Tiga hari kemudian, skenario yang telah disusun dengan cermat oleh Sriti dipentaskan dengan sempurna, tak menyisakan celah sedikit pun. Malam itu, embun tebal menggantung di pucuk pepohonan.Di pinggir hutan yang teduh, mengarah langsung ke persembunyian rahasia di Poh Gading, Wulung sedang giat berlatih olah pedang bersama kedua rekannya, Mahesa Seta yang tegap, dan Sekar Wangi yang gesit. Keringat membasahi dahi mereka, disela bunyi bilah pedang yang berdesing membelah udara malam yang sepi. Tiba-tiba, di tengah rentetan gerakan itu, Wulung menghentikan pedangnya, intuisi kesatrianya mencengkramnya. Ia melihat sesuatu yang bergerak di balik semak-semak lebat, sesuatu yang tampak ganjil di antara pepohonan yang membatasi persembunyian mereka.“Lihat! Ada seorang gadis terluka di sana!” kata Wulung, refleknya yang cepat tanggap mengambil alih, keprihatinan muncul di wajahnya. “Dia masih hidup, Mahesa. Kita harus menolongnya!”Mahesa Seta,
Terakhir Diperbarui : 2025-11-17 Baca selengkapnya