Di dalam peraduan yang diwangikan oleh semerbak boreh, cendana, dan daun nilam, udara malam terasa hening mencekam. Bukanlah kedamaian yang menyelimuti bilik permata Ron Ayu, melainkan penantian sunyi akan hari-hari yang baru setelah gemuruh perang usai. Sang Putri, yang baru beberapa minggu lalu melahirkan sepasang permata yang amat dinantikan, sejatinya hendak memejamkan mata, membiarkan kelelahan nifas membawanya pada mimpi-mimpi indah yang selama ini direnggut kegelisahan perang. Setiap hela napas terasa berat, namun ia memaksa raga untuk tenang, demi pemulihan dan demi kedua buah hatinya. Namun, keheningan itu mendadak terusik, bukan oleh angin malam atau jangkrik di luar, melainkan oleh kemunculan seorang dayang tua, Surani namanya, yang kini berdiri di ambang pintu peraduan.Wajahnya pucat pasi bak kapur barus, dengan napas tersengal-sengal, memutus damai yang semu. Mata tuanya yang biasanya jernih kini diliputi kabut ketakutan yang mendalam. Langkahnya tertatih, seolah membawa
Terakhir Diperbarui : 2026-02-20 Baca selengkapnya