Seketika raut wajah Fairish berubah. “Apa?” napasnya tercekat. Tanpa menunggu lebih lama, ia langsung bergegas keluar kamar, langkahnya cepat menyusul Regan menuju kamar anak-anak. Pintu kamar terbuka. Di atas ranjang, Ratu terbaring lemah. Wajah kecilnya pucat, keningnya basah oleh keringat. Tubuhnya meringkuk di balik selimut, sementara napasnya terdengar tidak teratur. “Mommy … Daddy ….” lirihnya pelan, hampir seperti mengigau. Hati Fairish langsung mencelos. “Ya Tuhan …,” gumamnya, buru-buru menghampiri. Tangannya menyentuh kening Ratu, panas. “Ratu sayang … ini Tante di sini,” ucapnya lembut, berusaha menenangkan meski jantungnya sendiri berdebar kencang. Binar yang berdiri di dekat pintu langsung mendekat, matanya mulai berkaca-kaca melihat sepupunya. “Ratu kenapa, Ma?” suaranya lirih, nyaris menangis. Fairish menoleh sekilas, mencoba tetap tenang. “Gak apa-apa, Nak … cuma demam.” Namun kalimat itu terasa seperti menenangkan dirinya sendiri. Di sisi lain, Naren berdi
Read more