Suaranya terbelah oleh gemuruh sungai. Air menghantam dadanya, memaksa napasnya tersendat. Di tengah arus yang mengamuk, Divrio hanya menoleh. Mata bocah itu membesar, bibirnya bergetar, namun tak satu pun kata keluar. Ia terlalu fokus bertahan, terlalu takut bahkan untuk menjawab.“Divrio… lihat Ayah,” suara Dirian melemah sesaat, bukan karena arus, tapi karena ketakutan yang menyelinap tajam ke dalam dadanya.Raungan keras tiba-tiba mengguncang udara.Beruang itu, seolah terusik oleh panggilan Dirian mengangkat kepalanya dan mengaum panjang. Suaranya memantul di dinding-dinding es, menggema seperti lonceng kematian. Dirian mengertakkan gigi, amarah menyala di matanya.“Sialan…” gumamnya. “Kalau kau mau sesuatu, ambil aku saja.”
Last Updated : 2025-12-26 Read more