Djiwa membulatkan matanya, terkejut. “Ma-maksud Anda apa, Pak?” tanyanya terbata, refleks. Belum sempat Dante menjawab, pintu ruang tamu terbuka. Radja kembali masuk, langkahnya tenang namun auranya berubah. Masker langsung dikenakan kembali menutupi wajahnya. “Tidak ada maksud apa pun,” ujar Dante santai. “Saya hanya berpikir Mbak Djiwa terpesona pada saya.” Nada suaranya ringan, seperti bercanda. “Soalnya tadi, saat masker saya buka … Anda menatap saya tanpa berkedip.” Radja berhenti melangkah. Alisnya mengerut tipis. Djiwa tersenyum kaku. “Maaf, Pak, kalau reaksi saya terkesan tidak sopan,” ucapnya cepat, berusaha profesional. “Bukan karena hal lain. Saya hanya merasa wajah Bapak … tidak asing.” Ucapan itu membuat rahang Radja mengeras. Tanpa komentar, ia menjatuhkan diri di sofa, tepat di sisi Djiwa. Satu kakinya disilangkan di atas yang lain, posturnya rapi, wibawanya tak terbantahkan. Dominan dan penuh otoritas. Tatapan Radja beralih pada Dante. “Sepertinya ada ha
Last Updated : 2026-01-16 Read more