Langkah kaki Sira terhenti tepat di depan pintu kayu rumahnya. Ia mematung, menatap gagang pintu itu dengan tatapan yang sulit diartikan, pikirannya berkecamuk antara rindu, benci, dan rasa sesak yang menghimpit dada. Prabu, yang berdiri di sampingnya sambil membawakan tas perlengkapan Sira, menyadari perubahan sikap wanita itu. Bagi orang lain, ini mungkin hanya rumah. Namun bagi Sira, setiap inci bangunan ini adalah kenangan dan beban yang menyiksa. Rumah ini adalah milik Gavin. Tapi setelah Gavin melupakannya, masihkan ia memiliki mbak untuk tetap tinggal di rumah ini? Bagaimana jika keluarganya tahu? Bagaimana kalau Raina tahu? Sira ingin lari. Ia ingin menghilang dari radar keluarga besar Gavin. Namun, setiap kali keinginan itu muncul, ada denyut halus di rahimnya yang mengingatkan bahwa pelariannya tidak akan pernah membuatnya bebas. Ia masih membawa separuh dari diri Gavin di dalam tubuhnya. "Ada apa, Ra?" tanya Prabu, suaranya sarat akan kekhawatiran. Sira menggeleng lemah
Read more