Selasa pagi menyapa dengan langit yang sedikit mendung, seolah alam pun masih enggan tersenyum pasca badai duka yang menghantam Sira. Bagi dunia, ini hanyalah hari biasa. Namun bagi Sira, ini adalah hari pertama ia berdiri sebagai kepala keluarga, sekaligus hari pertama ia memulai sandiwara baru di depan adik-adiknya. Di meja makan kecil rumah minimalis itu, Sira menatap Dinda dan Lisa yang sedang menyantap nasi goreng buatannya. Suasana masih sunyi, hanya denting sendok yang terdengar. "Din, Lisa... Mbak berangkat kerja dulu, ya," ucap Sira sambil merapikan tas kerjanya yang terasa lebih berat karena berisi tumpukan map lamaran dan laptop. Dinda menoleh, matanya masih tampak sedikit bengkak. "Mbak sudah kuat masuk sekolah? Apa nggak sebaiknya ijin dulu satu atau dua hari lagi?" Sira memaksakan sebuah senyum tipis, senyum palsu yang tidak sampai ke mata. "Mbak harus masuk, Din. Banyak tugas yang menumpuk. Kamu di rumah jaga Lisa, ya. Kalau mau masak, pakai saja bahan yang ada di
Read more