesaikannya," jawab Gibran."Makan dulu, saya sudah membelikan kamu makanan," ujar Gibran lagi.Ashanaa mengusap telapak tangan Aliyah yang masih terbaring lemah dengan selang-selang medis menempel di tubuhnya. "Saya belum lapar,
Dea tertegun mendengar pertanyaan Rio tapi ia akhirya mengangguk pelan dengan raut wajah kaget yang sebisa mungkin ia sembunyikan. Matanya melirik bergantian ke arah Gibran dan Ashana yang berdiri membisu di depan pintu IGD. Tak lama kemudian, derap langkah kaki lain terdengar mendekat. Dua sosok paruh baya berpenampilan bersahaja tetapi berwibawa melangkah cepat menuju koridor tersebut. Mereka adalah orang tua Gibran yang langsung meluncur ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar mendadak dari putranya.Suasana di lorong dingin itu mendadak hening dan sarat akan kecanggungan.Ayah dan Ibu Ashana seketika menunduk, diselimuti rasa malu dan bersalah yang mendalam saat berhadapan langsung dengan besan sekaligus mantan calon mertua dari putri sulung mereka. Mereka untuk pertama kalinya akan bertemu Aliyah setelah acara kaburnya beberapa bulan yang lalu.Namun, alih-alih meluapkan amarah atau memunculkan ketegangan lama, Mamanya Gibran justru melangkah mendekat dan merangkul erat Ibu Asha
Tubuh Ashana terasa membeku seketika. Suara sirene dari telepon seolah berpindah, mengaung-ngaung di dalam kepalanya sendiri. Pegangannya pada gagang ponsel melonggar, matanya membelalak menatap kosong ke arah deretan mobil di parkiran yang remang."Rumah sakit mana Mas Dewa?" bisik Ashana dengan suara yang bergetar hebat. Bibirnya terasa begitu kelu hingga untuk mengeja satu kata saja rasanya seperti menelan duri."Rumah Sakit Medika, Ashana! Segera ke sini!"Panggilan itu langsung terputus sepihak, menyisakan suara tut-tut-tut yang memekakkan telinga. Ponsel di genggaman Ashana hampir saja merosot jatuh ke aspal jika Dea yang baru keluar dari pintu lobi tidak cekatan menangkapnya."Acha, kamu kenapa? Muka kamu pucat banget!" Dea memegang kedua bahu sahabat sekaligus rekan kerjanya itu dengan cemas. Ia bisa merasakan tubuh Ashana bergetar hebat bagai dihantam angin kencang."Dea, Kak Aliyah... Kak Aliyah ditabrak." air mata Ashana langsung pecah. Ia bahkan tidak sanggup melanjutkan
2 keluarga itu baru tau kalau ternyata, Ashana dan Gibran sudah saling kenal. Mereka ternyata bos dan anak magang di kantor setelah mengintrogasi sebentar.Setelah introgasi mendadak selesai, baru akan dilakukan pemasangan cincin nikah. Kedua keluarga inti sudah berada di dalam kamar untuk menyaksi
Subuh-subuh Ashana, sudah bangun lebih awal dari biasanya. Setelah mandi, ia bersiap menuju kamar kakaknya untuk melihat persiapan sang kakak.Namun, langkah kakinya terhenti kala melihat orang tuanya, om dan tantenya kini duduk melingkar di ruang keluarga lantai 2. Ashana dengan ceria dan semangat
Gibran langsung menjauhkan wajahnya dengan tenang dari Syakilla saat Rio memergoki mereka. Sementara Ashana terus menunduk malu seakan baru ketahuan berbuat mesum padahal tidak terjadi apa-apa."Maaf Bos, saya mengganggu. Cuman mau mengantar kopi ini saja," ujar Rio menggaruk kepalanya yang tak gat
Seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama, Ashana melangkah memasuki gedung pencakar langit dengan buru-buru. Ia memperlihatkan sebuah id card yang tergantung di lehernya ke satpam, tanda ia sudah punya akses untuk masuk.Setelah berhasil masuk, ia langsung mencari toilet karena saat ini ia kebel







