Selene menahan senyum. Ia menyaksikan pemandangan itu dengan dada yang terasa hangat sekaligus nyeri, dua anak yang tertawa tanpa beban, dan seorang ayah yang berpura-pura dingin, padahal perhatiannya selalu ada.Di tengah api unggun, daging gosong, dan percakapan kecil yang tampak sepele, Selene menyadari betapa rapuh sekaligus berharganya momen ini.Dan untuk sesaat, ia berharap waktu bersedia berhenti di sini.Hari-hari berlalu dengan ritme yang tampak sama, nyaris menipu, seolah dunia memberi mereka jeda. Namun ketenangan itu rapuh. Beberapa meter dari pondok Lamina, berdiri sebuah altar sederhana yang sebelumnya tidak ada. Susunan batu-batu rendah membentuk lingkaran kasar, dan di sekelilingnya stigma terukir dengan goresan tegas, dilukis menggunakan darah yang masi
Last Updated : 2025-12-29 Read more