Dan kini, awan gelap di hatinya benar-benar sirna, yang tersisa hanya kehangatan."Kenapa menatapku begitu? Ada apa di wajahku?"Nayla tiba di depan Simon. Melihat Simon menatapnya tanpa berkedip, dia bertanya terheran-heran.Simon menyadarkan dirinya kembali, memandangi wajah Nayla, dan senyum lembut muncul di matanya."Nayla, kamu nggak berubah sama sekali, masih tetap kamu.""Ah?"Nayla semakin bingung, tidak mengerti apa yang dia katakan.Simon tidak bicara lagi. Dia membuka pintu mobil dan mempersilakannya masuk.Setelah masuk ke dalam mobil, Ben bertanya, "Nyonya, mau ke mana?"Nayla menyebutkan sebuah alamat, dan Ben langsung mengemudi ke sana.Simon menyadari alamat itu berada di dekat Universitas Hanka. Dia meraih tangan Nayla, jari-jari mereka saling bertautan erat, lalu menoleh menatapnya."Bukannya kita mau makan?""Iya, aku traktir kamu makan makanan enak."Nayla tersenyum memperlihatkan giginya yang cemerlah, secerah bunga yang mekar dengan ceria.Seolah tersihir, Simon t
Read more