Kesadaran Sira kembali setitik demi setitik, seperti cahaya lampu yang perlahan benderang di tengah kegelapan total. Hal pertama yang ia rasakan adalah aroma antiseptik yang menyengat, lalu rasa perih yang menjalar di perut bagian bawahnya. Namun, semua rasa sakit itu mendadak sirna ketika ia merasakan sebuah sentuhan hangat di puncak kepalanya.Sebuah tangan besar membelai lembut kain kerudungnya yang sedikit berantakan."Sira... Ra, ini aku," bisik suara itu. Berat, serak, dan penuh dengan emosi yang sulit diartikan.Sira mengerjapkan matanya berulang kali. Bayangan di depannya perlahan menjadi jelas. Wajah tegas itu, mata elang yang kini tampak merah dan basah, serta garis rahang yang sangat ia kenali. Sira tertegun, bibirnya bergetar."Gavin?" gumam Sira tak percaya. "Aku... aku pasti sedang bermimpi, kan?"Gavin menggeleng pelan, ia menangkap jemari Sira yang dingin dan menempelkannya ke pipinya sendiri, seolah ingin membuktikan bahwa ia benar-benar nyata. "Gak, Ra. Kamu gak mimp
Read more