Dias berdiri lama di depan gerbang utama istana. Udara pagi masih dingin, tapi dadanya justru terasa panas. Rasanya campur aduk: rindu, takut, gugup, berharap, dan sedikit menahan marah. Sudah sekian waktu ia pergi, dan kini ia kembali dengan luka yang belum benar-benar sembuh.David turun dari sisi lain mobil dan mendekatinya pelan. “Pelan-pelan aja, sayang,” katanya. “Kamu nggak perlu mikirin apa pun dulu.”Dias mengangguk, meski pikirannya justru berlarian ke mana-mana. Ia menarik napas, lalu melangkah melewati gerbang itu.Beberapa pelayan menyambut, sebagian terlihat lega, sebagian terlihat canggung. Ada beberapa yang menunduk terlalu lama, ada yang terlihat ragu untuk mendekat. Dias menyadari semuanya. Dan itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.Ia masuk ke aula utama. Lampu-lampu gantung masih sama, aroma wewangian bunga masih sama, meja-meja di sisinya masih sama. Tapi tetap saja, sesuatu terasa berubah.Sesuatu yang tidak ia suka.Perasaannya makin kuat ketika ia tiba di la
Huling Na-update : 2025-11-22 Magbasa pa