Rionaldo tidak langsung menuju Balai Agung, langkahnya justru berbelok ke arah yang jarang ia datangi sejak dewasa medan latihan istana.Tanahnya masih sama,pasir kasar bercampur kerikil, dipenuhi bekas tapak sepatu dan goresan bilah besi,di tempat inilah para pangeran dahulu belajar jatuh, bangkit, dan berdarah tanpa gelar,di sinilah luka tidak bisa disembunyikan dengan kata-kata.Beberapa prajurit sedang berlatih saat Rionaldo tiba,mereka berhenti sejenak, memberi hormat singkat terlalu cepat, terlalu hati-hati,semua orang kini bergerak seolah setiap gestur bisa dibaca sebagai sikap.Di tengah lapangan, Lucas berdiri dengan pedang di tangan,keringat membasahi pelipisnya, napasnya berat,iIa tidak sedang bertarung, Ia sedang melampiaskan.Setiap ayunan pedang menghantam tiang kayu dengan bunyi keras, seolah tiang itu mewakili sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan.“Kau akan mematahkan kayu itu,” ujar Rionaldo.Lucas berhenti,tapi t
Terakhir Diperbarui : 2026-01-16 Baca selengkapnya