Radja menutup pintu di belakangnya dengan tenang. Tatapannya jatuh pada Karin, tajam, dingin, dan sulit dibaca. Beberapa detik ia hanya berdiri di sana, membuat suasana ruangan terasa semakin tegang. “Kamu sibuk?” tanya Radja akhirnya. Karin menggeleng cepat. “Tidak, Mas, silakan duduk.” Radja tidak langsung duduk. Ia justru berjalan pelan mendekati meja Karin. Tatapannya sekilas jatuh pada beberapa berkas pasien di meja itu. “Jadi …,” gumamnya pelan, nadanya terdengar nyaris santai. “Kamu bidan yang membantu persalinan istri saya dulu, saat melahirkan ketiga anak kembar saya?” Karin sedikit mengangguk, meski dadanya mulai terasa tidak nyaman. “Iya, Mas.” Radja tersenyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak terasa hangat. “Menarik,” ujarnya pelan. Karin mulai menelan ludah. Radja kemudian melanjutkan dengan nada yang terdengar nyaris seperti pujian, namun sarat sindiran. “Saya baru tahu, ternyata ada bidan yang tidak memberitahu pasiennya tentang konsekuensi medis yang
Read more