Ruangan VIP yang ditempati Luna mulai di penuhi aroma makanan yang baru datang. Luna tengah bersandar lemah di ranjang dengan wajah pucat, tapi jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.Serena duduk di samping ranjang, memegang mangkuk sup. Dengan penuh perhatian, ia meniupnya sebelum menyuapkan ke arah Luna. “Pelan-pelan, saja,” ucapnya. Luna sempat ragu, matanya melirik ke arah Rion sekilas, seolah meminta izin. Rion yang berdiri tak jauh dari sana hanya mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya. Bukannya apa, ia masih bingung harus bagaimana setelah status barunya di akui ibu mertuanya. “Buka mulutmu,” kata Serena.Luna akhirnya mengikuti, menerima suapan itu. “Terima kasih… Bu,” ucapnya malu-malu.“Kamu tidak perlu sungkan. Mulai sekarang, kamu bagian dari keluarga ini,” ujar Serena. Ucapan itu membuat dada Luna terasa hangat. Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, hampir membuatnya ingin menangis.Di sisi lain ruangan, Rion berdiri
Baca selengkapnya