Dias sudah duduk diam hampir satu jam di kamar David, tapi pikirannya tak diam sama sekali. Kata-kata David masih membekas di telinganya, pelan, bergetar, tapi jujur."Yang menyuruh Aruna waktu aku di luar negeri itu Ibu."Sejak itu, perasaannya seperti ditarik dari segala arah. Kesal, sedih, kecewa, malu, semua menumpuk jadi satu. Dan semakin lama, dadanya semakin terasa sesak.David yang menatapnya pun seperti nggak tenang.“Sayang, kamu nggak harus mikirin ini sendirian,” ucap David pelan, mencoba meraih tangannya. "Aku akan selalu ada di sisimu."Dias menarik napas dalam-dalam. “Aku cuma nggak ngerti. Kenapa Ibu harus sampai sejauh itu, David? Aku udah berusaha nurut, jaga sikap, dan jaga nama keluarga. Tapi ternyata dari awal Ibu memang nggak suka sama aku.”David merasa bersalah.Dan entah dorongan apa yang membuat Dias berdiri tiba-tiba.“Sayang, kayaknya aku harus ketemu sama Ibu,” kata Dias.David langsung refleks bangkit. “Sayang, jangan. Ibu lagi dalam keadaan yang tidak ba
Last Updated : 2025-12-03 Read more