Tapi, Nayla menginginkan lebih dari itu saja.Dia tidak perlu kompromi, dan tidak ada alasan baginya untuk kompromi."Jadi, kamu nggak ingin cerai?" Nayla mendesak lebih jauh, matanya bertemu dengan tatapan gelap dan intens pria itu.Mata itu sehitam laut yang dalam, sulit dibaca, tapi tanpa ketajaman yang biasa dia tujukan pada orang lain.Sebaliknya, Nayla dapat merasakan mata itu lembut dan penuh kasih sayang.Tanpa ragu sedikit pun, Simon berkata dengan tegas, "Nggak, selamanya aku nggak akan mau."Dia menggenggam tangan Nayla, tatapannya tertuju pada jari manis tempat cincin berlian telah lama dilepas. Alisnya berkerut, matanya menjadi semakin dalam."Kamu ingin cerai?"Nayla menatap balik.Tatapan mereka saling bertaut, seperti benang-benang yang menarik hatinya.Harus dia akuiKeteguhan Simon menghantam dadanya seperti palu. Bukan menyakitkan, hanya membawa kepuasan rahasia."Nggak."Kata-kata itu meluncur dengan mudah dari bibir Nayla. Dia hanya ingin mengikuti kata hatinya.Si
Read more