Angin malam di taman rumah sakit itu mendadak terasa lebih tajam, menusuk hingga ke tulang, namun Gavin tetap bergeming di atas kursi rodanya. Pandangannya masih terpaku pada pintu otomatis IGD yang baru saja menelan sosok wanita bernama Sira dan pria yang membopongnya. Nama itu. Satu kata yang terdiri dari empat huruf, nama yang mampu menciptakan guncangan hebat di rongga dadanya, sebuah resonansi yang terasa akrab namun tak ada dalam ingatannya."Mas Gavin?"Sebuah suara lembut memecah lamunannya. Gavin sedikit tersentak, menolehkan kepalanya yang masih terasa berat ke arah sumber suara. Raina berdiri di sana, mengenakan kardigan rajut berwarna krem, wajahnya memancarkan kecemasan yang tulus. Ia baru saja kembali dari toilet."Kita balik ke kamar, Mas? Udara malam tidak baik untuk pemulihanmu," ujar Raina sambil melangkah mendekat, tangannya dengan terampil memegang kemudi kursi roda untuk memutar posisi Gavin. Namun, ia terhenti saat melihat ekspresi suaminya. "Ada apa, Mas? Kok k
Read more