Anetta berjalan memasuki kamarnya. Tangannya merogoh ke dalam tas, dan mengeluarkan kotak beludru dari dalam sana. Senyum smirk tercipta dari sudut bibirnya, ketika ia membuka kotak itu. Sebuah cincin milik Bram, yang ia ketahui di kantor tadi. Kini sudah berpindah ke apartemen Anetta. Matanya menyoroti benda itu tajam, tapig tetap di tangan Anetta untuk beberapa detik yang terasa terlalu panjang. Nafasnya menahan diri seolah sedikit saja ia bergerak, sesuatu akan pecah. Anetta lalu menelungkupkan kotak itu kembali, menutup rapat-rapat, seperti orang sedang mencoba menahan rahasia yang bukan miliknya tapi entah kenapa… sangat mempengaruhinya. Jari Anetta bergetar pelan. Ia mendorong kotak itu ke sudut meja dengan cepat, bahkan terlalu cepat, dan juga terlalu defensif. “Kenapa kamu panik sih, Ta? Itu cincin orang,” gerutu otak Anetta. Tapi jantungnya membalas dengan suara lebih lirih, lebih jujur... “Kalau benar cincin orang… kenapa rasanya sesak?” Anetta menelan ludah kasar. Tida
Last Updated : 2025-12-02 Read more