Alessia merasa dunianya runtuh. Kata-kata Evelyn bukan sekadar penghinaan, itu adalah kenyataan pahit yang selama ini ia takutkan. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mencoba melepaskan jemarinya dari kaitan tangan Ethan. Ia ingin lari, kembali ke toko bunganya yang kecil, tapi aman, jauh dari sikap dingin yang membuatnya merasa tak berharga. “Ethan, biarkan aku pergi... beliau benar, aku tidak pantas di sini,” bisik Alessia dengan suara yang parau oleh tangis. Namun, Ethan justru menariknya kembali. Genggamannya tidak lagi sekadar erat, tapi mengunci. Ethan menarik Alessia ke belakang punggungnya, menjadikannya tameng hidup. Dadanya naik turun dengan cepat, namun ia masih berusaha sekuat tenaga untuk tidak meledak di depan wanita yang telah melahirkannya itu. “Mama, dia tamu di sini. Dan dia adalah wanita yang aku cintai. Aku harap Mama bisa menjaga lisan,” ucap Ethan. Evelyn tertawa kecil, suara tawa yang jernih namun terdengar sangat mengejek. Ia kembali menyesap tehnya se
Terakhir Diperbarui : 2026-01-21 Baca selengkapnya