Angin malam berembus masuk melalui celah jendela kayu rumah tua yang kini terasa begitu luas dan kosong. Aroma dupa dan sisa air mawar masih tertinggal di udara, berbaur dengan suasana sunyi yang menyesakkan. Para pelayat telah pulang, menyisakan piring-piring kecil yang belum sempat dirapikan dan kursi-kursi plastik yang bertumpuk di halaman depan.Di ruang tengah, Sira duduk bersimpuh di atas karpet tipis, diapit oleh Dinda dan Lisa yang menyandarkan kepala di bahunya. Mata kedua adiknya sembap, kelelahan setelah menangis seharian. Di hadapan mereka, Tante Rani dan suaminya, Om Rudi, duduk dengan wajah tegang. Sementara itu, Prabu Sagara duduk sedikit menjaga jarak di dekat pintu, kehadirannya yang tenang memberikan sedikit rasa aman di tengah badai yang belum reda."Sira," suara Om Rudi memecah keheningan, terdengar berat. "Tadi di depan, Om dengar pembicaraan orang-orang kampung. Gosip itu... sudah tidak bisa dibendung lagi. Mereka terus saja membicarakan mu, bahkan menghubungkann
Read more