Sinar matahari pagi di kota Solterra menyelinap masuk melalui jendela besar kamar VVIP, namun kehangatannya tidak mampu mencairkan ketegangan kecil yang terjadi di sana. Amara, dengan wajah yang mulai merona sehat, menatap Darian dengan sorot mata penuh permohonan. "Mas, aku benar-benar sudah merasa sehat. Aku tidak ingin berlama-lama menghirup aroma antiseptik ini," ujar Amara, mencoba merayu suaminya. "Aku mohon Mas, biarkan aku pulang ya..." Darian, yang sedang berdiri tegak dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menggeleng tegas. "Tidak. Dokter Park bilang kau butuh observasi setidaknya dua hari lagi, Amara. Jangan keras kepala." "Observasi bisa dilakukan di mana saja, bukan? Bau antiseptik ini membuatku mual. Aku ingin menghirup udara yang bukan udara rumah sakit," bantah Amara lembut namun gigih. Ia tahu Darian memiliki sisi lembut jika ia terus mendesak. Darian menghela napas panjang, menatap wanita di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan, ca
Last Updated : 2025-12-25 Read more