Pak Jefri menghela napas berat, lalu menatapku seperti sedang menahan emosi. "Ponsel ini memang buat kamu, Erika. Saya hanya salah bicara sama menejer, dan bilang... kamu adalah pacar saya.""Hah. Apa?" tanyaku dengan tubuh membeku. Pipiku menghangat, bibirku memaksa untuk tersenyum. Tapi, aku berhasil menahannya dan langsung membuang muka. "K-kenapa nggak bilang dari tadi," gumamku lirih seolah sedang protes.Jauh dalam lubuk hati terdalam, aku suka disebutnya sebagai pacar. Dan aku senang mengetahui fakta bahwa, pak Jefri benar-benar berniat membelikan ponsel ini untukku. Bukan mendapat bekas Dita seperti yang aku pikirkanPak Jefri beranjak dari sofa. "Ya sudah, saya akan membayar. Kamu boleh tunggu di mobil duluan." Aku juga beranjak dari sofa sambil mengangguk pelan. Kemudian, pak Jefri memberikan kontak mobilnya padaku. "Ini kontaknya. Langsung nyalakan saja, biar nggak panas.""Iya..." sahutku dengan lembut sambil tersenyum.Pak Jefri keluar dari ruangan itu, diikuti oleh p
Last Updated : 2025-11-19 Read more