Sebuah rumah kecil berdiri di sudut jalan yang sepi, jauh dari hiruk pikuk pusat kota. Dindingnya berwarna putih, dengan jendela-jendela tinggi khas bangunan lama di London. Tidak mewah, tetapi cukup layak untuk ditinggali.Luna berdiri beberapa saat di depan pintu, tangannya menggenggam kunci yang baru saja ia terima. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, ditambah luka batin yang belum sempat pulih, membuat pikirannya kosong. Ia memasukkan kunci dan memutarnya.Saat pintu terbuka, Luna disambut ruangan yang tidak terlalu besar, lantai yang bersih, sofa kecil di sudut, dapur mungil yang menyatu dengan ruang utama, serta sebuah kamar di bagian belakang. Tidak luas, tetapi rapi. Jauh dari kesan kumuh. Luna menutup pintu di belakangnya, lalu bersandar sejenak.Sunyi.Sejak dulu, ia sudah terbiasa sendirian meski tinggal bersama pamannya, tapi sekarang kesendirian ini begitu menyiksanya. Seakan semangatnya untuk hidup hilang begitu saja. Air matanya jatuh lagi tanpa suara. Tapi
Read more