Malam makin larut, tapi kepala David rasanya justru semakin berat. Ia tidak tahu berapa lama ia duduk di ruang kerjanya, hanya menatap meja, memegang pelipis yang berdenyut seperti dipukul dari dalam.Pintu diketuk pelan. Tok... tok“Sayang, aku boleh masuk?”Suaranya Dias, lembut tapi terdengar hati-hati.David menutup mata sejenak. Ia tahu ia tidak siap. Tapi ia juga tahu Dias berhak tahu.“Masuklah,” jawabnya pelan.Dias masuk pelan, menutup pintu perlahan. Ia melihat David yang duduk membungkuk, wajah letih.“Kau kelihatan lelah sekali,” ucap Dias, mencoba tersenyum tapi gugup. “Ada yang ingin kau ceritakan?”David ingin mengatakan tidak. Ingin menunda. Ingin berpura-pura semuanya baik-baik saja.Tapi tatapan Dias, membuatnya tak bisa lari.Dias duduk di depannya, mencondongkan tubuh.“Apapun itu, katakan padaku,” ucap Dias. “Aku ingin tahu. Aku butuh dan berhak tahu.”David menghela napas. Dan itu saja sudah membuat hati Dias berdebar.“Dias, istriku,” ucap David. “Ada sesuatu ya
Last Updated : 2025-12-02 Read more